
"Kamu wanita pertamaku, Els!" bisik Robin di telinga Elsa sembari menggerakkan bagian bawah tubuhnya dengan begitu lembut. Elsa terhenyak mendengar pengakuan Robin, dari perilaku kasar dan tak bermoralnya, Elsa tidak percaya jika ia adalah wanita pertama Robin. Elsa menatap Robin yang saat ini sedang memejamkan mata, menikmati setiap hentakan lembut yang ia lakukan.
Elsa juga bingung, ini adalah pemerkosaan tapi Robin bergerak sangat lembut.
Seolah bisa merasakan tatapan Elsa, Robin pun membuka mata dan tatapannya bertemu dengan tatapan Elsa yang menyiratkan kemarahan. Robin tak perduli, ia mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Elsa, menghirup aroma manis yang semakin memancing hasrat Robin, Robin mengendus leher Elsa, mengecup, mencium, menjilat bahkan menghisap dan menggigit setiap inci leher hingga dada Elsa, meninggalkan jejak basah dan kemerahan. Robin sangat menikmatinya, sementara Elsa merasa begitu jijik dan sayangnya ia tak memiliki kekuatan untuk melepaskan diri. Elsa hanya bisa menangis dan berharap semua ini hanya mimpi.
Robin terus memacu diri, mencari kenikmatan seorang diri hingga akhirnya ia mulai merasakan ototnya menegang, tubuhnya mengejang. Robin mempercepat gerakannya membuat tubuh Elsa terlonjak, suara percintaan terdengar ke seluruh penjuru kamar Robin, geraman nikmat Robin dan erangan tertahan Elsa beradu.
"Kamu benar-benar menjepitku, Els. Tubuhmu menerimaku, dia menyambut." racau Robin yang kini mulai bergerak tak terkontrol, Elsa benci mendengar apa yang Robin katakan namun ia tak bisa mengelak bahwa apa yang di katakan Robin juga benar, tubuhnya menyambut sentuhan Robin padahal hati dan fikiran Elsa telah menolaknya bahkan mengutuknya.
"Egghhh,"
"Ouch," erang Elsa tak terkendali saat Robin mempercepat gerakannya. Erangan Elsa bagai melodi penyemangat yang mengalun indah ditelinga Robin, ia kembali memacu dirinya lebih cepat dan lebih cepat lagi. Tubuh keduanya basah mengkilap karena keringat.
"Apa yang kamu lakukan, Els. Aku tidak tahan," racau Robin yang semakin merasa terhimpit di bawah sana, Elsa pun bisa merasakan bahwa Robin pun akan segera sampai, di bawah sana semakin terasa sesak dan penuh, bahkan Robin memasukinya terlalu dalam, sangat dalam, membuat Elsa kembali menjerit antara tangis kemarahan dan erangan kenikmatan.
"Aku mohon..." lirih Elsa kemudian saat kesadarannya kembali, ia berkata dengan terbata-bata "Aku mohon, keluarkan itu, Robin. Jangan di dalam, aku ... aku mohon." Elsa meminta dengan begitu memelas. Namun Robin tak mengindahkan permintaan Elsa, melihat Elsa yang begitu pasrah di bawahnya, dengan wajah yang basah karena air mata dan keringat justru semakin mengobarkan api hasrat Robin dalam jiwanya. Elsa terlihat sangat seksi, indah dan menggoda.
Robin sudah sangat dekat begitu juga dengan Elsa, keduanya akan sampai dan Elsa tetap memelas pada Robin namun beberapa detik kemudian teriakan nikmat Robin terdengar ke seluruh penjuru kamar bersamaan dengan semburan hangat yang memenuhi inti tubuh Elsa bahkan Elsa bisa merasakan betapa banyaknya cairan itu yang sampai mengalir di paha dalam Elsa. Tubuh Elsa lemas tak berdaya, semuanya sudah hancur, hati, harga diri, jiwa. Tak ada lagi yang tersisa sekarang, tak ada lagi yang Elsa miliki.
Elsa tak bergeming di tempatnya, air mata masih mengalir deras namun tak sedikitpun terdengar isak tangis, tatapannya kosong dan tubuhnya kaku. Sementara Robin jatuh terkulai lemas di atas tubuh polos Elsa, membuat tubuh keduanya menyatu. Robin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Elsa, menghembuskan nafasnya yang memburu disana.
Perlahan Elsa memejamkan mata, menyambut kegelapan yang merampas semua cahaya dalam hidupnya.