After Darkness

After Darkness
Episode 163



Robin menatap putranya yang saat ini sedang berada di inkubator, kelahirannya yang terbilang tidak normal dan lebih cepat dari waktu yang seharusnya membuat bayi mungil itu harus di tempatkan di inkubator sampai kondisinya kembali normal.


Bibir Robin tak henti-hentinya tersenyum, hatinya terasa menghangat saat menatap wajah polos sang buah hati.


Siapa sangka, sebuah kesalahan karena amarah yang terkendali kini justru melahirkan seorang bayi yang membuat Robin langsung merasa jatuh cinta.


"Kamu tampan sekali, Sayang," ucap Robin penuh haru dan di saat yang bersamaan ia merasakan ada seseorang yang menggenggam tangannya.


"Putra kita sangat tampan, seperti ayahnya." Robin langsung menoleh dan raut wajahnya seketika berubah dingin saat melihat siapa yang menggenggam tangannya, Robin juga langsung menarik tangannya dengan kasar.


"Kenapa kamu bisa ada di sini, Mayra?" Tanya Robin setengah mendesis.


"Aku di ajak Tante Anita kesini, untuk melihat anak kita," kata Mayra sambil tersenyum. Ia juga menatap bayi itu dengan mata berbinar, bahkan Mayra tampak sangat menyukai putra Robin itu.


Robin tidak bisa berkata-kata, karena sesuai perjanjian, Mayra akan jadi ibu untuk anak Robin.


.........


Sementara itu, Elsa yang sudah di pindahkan ke ruang rawat biasa kini telah sadarkan diri. Elsa tampak begitu pucat dan lemah, dan seketika kedua matanya terbuka lebar saat mengingat apa yang terjadi sebelum ia pingsan.


Elsa panik bahkan ia langsung hendak duduk namun ia merasakan sakit di perutnya, di saat yang bersamaan, Bi Sum datang dan ia langsung memanggil Dokter saat melihat Elsa mengerang kesakitan.


Tak berselang lama Dokter dan suster datang untuk memeriksa keadaan Elsa, sementara Elsa justru sibuk menanyakan keadaan bayinya bahkan ia sampai menangis.


"Tenang ya, Bu. Bayi ibu baik-baik saja, sehat," jawab suster berusaha menenangkan Elsa.


"Lalu dimana dia sekarang?" Tanya Elsa masih sesegukan.


Elsa menurut saja walaupun hatinya terasa begitu tak tenang, ia sangat ingin melihat anaknya dan bahkan ia tidak tahu jenis kelamin anak yang ia lahirkan. Elsa ingin memeluknya, ingin menciumnya, walaupun ia belum melihatnya, namun Elsa merasa merindukannya.


"Aku ingin melihatnya, Sus," tukas Elsa lirih.


"Baik, nanti akan saya antar Ibu menemui putra Ibu, ya."


"Putra?" Elsa menggumam lirih dan seketika hatinya merasakan kebahagiaan yang tak bisa ia ucapkan dengan kata-kata. "Aku melahirkan seorang putra?" hatinya menggumam senang namun kemudian ia teringat, Mayra lah yang akan jadi ibu dari anaknya setelah anak itu lahir.


Kebahagiaan Elsa terhempas seketika oleh kenyataan itu dan itu adalah keputusannya, hati yang tadinya bahagia kini terasa begitu sesak dan sakit namun Elsa mencoba tegar, ini adalah pilihannya dan Elsa harus menjauh dari apapun yang berhubungan dengan masa lalunya.


Robin datang menjenguk Elsa dan ia bernapas lega karena Elsa baik-baik saja seperti harapannya, tatapan keduanya bertemu, setelah sekian lama berpisah.


Ada sorot kerinduan, kecemasan, kemarahan, dan juga cinta yang terpancar di mata mereka. Rindu yang selama ini mereka tahan, saling mencemaskan satu sama lain, marah pada keadaan, dan cinta yang justru tumbuh semakin besar.


Robin melangkah gontai menghampiri wanitanya itu, ia mengelus pipi Elsa sebelum akhirnya ia menunduk dan mendaratkan kecupan hangat di kening Elsa.


Elsa menutup mata, menikmati kehangatan ciuman Robin dan ia tak mampu menahan air matanya. Begitu juga dengan Robin, ia menangis, dan air mata itu membasahi wajah Elsa.


Mayra dan Bu Anita hanya bisa mengintip dari balik pintu, keduanya terdiam melihat dua insan itu yang sama-sama menangis, entah apakah itu air mata kebahagiaan atau kesedihan. Namun yang mereka lihat, kedua insan itu seperti raga tanpa jiwa dan air mata seperti jeritan hati meraka.


Robin menarik diri, ia menghapus air mata Elsa dengan lembut kemudian berkata. "Terima kasih, terima kasih sudah melahirkan putraku dan Mayra."


Tbc....