After Darkness

After Darkness
Episode 103



"Pulang aja, tidak usah cemas, aku bisa jaga diri," ujar Elsa yang kini sudah kembali duduk manis di sofa.


"Kamu menguping pembicaraanku?" Tuduh Robin dan Elsa hanya mengedikan bahunya. "Maaf ya, karena aku, Mama jadi benci sama kamu," ujar Robin penuh penyesalan.


"Bukan hal baru bagiku di benci orang," jawab Elsa sambil tersenyum masam. "Semua orang yang aku cintai saja pernah membenciku, apalagi mama kamu yang bukan siapa-siapa." lanjutnya saat ia teringat dengan kisah cintanya yang kandas dan berakhir ia sangat di benci oleh orang yang paling ia cintai.


"Kamu juga tidak perlu membelaku di depan mamamu, karena orang yang membenci kita tidak akan pernah percaya dengan penjelasan apapun tentang diri kita," ucap Elsa lagi sembari menutup kotak pizzanya itu sementara Robin hanya bisa mendengarkan dalam diam. "Pulang saja, aku akan menghubungi kamu jika aku butuh sesuatu!"


.........


Sesuai permintaan Elsa, Robin pulang kerumahnya dan ia langsung di sambut dengan tatapan kekecewaan sang mama.


"Aku bisa menjelaskan semuanya, Ma," ucap Robin dengan lirih.


"Apa kamu di goda wanita itu, eh?" Tanya Bu Anita dingin sambil tersenyum sinis. "Tidak akan ada asap kalau tidak ada api, Rob. Apa kamu juga menjalin hubungan dengan wanita murahan itu?"


"Ma, Please! Berhenti memanggilnya wanita murahan, dia punya nama, Ma!" Balas Robin.


"Bukannya kamu yang memanggil dia wanita murahan?" Robin terhenyak mendengar apa yang di katakan Mamanya, karena semua itu memang benar adanya.


"Kita salah faham saat itu, Mama," lirih Robin, ia berlutut di depan mamanya yang saat ini duduk di sofa. "Sekarang semuanya sudah jelas, Elsa bukan wanita simpanan Papa." lanjutnya.


"Sihir apa yang dia lakukan sama kamu, Rob? Sampai kamu terus membelanya seperti ini? Sementara dulu, kamu yang antusias untuk menghancurkan hidupnya, lalu ada apa sekarang?"


"Apa?" Pekik Bu Anita dengan kedua mata yang melotot sempurna, ia menatap Robin tak percaya namum kemudian ia tertawa. "Candamu tidak lucu, Rob!" Serunya sambil tertawa hambar, namun saat ia menatap tepat di kedua mata Robin, Bu Anita langsung merasa lemas, dadanya terasa sesak, kepalanya sakit dan ia manahan napas.


"Maafin aku, Ma," lirih Robin sembari menyentuh tangan sang ibu dengan lembut. "Selama ini aku memang sibuk mengurus Elsa dan calon bayiku, aku harus menjaga mereka, Ma." lanjutnya dengan tatapan yang begitu sendu.


"Bagaiamana bisa, Rob?" Tanya Bu Anita dengan suara yang tercekat di tenggorokannya. "Apa dia menggodamu sampai kamu mau pergi ke ranjang wanita murahan seperti itu?" Desis Bu Anita tajam yang membuat tatapan sendu Robin kini berubah menjadi tatapan penuh amarah, namun mengingat yang ada di depannya adalah sang ibu, Robin mencoba menahan emosinya.


" Ini tidak seperti yang Mama fikir, Elsa sama sekali tidak pernah menggodaku, Ma. Aku yang memaksa dia dan membawa dia ke ranjangku, aku yang..." ucapan Robin terhenti, lidahnya terasa kelu untuk mengakui bahwa ia telah memperkosa Elsa.


"Mama tidak mau tahu, Rob. Kamu harus buat Elsa menggugurkan kandungannya!" Seru Bu Anita yang membuat Robin langsung melotot terkejut, dadanya bergemuruh mendengar apa yang di katakan wanita yang telah melahirkannya itu, emosinya tak lagi bisa di tahan.


"Apa Mama baru saja memintaku membunuh anakku?" Lirih Robin dengan suara yang bergetar.


"Anak itu akan jadi aib untuk keluarga kita, Robin. Anak itu bisa merusak nama baik keluarga kita!" Tegas bu Anita yang membuat dada Robin terasa begitu sesak, ia menatap mamanya itu dengan mata yang memerah, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal kuat, Robin berdiri tegak yang membuat sang ibu harus mendongak untuk menatapnya.


"Kenapa harus selalu anak yang membayar dosa orang tuanya, Ma?" Desis Robin tajam. "Bertahun-tahun aku harus menderita karena kelakuan Papa sementara Mama sibuk dengan sakit hati Mama karena cinta bodoh Mama itu, sampai kalian lupa ada aku yang butuh cinta kalian. Dan aku tidak mau seperti kalian, yang harus membiarkan anakku membayar dosa atas kesalahanku!" Hati Bu Anita terkesiap mendengar apa yang di katakan Robin, apalagi selama ini Robin tidak pernah berbicara lantang seperti itu padanya.


"Dan bagaimana bisa, seorang ibu seperti Mama menyuruhku membunuh? Bagaimana bisa, Ma?" Desisnya dengan mata yang kian semakin memerah. Bu Anita hanya bisa membuka mulutnya tanpa tahu harus membalas ucapan Robin dengan apa, kemarahan dan kekecewaan Robin terhadap mamanya terlihat begitu jelas di matanya.


"Aku tidak akan membunuh anak itu, dia akan tumbuh dengan baik dan aku akan merawatnya dengan penuh cinta!" geram Robin sebelum akhirnya ia kembali menyambar kunci mobilnya dan ia meninggalkan mamanya yang masih terdiam mematung.


Tbc...