
Bu Isna dan Pak Malik hanya bisa bungkam saat mendengar apa yang di katakan Elsa, mereka terkejut namun juga tersentuh. Sementara Elsa yang tak mendapatkan respon apapun dari kedua orang tuanya hanya bisa tersenyum masam, ia pun berdiri dan hendak meninggalkan mereka namun tiba-tiba Bu Isna memanggilnya, menghentikan langkah Elsa.
"Sa...." Bu Isna mendekati Elsa. "Ini kesempatan terkahir kamu untuk membuktikan kalau kamu bisa berubah, dengan menjadi ibu yang baik." lanjutnya yang membuat Elsa langsung menangis haru, ia pun langsung memeluk ibunya itu dengan erat, bahkan Elnaz pun juga tak bisa menahan air matanya melihat hal itu.
Sang ayah juga menghampiri Elsa, Elsa pun memeluk istri dan anaknya itu. "Semoga kamu jadi ibu yang baik ya, Sa. Belajar dari kesalahan, Nak. Dan berbenti menjadi orang yang egois karena itu hanya akan merugikanmu." Elsa mengangguk sambil terisak.
"El rasa sudah seharusnya kita pergi," tukas Elnaz kemudian, Bu Isna mendekati Elnaz dan memeluknya.
"Terima kasih ya, El. Kamu adalah saudara terbaik yang ada di dunia."
.........
"Kamu bisa nyetir kan, El?" Tanya Elsa karena beberapa kali Elnaz hampir menabrak kendaraan orang yang ada di depan mobil mereka.
"Bisa, tapi El gugup, Kak," jawab Elnaz.
"Kakak juga gugup," lirih Elsa kemudian. "Biar Kakak yang nyetir deh, biar cepat sampai." lanjutnya.
"Jangan! Kak Elsa pasti tidak akan bisa fokus, yang ada kita bisa kecelakaan. El tidak mau mati secepat ini apalagi Ara masih nyusu."
Menyusu, mendengar kata itu seketika hati Elsa terkesiap dan ia teringat dengan putranya. Elsa sudah menjadi ibu dengan melahirkan namun itu tidak sempurna karena Elsa tidak tahu rasanya menyusui bayi, menggendongnya, menidurkannya.
"Aku harus mendapatkannya apapun caranya!"
Sesampainya di hotel, Elsa langsung masuk guna mencari keberadaan Robin sementara Elnaz justru sibuk mencari tempat parkiran.
dan disaat yang bersamaan, Elsa melihat pak Andrew dan Bu Anita. Elsa mengikuti mertua hingga akhirnya Elsa tahu dimana Robin berada.
Mereka berdua memasuki sebuah kamar, Elsa mengintip dan menunggu mereka keluar. Tak lama kemudian mereka benar-benar keluar dan setelah itu Elsa masuk ke kamar Robin. Kedatangan Elsa rupanya di sadari oleh Robin dan ia pun menoleh.
"Ma, sudah aku bilang ... Elsa?" lirih Robin saat ia melihat Elsa di kamarnya.
Robin terlihat terkejut melihat Elsa, namun pandangannya juga menyiratkan kerinduan yang begitu dalam.
Elsa tidak bisa berfikir jernih, namun kakinya melangkah begitu saja mendekati Robin.
Robin pun hanya diam saja, ia bahkan menunggu Elsa datang padanya dengan sangat tak sabar. Dan saat Elsa ada di depannya. "Kamu ap...." ucapan Robin terhenti saat tiba-tiba Elsa menarik wajah Robin dan langsung menempelkan bibirnya di bibir Robin, membungkam mulut Robin seketika.
Robin terkesiap, otaknya blank, darahnya berdesir. Ia tak menyangka Elsa akan melakukan ini, namun Robin memang merindukan hal ini, sangat merindukannya.
Tanpa fikir panjang, Robin membalas ciuman Elsa, bahkan ia menekan tengkuk Elsa guna memperdalam ciuman meraka.
Keduanya larut dalam ciuman yang penuh kerinduan itu, beban mereka seolah menguap begitu saja. Meraka seolah lupa dengan apa yang terjadi, Elsa melingkarkan tangannya di pinggang Robin dan ia memeluk pria itu.
Keduanya melepaskan kerinduan yang mereka tahan selama ini, yang begitu menyiksa namun terasa begitu manis hingga akhirnya keduanya sadar dan sama-sama melepaskan diri.
Napas keduanya memburu dengan jantung yang berdebar, wajah keduanya memerah dan tatapan keduanya begitu dalam.
"Robin, aku...."
Uwwe ... uwee ... Uwwe....
Ucapan Elsa terhenti saat ia mendengar suara tangis bayi itu, pandangan Elsa langsung tertuju pada bayinya yang menangis di atas ranjang.
Tanpa fikir panjang, Elsa langsung naik ke atas ranjang, melepas baju atasnya kemudian ia merebahkan diri di samping bayinya, Elsa menarik turun branya dan ia menyusui putranya itu.
Robin melongo melihat apa yang Elsa lakukan, ia tidak tahu harus berkata apa dan melakukan apa.
Pertama, dia datang dan langsung mencium Robin. Kedua, ia menyusui anak itu tepat di depan mata Robin.
"Apa yang kamu lakukan, Els?" tanya Robin akhirnya.
"Manyusui anakku, dia pasti lapar!"
Tbc....