
"Tapi, kenapa tadi kamu bisa ada di rumah sakit bersama Mama?"
Sesaat Elsa terdiam setelah mendengar pertanyaan Robin, teringat kembali dengan bujuk rayu Bu Anita yang menguatkan tekad Elsa mengambil keputusan yang hampir saja ia sesali.
"Mama kamu yang datang kesini," jawab Elsa akhirnya yang membuat Robin langsung tersenyum kecut, seolah sudah menduga hal ini. "Dia bilang punya kenalan Dokter profesional dan memang sejak dulu itu yang aku inginkan, tapi ternyata..." Elsa kembali memegang perutnya. "Aku tak sampai hati membunuh janin ini, melihat gunting dan pisau itu saja sudah membuat dadaku sesak, karena itulah aku mengatakan pada mamamu untuk membatalkannya tapi dia dan orang-orang itu memaksaku."
Robin menggeram tertahan, rahangnya mengeras dan matanya berkilat, tangannya mengepal mendengar cerita Elsa. Ia benar-benar merasa kecewa dan marah pada ibunya, wanita yang ia anggap malaikat, ternyata?
"Aku minta maaf," ucap Elsa tiba-tiba yang membuat pupil mata Robin langsung melebar karena tak biasanya Elsa meminta maaf. "Maaf karena aku sempat berfikir untuk memusnahkan anakmu, aku hanya takut, benar-benar takut." Ia berkata lirih, matanya memerah bahkan setetes air mata menyelinap keluar dari sudut matanya.
Robin tak menanggapi ucapan Elsa, ia hanya memandangi wanita itu dengan intens. Gurat kesedihan terlihat jelas di wajahnya.
"Aku takut kembali mengecewakan orang tuaku, aku ... aku sudah janji akan menjaga diri, tidak akan merusak kepercayaan mereka lagi." Air mata Elsa kini mengalir begitu saja, membasahi pipi Elsa tanpa bisa ia cegah. "Saat aku meninggalkan Arfan demi ambisiku, hidupku sudah hancur bersamaan dengan hancurnya kepercayaan keluargaku, dan hidupku semakin hancur saat Jimmy ... saat dia ... aku ... Hiks...." Elsa tak mampu lagi menahan isak tangis serta air matanya yang kini mengalir deras. Dadanya terasa sesak saat mengingat masa lalunya yang begitu kelam, bahkan sampai detik ini, hidupnya masih sangat kelam.
Sementara Robin masih hanya bungkam, hatinya perih melihat air mata Elsa dan ia juga melihat rasa sakit dan penyesalan yang terpancar jelas di mata Elsa.
"Hidupku hancur, benar-benar hancur. Dan jika aku mempertahankan bayi ini, maka semuanya akan selesai, Robin." Elsa berkata suara yang tercekat di tenggorokannyanya.
"Ssshht..." Robin menarik Elsa kedalam pelukannya, ia membelai rambut Elsa, bahkan mengecup pucuk kepalanya dengan sayang, berharap itu bisa memberikan sedikit ketenangan di hati Elsa yang gundah. "Semua akan segera berakhir, Els. Kamu pasti bisa melewati semua ini," lirihnya. Tangis Elsa semakin pecah, ia melingkarkan tangannya di pinggang Robin, memeluknya dengan erat bahkan Elsa meremas kaos Robin, seolah ingin melampiaskan semua rasa sakit yang ia rasakan selama ini.
"Aku minta maaf, Rob. Aku tidak akan bisa menjaga bayi ini, aku tidak bisa, bukan aku tidak mau...." racaunya di tengah isak tangisnya.
"Tidak apa-apa, Els. Ini salahku, aku yang akan bertanggung jawab," tukas Robin sambil terus membelai rambut hingga punggung Elsa. "Aku tidak akan membebanimu dengan anak ini, aku janji."
.........
"Nyonya, menurut saya, sebaiknya Nyonya urungkan niat Nyonya. Sekarang Den Robin masih marah, dia tidak akan mau mendengarkan penjelasanmu, Nyonya."
"Ck, diam, Bi! Aku harus mendapkan putraku kembali, aku harus menjelaskan padanya kalau apa yang aku lakukan demi masa depan dia."
Bi Sum hanya bisa menghela napas panjang karena sepertinya percuma ia membujuk Bu Anita untuk tidak menemui Robin saat ini apalagi kini mereka sudah berada di gedung apartement Robin.
Bu Anita tidak bisa tidur semalaman karena ia terus memikirkan Robin, ia sangat takut Robin kembali meninggalkannya seperti dulu, karena itulah, di pagi-pagi buta seperti ini ia justru mengajak Bi Sum menemui Robin.
Ting...
Lift terbuka, Bi Sum membantu Bu Anita keluar dari lift dan keduanya berjalan tergesa-gesa menuju apartement Robin.
Sesampainya disana, Bu Anita langsung memencet bel pintu beberapa kali.
"Mungkin mereka masih tidur, Nyonya. Ini masih pagi," tukas Bi Sum.
"Diam, Bi!" Bentak Bu Anita yang membuat Bi Sum terkesiap karena sebelumnya bossnya itu tak pernah membentaknya.
Bu Anita kembali memencet bel dan tak lama kemudian pintu terbuka....
Tbc...
***Iklan...
Itu siapa yang datang, yak?
Sambil menunggu jawaban siapa yang datang, mampir ke kisah cinta Jingga si anak sultan yuk.
Penulis : Ririn Rohman
Cuplikan
Adip terlonjak kaget, kenapa Jingga yang terlihat manis dan saat diam terasa sulit dijangkau, sekarang sangat centil dan menyebalkan.
“Sejak kapan kamu bangun?” jawab Adip balik bertanya.
“Selalu deh, kalau aku tanya nggak pernah dijawab dan selalu menghindar. Aku istrimu bukan sih?” tanya Jingga sewot.
Adip memang selalu menghindari pertanyaan Jingga yang menurutnya tidak perlu dibahas.
“Ngobrolnya nanti lagi, sudah ashar, sebentar lagi petang, cepat mandi dan ambil wudzu, akan susah jika kita ke sumber air malam- malam, bahaya. Terus kalau udah wudzu usahakan jangan batal sampai Isya!” ucap Adip lagi menasehati.
“Ish... di sini nggak ada kamar mandi, aku nggak usah mandilah!” jawab Jingga sekarang sudah mulai meninggalkan penyakit perfecsionistnya tentang kebersihan.
“Dasar jorok! Mandi lah!”
Mendengar kata itu, Jingga jadi ingat waktu ke pantai.
“He... aku jorok ya?” tanya Jingga malu.
“Iya...!” jawab Adip terus terang.
“Apa itu juga penyebab kau tak pernah mau menatapku dan dekat- dekat denganku? Aku bau kah?” tanya Jingga.
Mendengar itu Adip menelan ludahnya, siapa bilang Adip tak pernah menatap Jingga, Adip kan justru selalu mencuri pandang ke Jingga.
“Sudah cepat bangun! Ayo makanya mandi, bawa baju basahan dan gantimu!” jawab Adip lagi, selalu mengacuhkan pertanyaan Jingga dan mengalihkan topik.
“Apa kita akan mandi bersama di tempat terbuka?” tanya Jingga kemudian.
“Tidak! Kau mandi tetap memakai baju dan aku kita bergantian! Cepat!” jawab Adip tegas.
"Ish!" desis Jingga manyun.
Mereka berdua kemudian ke air, bersih- bersih setelah itu sholat bersama dan masak untuk makan malam.
Meski ada bisikan dari ke Adip memberitahu bahwa Jingga istrinya, dan seharusnya Adip bisa leluasa dengan Jingga, tapi Adip selalu melawan.
Adip tetap ingin bertemu Baba Jingga dulu, melakukan pernikahan mereka sebagai mana mestinya. Pernikahan mereka masih abu- abu, terpaksa terjadi karena adat.
“Sepertinya Amer tidak pulang malam ini!” tutur Adip menyalakan lentera dari bambu yang hampir mati karena tertiup angin.
Setelah sholat isya mereka berdua duduk di depan gubuk menikmati langit yang ditemani rembulan. Sangat indah.
"Berarti kita hanya berdua malam ini?" tanya Jingga dengan mata berbinar dan mata centilnya.
Adip hanya menelan ludahnya mendadak keringetan, kenapa Jingga selalu menggodanya***.