
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, semuanya baik-baik saja," Elsa tersenyum mendengar apa yang di katakan Dokter Ika, kemudian ia menoleh pada Robin yang sejak tadi berdiri di samping Elsa dan masih memasang wajah tegangnya.
"Kau yakin, Dokter? Tadi dia di dorong sampai jatuh," sambung Robin yang masih terlihat cemas.
"Tidak ada pendarahan dan Bu Elsa tidak merasa kram, Pak. Saya yakin semuanya baik-baik saja, tapi jika Pak Robin masih ingin memastikan keadaan janin dalam kandungan Bu Elsa, bisa di bawa ke rumah sakit, Pak."
"Tidak usah, Dokter. Aku pun merasa baik-baik saja," sambung Elsa. "Robin hanya sedikit berlebihan, mungkin karena ini anak pertamanya." lanjutnya sambil melirik Robin.
"Baiklah, saya permisi dulu."
Robin mengantar Dokter Ika ke depan, sementara Elsa hanya berbaring di ranjang Robin yang masih berantakan. Elsa berbaring menyamping, dan tiba-tiba keningnya berkerut, hidungnya mengendus aroma bantal Robin yang entah mengapa ia merasa suka, aroma maskulin yang seolah memanjakan hidungnya.
"Els...." Elsa langsung berbaring dengan benar saat tiba-tiba Robin kembali masuk ke kamarnya. "Kamu mau sarapan apa pagi ini?" Tanya Robin sembari mendekati Elsa.
"Apa saja," jawab Elsa sembari berusaha duduk. "Aku boleh bicara sesuatu?" Tanyanya kemudian .
"Nanti saja, aku sedang tidak mood," jawab Robin dingin yang membuat Elsa merengut kesal.
"Please! Ini penting," rengek Elsa, Robin menaikkan sebelah alisnya, karena sekarang ia semakin sering melihat sisi manja Elsa.
"Okey, tentang apa?" Tanya Robin masih dengan wajah es batunya, tatapannya lurus menatap mata Elsa.
"Soal Mama kamu," lirih Elsa, ia menunduk, mencoba menghindari tatapan Robin, Elsa meremas jari jemarinya, entah mengapa ia gugup sekarang.
"Kenapa?" Tanya Robin tajam.
"Seperti biasa, bukan?" Tanya Robin ambigu, Elsa mendongak. "Kamu selalu suka memancing emosi orang lain, selalu melawan, selalu tidak mau kalah, selalu merasa benar...."
"Aku memang marah sama mama kamu karena apa yang dia lakukan saat di rumah sakit," sanggah Elsa dengan cepat. Robin menggumam sembari mangangguk-anggukan kepalanya, ia mengerti posisi dan perasaan Elsa apalagi ini tentang hal yang sangat sensitif, di tambah karakter arogan Elsa yang pasti takkan terima di tindas siapapun.
"Terus?" Tanya Robin.
"Ya ... menurut aku, kamu jangan membentak Mama kamu begitu, tidak baik," cicit Elsa, Robin menaikan kedua alisnya. "Meskipun aku kasar pada orang lain, tapi aku tidak pernah kasar pada orang tuaku meksipun terkadang mereka membuatku kesal karena aku tahu mereka sangat mencintaiku." lanjutnya dengan cepat, bahkan Elsa berkata dalam satu tarikan napas.
"Aku tahu itu, hanya saja aku tidak suka apa yang Mama lakukan. Dia hanya memikirkan diri sendiri, sejak dulu, sampai detik ini. Mungkin aku bisa memaafkan jika yang dia kasari dan sakiti itu aku, tapi dia menyakitimu dan calon anak kita, Els. Aku tidak bisa terima itu." Ia berkata penuh penekanan. Hati Elsa terenyuh mendengar apa yang di katakan Robin, apalagi saat ia menatap matanya, seolah mata itu juga berbicara dan begitu terasa di hati Elsa.
"Tapi, mama kamu membenciku juga karena kamu, Rob," cicit Elsa kemudian. "Semua kesalah pahaman itu terjadi karena kamu yang tidak bisa berfikir panjang." lanjutnya yang membuat Robin menghela napas frustasi.
"Aku tahu, aku benar-benar minta maaf. Saat itu, aku benar-benar merasa sudah lelah dengan kelakuan Papa. Aku sangat marah padamu, apalagi karena kamu itu kakaknya Elnaz, aku seperti ... benar-benar hilang akal saat membayangkan kakak dari temanku menjadi simpanan ayahku." Robin mengusap wajahnya dengan kasar.
"Lalu, dimana video itu? "Tanya Elsa kemudian.
Video apa? " Robin bertanya dengan bingung.
"Videoku dan Jimmy...."
Tbc...