
Tak merasa cukup informasi dari sang Mama, Robin pun mencari tahu di internet tentang apa saja yang terjadi pada ibu hamil, dan yang tertulis disana sama persis seperti apa yang Elsa selama ini alami. Dari yang mual, muntah, atau mereka sebut morning sickness. "Padahal muntah nya kan bukan cuma pagi, kenapa kenapa morning sickness? Kenapa bukan sickness all the time," gerutu Robin. Dan ternyata yang di bilang mamanya pun benar, bahwa wanita hamil itu sensitif.
"Baiklah, jadi begini cara mainnya, okey." Robin kembali menggumam setelah membaca beberapa artikel dan isinya pun hampir sama semua.
Robin turun dari kamarnya untuk menemui Elsa, membujuknya dan meminta maaf, itu baru rencana meskipun Robin ragu bisa melaksanakan rencana itu.
Saat Robin hendak mengetuk pintu, pintu kamar Elsa justru terbuka dan Elsa muncul dari balik pintu. "Kenapa?" tanya Elsa ketus kemudian ia berjalan melewati Robin.
"Hari ini aku tidak akan bekerja, aku akan di rumah," kata Robin dengan ragu namun tiba-tiba Elsa menoleh dan matanya tampak berbinar.
"Beneran?" tanyanya antusias, Robin mengangguk sambil tersenyum samar. "Okey, kalau begitu, bagaimana kalau kita belanja?"
"Belanja apa?" tanya robin bingung.
"Bajulah, semakin hari aku semakin gendut, bajuku tidak muat," kata Elsa mengada-ngada karena bobot tubuhnya tidak naik seberapa, bahkan tidak terlihat berubah meskipun timbangannya naik. Robin ingin mengatakan apa yang ada di kepalanya itu namun ia takut salah lagi, alhasil dia mengangguk setuju.
.........
Elsa dan Robin kini sudah berada di butik yang cukup besar, Elsa langsung berkeliling memilih beberapa pakaian kemudian membawanya ke ruang ganti untuk di coba. Sementara Robin hanya mengekorinya kemudian menunggu seperti orang bodoh.
Di dalam, Elsa mencoba beberapa pakaian namun entah mengapa ia merasa tak ada cocok. Elsa pun keluar dari ruang ganti dan menemui Robin.
"Sudah?" Tanya Robin dan ia tampak benar-benar berharap Elsa memang sudah selesai belanjanya, cepat sekali, fikirnya senang. Namun Elsa justru mencebikan bibirnya sambil menggeleng.
"Tidak ada yang cocok," jawab Elsa yang membuat Robin melongo. "Bantuin cari gih," pintanya dan Robin pun mau tak mau harus membantu Elsa tanpa melawan sedikitpun.
"Sebenarnya kamu mau beli baju apa?" Tanya Robin sembari melihat-lihat pakaian yang di gantung.
" Pakaian rumahan biasa," jawab Elsa.
"Kaos gitu?" Tanya Robin lagi.
"Hem," jawab Elsa menggumam.
Robin pun memilih beberapa kaos oblong dengan bahan yang berkualitas, kemudian ia meminta Elsa mencobanya.
"Thank you," ucap Elsa dengan manis yang lagi-lagi membuat Robin melongo.
"Cocok semua kok, bagus," jawab Elsa girang dan Robin bernapas lega.
"Kalau gitu, kita bayar habis itu kita pulang," ajaknya semangat.
"Loh, kok pulang? Kan belanjanya belum selesai," kata Elsa.
"Bukannya kamu cuma mau cari kaos? Itu sudah dapat beberapa lembar."
"Ya masak cuma kaos? Celananya belum, sandal, sepatu juga belum."
"Hah?"
Elsa menarik Robin, setelah memilih baju, kini ia mencari celana, sandal, sepatu, bahkan pakaian dallam. Dan Robin baru tahu, tidak cukup dua jam untuk menemani wanita berbelanja, mereka memilih antara pilihin ini dan itu, namun kemudian mereka akan melirik yang disana, kemudian mereka berfikir cukup lama, yang mana yang lebih bagus?
Robin bukan hanya lelah menemani Elsa berbelanja, ia mengantuk, lapar, bosan, namun Robin seperti budak yang tak punya nyali untuk melawan.
"Bagaiamana? Sudah?" Tanya Robin untuk yang kesekian kalinya.
Dan kini, mereka ada di butik ke 4 yang mereka datangi.
"Belum, disini tidak ada yang cocok. Cari ke butik yang lain, ya," pinta Elsa yang membuat Robin langsung lemas.
"Els, kita makan dulu, ya? Aku lapar," rengek Robin.
"Belanja dulu sebentar, habis itu kita makan," jawab Elsa.
Sebentar? Jangan percaya saat wanita mengatakan 'sebentar'.
Tbc...
Hayo, masih ada yang ghaib engga neh? Othor kutuk nanti jadi kecanduan sama cerita othor. Hehe.
Btw, belum ada yang mampir kesini ya?