After Darkness

After Darkness
Episode 161



Robin memperhatikan ponselnya dengan serius sementara jarinya mengetuk-ngetuk meja, ia sedang menunggu pesan dari Bi Sum yang entah kenapa belum juga di balas padahal Robin sudah mengirim pesan itu lima menit yang lalu.


Pagi ini Robin merasa sangat merindukan Elsa, bahkan ia seolah bisa mencium aroma tubuh Elsa dan bisa mendengar suara rengekan Elsa saat meminta sesuatu padanya.


"Lama banget sih," gerutu Robin dan ting.... Pesan masuk. Robin langsung menyambar ponselnya itu dan membuka pesan dari Bi Sum.


"Elsa baik-baik saja, dia sudah makan, sudah mandi, dan sekarang sedang melakukan yoga di ruang tamu." Robin bernapas lega membaca pesan itu, ia memang di beri tahu bahwa Elsa terkadang melakukan yoga dan Robin senang akan hal itu. Selain yoga baik untuk kesehatan fisik Elsa itu juga sangat baik untuk fikiran dan perasaan Elsa agar lebih tenang.


Robin melirik kalender di meja kerjanya, dan seketika wajahnya muram. Hanya beberapa hari menuju lagi pernikahannya dengan Mayra, sementara Dokter mengatakan kemungkinan Elsa akan melahirkan dua atau tiga minggu lagi. Dan itu membuat Robin tidak mau merencanakan bulan madu, jangankan merencanakan, memikirkannya saja dia enggan.


Fikiran, hati, dan bahkan tubuhnya hanya menginginkan Elsa seorang.


Robin membuka laptopnya dan berusaha fokus pada pekerjaannya namun tak lama kemudian ayahnya datang tanpa mengetuk pintu dan itu membuat Robin menatap dingin sang ayah.


"Ada yang mau Papa bicarakan," kata Pak Andrew namun Robin enggan menanggapinya. Pak Andrew tak menyerah, ia duduk di kursi yang ada di depan meja Robin.


"Soal apa?" Tanya Robin dingin.


"Papa lihat kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu, kamu mencintai Elsa, kan?" Robin melirik sang ayah sekilas sebelum akhirnya kembali fokus pada laptopnya.


"Bukan urusanmu!" Pak Andrew tersenyum miring mendengar apa yang di katakan putranya.


"Papa tidak tahu apa yang membuatmu mau menikahi Mayra sementara kamu bilang akan menikahi Elsa dulu, apa ini gara-gara mamamu?" Robin kembali melirik sang ayah dengan tajam namun ia tak mengeluarkan suara sedikitpun. Dari tatapan Robin, pak Andrew langsung mengerti.


"Mama bukan orang lain, dia mamaku!" Balas Robin dengan suara lantang.


"Dalam kehidupan rumah tangga, orang tua itu orang tua itu orang lain, Rob. Kamu yang akan merasakan apakah rumah tanggamu bahagia atau tidak," tukas Pak Andrew kemudian ia beranjak dari kursinya. "Papa tahu kamu masih marah sama Papa, tapi bukan berarti aku bukan Papamu lagi. Aku masih dan akan selalu menjadi Papa kamu, Papa perduli dengan kebahagiaan kamu." Robin hanya menatap mata ayahnya itu dengan sangat dingin, seolah ia tidak tersentuh sama sekali dengan apa yang di katakan Pak Andrew.


...... ...


Sementara di apartement, setelah Elsa melakukannya yoga, ia bergegas ke kamarnya untuk membersihkan diri. Di kamarnya, Elsa melirik kelender yang ada di atas meja. Ia juga menghitung hari kelahirannya yang begitu dekat dengan pernikahan Robin. Terkadang Elsa bertanya-tanya, kenapa pernikahan Robin harus secepat ini? Dan Elsa tahu, yang membuat keputusan itu adalah Bu Anita.


Elsa menggelengkan kepala, mengusir fikiran itu dan ia pun segera bergegas ke kamar mandi.


Elsa melepaskan pakaiannya kemudian ia berdiri di bawah shower, namun saat Elsa mengambil shampoo, tanpa sengaja ia menumpahkannya dan itu malah membuatnya terjatuh.


Elsa menjerit kesakitan sambil memegang perutnya yang terasa begitu sakit dan Elsa sangat panik saat melihat darah segar mengalir di pahanya. Elsa berteriak sekuat tenaga memanggil Bi Sum dan ia menangis karena darah mengalir semakin banyak, kepalanya tiba-tiba pusing, pandangannya buram dan sekali lagi ia memanggil Bi Sum sebelum akhirnya kegelapan menjemputnya.


"Orang bilang, jangan putus asa saat kegelapan menyapamu, karena hari tak selalu malam, akan ada siang menyapa dengan sinar mentari yang cerah. Tapi, kenapa hidupku selalu di sapa kegelapan seolah cahaya enggan menyapa walau sekejap saja?"


Tbc....