After Darkness

After Darkness
Episode 191 - Tamat



Hari liburan Elsa dan Robin di Surabaya menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri bagi Bu Anita dan Robin. Apalagi selama ini keduanya hanya hidup sebagai orang kaya tapi tidak sebagai sebuah keluarga.


Bersama keluarga Elsa, mereka merasakan apa arti sebuah keluarga.


Dan soal malam yang panas, Robin harus kembali menahan diri, namun jika ia tak mampu lagi, maka Elsa akan melayaninya namun keduanya kini lebih hati-hati.


Setelah satu minggu berada di Surabaya dengan berbagai aktivitas yang mereka lakukan, ini Elsa dan Robin memutuskan kembali ke Jakarta, sementara Elnaz dan Arfan sudah pulang lebih dulu di karenakan pekerjaan Arfan yang tak mungkin ia tinggal dalam waktu yang cukup lama.


"Cucu nenek senang, ya? Habis liburan di kampung halaman Mama," ucap Bu Anita sembari menimang cucunya itu yang kini tertawa, menampilkan gusinya yang masih tak memiliki gigi.


Saat ini keduanya sedang dalam penerbangan kembali ke Jakarta.


Robin mengambil sebuah shall dan menyelimuti Elsa yang tertidur di kursinya, tadi malam Arjun sedikit rewel dan itu membuat Elsa tidak bisa tidur sampai subuh.


"Seharusnya kalian membangunkan Mama kalau memang Arjun rewel, kasihan Elsa mengurusnya sendirian," kata Bu Anita yang kini menatap wajah lelah Elsa.


"Kan ada aku, Ma. Tadi malam aku juga bangun dan membantu Elsa, cuma baby Arjun tidak mau lepas dari susunya," jawab Robin.


"Mungkin dia sakit perut," kata Bu Anita sembari memberikan sedikit pijatan di perut Elsa.


"Bisa jadi sih, Ma. Dari kemarin belum pup kata Elsa," tukas Robin dengan raut wajah yang mulai cemas.


"Hem, kalau begitu nanti kita langsung temui Dokter saja, supaya keadaan Baby Arjun di periksa."


Robin langsung meng-iyakan ucapan Mamanya, selain ia khawatir dengan kondisi kesehatan anaknya, ia juga merasa kasihan pada Elsa kalau harus begadang semalaman karena sang anak yang rewel.


Saat pesawat landing, Robin membangunkan Elsa, ia juga memberikan air putih pada istrinya itu agar Elsa merasa lebih segar.


...


Sementara itu, Pak Andrew saat ini sedang celingukan menunggu Robin di bandara.


Semalam, tiba-tiba Robin menghubunginya dan memintanya untuk menjemput mereka di bandara, tentu saja pak Andrew sangat senang dan langsung meng-iyakan permintaan putranya itu.


Meskipun ia tahu tak mungkin lagi tinggal bersama mereka sebagai keluarga, tapi setidaknya dengan hal-ha kecil seperti ini, ia akan merasa memiliki keluarganya kembali.


Saat ia melihat Robin bersama mama dan istrinya itu datang, Pak Andrew langsung melambaikan tangannya. Sementara Bu Anita yang melihat mantan suaminya itu tampak terkejut.


"Rob, kenapa ada Papamu?" Tanya Bu Anita setengah berbisik.


"Aku yang memintanya menjemput kita, Ma," jawab Robin dengan tenang, Bu Anita tampak tidak suka mendengar hal itu. "Ma, aku tahu dia sudah menyakiti kita, tapi sekarang dia sudah berubah. Dan aku tahu, kita tidak akan menerima dia sebagai kepala keluarga lagi, tapi bagaimanapun dia tetap ayahku, Kakek nya Arjun juga." lanjut Robin namun Bu Anita masih tampak tak menyetujui pernyataan Robin.


"Mama..." Elsa merangkul pundak ibu mertuanya itu. "Kalau kita benci seseorang, jangan menghindarinya, justru kita harus terbiasa dengan keberadaannya, bersikap biasa saja saat berada di sampingnya seolah tidak ada apa-apa. Nanti, secara perlahan kebencian itu akan menguap. Selain itu, membenci dan menunjukan kebencian pada seseorang itu benar-benar tidak berkelas, Mama." lanjutnya yang membuat Bu Anita mendelik, namun hati kecilnya membenarkan apa yang Elsa katakan dan Elsa sudah membuktikan itu benar.


Saat Elsa tinggal di rumah Robin sebagai pelayan, Elsa membenci dan menghadapi kebencian itu dengan sangat berkelas hingga Robin dan Bu Anita yang seperti orang gila karena terus di buat kesal dengan cara yang halus.


Selain itu, Elsa juga benar, saat Bu Anita dan Robin tinggal bersama Elsa, perlahan kebencian mereka pada Elsa menguap, bahkan mereka merasa kehilangan saat Elsa pergi.


Pak Andrew menyambut Robin dan kedua wanitanya itu dengan senyum sumringah, ia juga mencium cucunya yang saat ini di gendong oleh mantan istrinya.


"Kakek kangen sekali sama baby Arjun, Hem, kangen sekali," ucap pak Andrew yang tampak sangat gemas pada cucunya itu.


"Kalau kangen, neh gendong!" Seru Bu Anita dengan dingin namun tentu Pak Andrew langsung menggendongnya dengan senang hati.


...


Robin melirik ke belakang sambil tersenyum senang, saat ini ia sedang fokus menyetir, Elsa duduk di sampingnya, sementara orang tua Robin duduk di belakang sambil mengajak baby Arjun bercanda.


Elsa yang mendengar itu tersenyum, ia menggengam tangan kiri Robin dan berkata. "Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali," ucapnya. Elsa pun juga melirik ke belakang. "Kegelapan yang ada di masa lalu akan tinggal di masa lalu, saatnya menciptakan cahaya di masa sekarang."


"Kamu benar, Sayang," ucap Robin kemudian ia mengecup tangan istrinya itu. "Dan ini semua terjadi berkat dirimu. Aku tidak tahu, kalau tidak ada kamu, mungkin kisah ini akan berbeda."


"Sebuah takdir yang luar biasa, bukan?"


Robin mengangguk dan kembali fokus pada setir, sementara Elsa justru memandangi wajah Robin seperti seorang remaja yang memandangi pria yang di taksirnya.


Elsa sendiri tidak pernah menyangka, kini ia berada di titik dimana seluruh kebahagiaan seolah tercurah untuknya setelah kehidupan pahit yang membuatnya tenggelam dalam sebuah kegelapan.


Namun, seperti yang Elsa katakan. Cahaya tidak akan terlihat tanpa adanya kegelapan. Bahkan, bintang dan rembulan pun hanya bersinar di tengah kegelapan.


Melawan musuh yang membawa pedang itu mudah, yang sulit itu melawan takdir tak pernah di inginkan.


Tapi, masalahnya, Tuhan tidak memberi apa yang hamba-Nya inginkan, melainkan apa yang meraka butuhkan.


......TAMAT......


Hai, SkySal mau promo lagi neh, sambil nunggu bonchapnya bocah tengil.


Judul : Aku padamu, juragan Aris


Penulis : Meidina



Aris terus menemani Ayu dan tak meninggalkan gadis itu sendirian, Aris merasa sedih melihat luka di wajah dan tubuh Ayu.


"seharusnya, aku mengantar mu pulang ya Ay, hingga tak akan terjadi hal seperti ini, rasa bersalah ini begitu besar karena kecerobohan ku kamu sampai seperti ini," kata Aris yang frustasi.


Ayu membuka matanya, dia pun melihat Aris, saat ingat kejadian buruk tadi, Ayu langsung histeris.


"pergi, jangan menyentuhku, pergi!!" teriak Ayu ketakutan.


Aris langsung memeluk Ayu, "tenang Ayu, ini Aris, jangan berontak lagi, lihat aku Ayu, lihat aku!" kata Aris sedikit berteriak agar gadis itu sadar.


Ayu yang menoleh dan melihat wajah Aris, langsung memeluknya, "tuan, tolong singkirkan pria-pria itu, aku merasa jijik dengan tubuhku, tolong...." tangis Ayu begitu pilu.


Aris pun memanggil dokter agar memeriksa gadis itu, setelah dokter visit dan memeriksa kondisi Ayu.


dokter memberikan saran pada Aris, agar Ayu di pindahkan ke rumah sakit yang bisa menangani tentang trauma.


Aris tak setuju, dia akan memanggil ahli hipnoterapi untuk membuang kenangan kelam itu.


Aris tak mau kehilangan senyum dan keceriaan Ayu, pasalnya dia adalah hidup pak Mun.


dokter pun mengerti dan memperbolehkan, dan luka di tubuh Ayu mungkin akan meninggalkan bekas nantinya.


Eko datang bersama Ambar saat melihat Aris baru keluar dari ruangan Ayu dengan pucat.


"bagaimana kondisi ayu bos?" tanya Eko yang membawa makanan.


"kondisinya sangat buruk, dia akan berteriak dan melukai dirinya sendiri lagi, dia berusaha untuk menghilangkan bekas yang telah di sentuh oleh pria biadab itu," jawab Aris dingin.