
"Arjun akan tinggal di rumah, kalian juga!" Elsa yang saat ini sedang membereskan barang-barang bayinya langsung mendongak mendengar apa yang di katakan Bu Anita, ia menatap ibu mertuanya yang sedang menggoda si kecil.
Mereka masih di hotel, dan Elsa ingin pulang ke apartment Robin namun ibu mertuanya ingin mereka pulang ke rumah.
"Maaf, Mama mertua. Tapi aku mau tinggal di apartement, aku lebih nyaman disana," kata Elsa bahkan ia menekan kata Mama mertua itu
"Robin itu satu-satunya putraku, dan Arjun satu-satunya cucuku, aku ingin tinggal bersama mereka, karena hanya mereka yang aku miliki," tukas Bu Anita panjang lebar, Elsa terdiam sejenak dengan senyum yang tertahan di bibirnya.
"Terus aku bagaimana? Tidak di hitung? Secara aku 'kan satu-satunya menantu Mama loh," kata Elsa menggoda. Ibu mertuanya itu hanya melirik Elsa sekilas, kemudian ia kembali mengajak bercanda sang cucu yang bahkan belum bisa melihat.
Elsa hanya mencebikan bibirnya, karena sepertinya ibu mertuanya ini tipe orang yang keras kepala dan juga punya ego yang tinggi, ia pun melanjutkan aktifitasnya dan tak berselang lama, Robin keluar dari kamar mandi.
Elsa langsung mengambilkan baju untuk suaminya itu. "Kita pulang kemana, Rob? Apartement atau...?" Elsa melirik Bu Anita yang kini menatap Elsa dengan tajam.
"Pulang ke rumah, Rob!" Tegas Bu Anita.
"Tapi aku lebih nyaman di apartement, aku sudah terbiasa disana," kata Elsa, ia tidak serius, hanya ingin menggoda ibu mertuanya itu.
Ah, entah kenapa Elsa selalu suka menggoda wanita paruh baya itu, bahkan sejak dulu, hingga sekarang, dan mungkin akan seterusnya. Elsa suka suara ketus ibu mertuanya, ia suka raut wajah kesalnya.
"Jangan bantah, ya! Di apartement itu tidak aman, lebih aman di rumah. Apa kamu sudah melihat berita kemarin? Ada anak yang terjebak di lift apartments selama setengah jam dan hampir mati?" Tanya Bu Anita dengan nada tinggi yang membuat Elsa terkekeh.
"Kemarin aku melihat ada berita kebakaran di sebuah rumah besar, ada anak yang hampir menjadi korban," tukas Elsa berbohong, Bu Anita berdecak kesal.
"Pokoknya kalian harus tinggal di rumah! Lagu pula, rumah itu juga nanti akan di wariskan untuk Baby Arjun. Aku ingin dia tinggal disana, memiliki banyak kenangan disana."
Ah, dua ratu?
"Mama mertua, pernah dengar pepatah mengatakan 'Jangan menempatkan dua ratu dalam satu istana'. Nanti kacau, tidak ada mertua dan menantu yang akur, pasti akan ada aja masalah yang datang," tukas Elsa.
Bu Anita terdiam dan memikirkan kembali kata-kata Elsa, ia juga pernah menjadi menantu yang tinggal bersama mertua, dan benar apa yang Elsa katakan.
"Baiklah, terserah kalian," tukas Bu Anita pasrah yang membuat Robin dan Elsa langsung melongo. Keduanya sama-sama terkejut karena Bu Anita mengalah.
"Yakin terserah kami, Ma?" Tanya Robin ingin memastikan.
"Iya, ini kehidupan kalian. Yang merasakan pahit manisnya itu kalian, dan kebahagiaan kalian itu juga sangat penting karena itu juga mempengaruhi kebahagiaan Baby Arjun," tukas Bu Anita dengan begitu tulus. Ia teringat dengan masa kecil Robin yang kurang bahagia dan itu karena dia dan mantan suaminya tidak bahagia sebagai pasangan.
" Aku gagal menjadi orang tua, dan aku tidak mau kalian juga gagal. Kalian harus mengambil pelajaran dari kehidupanku dan jangan sampai baby Arjun tumbuh seperti Robin." hati Robin mencolos mendengar ucapan sang ibu, ia pun langsung mendekati mamanya itu dan ia langsung memeluknya.
"Mama adalah mama terbaik di dunia untukku, Ma," ucap Robin tulus.
Elsa tersenyum, ia juga mendekati ibu mertuanya itu dan tiba-tiba Elsa mencubit pipinya yang membuat Bu Anita langsung melotot.
"Kami akan tinggal di rumah," kata Elsa. "Mama sudah tua, sudah keriput. Jadi jangan stres atau nanti Mama juga akan ubanan."
"Menantu durhaka!"
Tbc....