After Darkness

After Darkness
Episode 115



"Lalu, dimana video itu? "Tanya Elsa kemudian.


"Video apa? " Robin bertanya dengan bingung.


"Videoku dan Jimmy...."


Seketika Robin meringis, karena ia tidak pernah punya video itu. "Dimana, Robin?" Tanya Elsa lagi penuh penekanan. Robin jelas terlihat bingung, namun ia tak ingin Elsa mengetahui kebohongannya sekarang.


"Emm, videonya sudah aku hapus," ujar Robin kemudian ia beranjak dari tempat duduknya. "Ya sudah, aku mau masak dulu." Ia mencoba lari namun Elsa langsung menarik tangan Robin.


"Aku tidak percaya sama kamu, pasti kamu bohong!" Seru Elsa dengan tatapan tajamnya.


"Sepertinya kamu benar, karena mungkin suatu hari nanti aku membutuhkan video itu lagi...."


"Untuk mengancamku?" Sela Elsa dengan marah, Robin mencebikan bibirnya sambil mengedikan bahu, tentu hal itu membuat Elsa semakin kesal.


"Heh, hapus video itu. Sekarang!" Geramnya.


"Nanti, setelah kamu melahirkan," jawab Robin, ia memasang wajah tenangnya padahal hatinya berdebar, takut Elsa mengetahui kebohongannya.


"Kamu...." geram Elsa kesal.


"Iya, aku mau masak dulu." Robin menyela sambil terkekeh. "Aku tidak mau kamu dan anakku kelaparan." lanjutnya kemudian ia segera bergegas keluar dari kamarnya. Meninggalkan Elsa yang hanya bisa menggeram marah, ia mengambil bantal Robin dan memukulnya berkali-kali, melampiaskan kekesalannya sampai ia puas. Namun tiba-tiba Elsa mengangkat bantal itu, dan Elsa menghirup aroma Robin yang masih tertinggal di sana.


"Apa bocah itu tidur pakai parfum? Kenapa baunya enak ya?" gumamnya dengan kening berkerut, ia kembali menghirup aroma di bantal itu. "Tapi ini bukan aroma parfum."


.........


Di teriaki oleh Robin rasanya sangat menyakitkan, bahkan Bu Anita merasa ini jauh lebih sakit dari pada perselingkuhan yang di lakukan suaminya. Bu Anita terus menangis di kamarnya, dadanya masih terasa begitu sesak setiap kali mengingat bagaimana Robin membentaknya.


'Nyonya.... "


Di luar, Bi Sum memanggil Bu Anita sembari mengetuk pintu beberapa kali." Nyonya, sudah waktunya sarapan!"


Di dalam, Bu Anita menulikan telinganya. Ia menghapus air mata yang terus mengalir di pipinya, hingga kembali terdengar suara Bi Sum.


"Nyonya, nanti Nyonya sakit kalau telat makan, Nyonya juga harus minum obat," bujuknya.


Bu Anita menghela napas panjang, ia meraih tongkat di sisinyau kemudian ia pun turun dari ranjangnya dan membukakan pintu untuk Bi Sum.


"Apa sih, Bi?" Ketusnya. Bi Sum tersenyum hangat menanggapi Bu Anita yang sedang emosi itu.


"Den Robin di depan," jawab Bi Sum yang membuat kedua mata Bu Anita langsung melebar.


"Oh ya?" Tanyanya dengan antusias. Bi Sum mengangguk, ia membantu Bu Anita menemui Robin yang saat ini sedang menunggu Mamanya itu di sofa.


"Rob...." Robin menoleh, ia menatap sayu pada wanita yang telah melahirkannya itu. Robin beranjak dari tempat duduknya dan ia langsung memeluk sang ibu, serta mencium keningnya dengan lembut.


Hati Bu Anita menghangat, ia menangis hari dan membalas pelukan Robin dengan erat. "Mama fikir kamu mau pergi lagi, Rob," lirihnya.


"Mana mungkin ada anak yang bisa pergi dari ibu kandungnya, Ma," jawab Robin sambil tersenyum. "Aku minta maaf karena tadi membentak Mama." Robin melerai pelukannya, ia menghapus air mata ibunya itu.


"Mama senang karena kamu pulang, terima kasih ya."


"Berterima kasih lah pada Elsa, Ma. Karena dia yang memintaku pulang."


Tbc...