
Elsa terhenyak mendengar pertanyaan Robin, karena ia pun bingung kenapa dirinya lari, padahal Elsa sangat ingin menggugurkan kandungannya, Elsa kembali duduk.
"Aku ... aku tidak tahu," jawab Elsa lirih sembari menunduk, menatap perutnya, Elsa mengelusnya dengan lembut. "Hanya saja, membayangkan dia akan di keluarkan secara paksa dari tempatnya, itu pasti pasti sangat menyakitkan." lanjutnya sambil mendongak, menatap Robin yang saat ini juga menatapnya dengan sayu.
"Apa kamu bisa membayangkan, bagaimana rasanya jika kamu di usir dari rumah tempat kamu tumbuh? Pasti sangat sakit, kan? Pasti itu yang akan dia rasakan, kasihan sekali." Elsa berkata lirih yang membuat Robin terenyuh, ia langsung menarik Elsa dan memeluknya dengan erat yang membuat Elsa membeku seketika, bahkan Elsa menahan napas dengan bibir yag sedikit terbuka.
"Terima kasih banyak, Els!" Elsa tidak tahu harus berkata apa, ia hanya bisa terdiam mematung dan membiarkan Robin memeluknya, Robin bahkan mencium kepala Elsa, tanpa sadar Elsa menutup mata, menikmati pelukan Robin yang menimbulkan perasaan hangat di hati Elsa.
.........
"Robin terlihat sangat marah, Bi," ucap Bu Anita kemudian ia meneguk air dari gelasnya.
Bu Anita menarik napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan, mengingat tatapan Robin saat di rumah sakit membuat Bu Anita takut. Ia takut Robin kembali pergi dari rumah, meninggalkannya seperti dulu. Tatapan Bu Anita tidak fokus, ia meremas tangannya sendiri.
Sementara Bi Sum, ia tersenyum kecut, tak menyangka Nyonya yang selama ini ia anggap wanita baik ternyata tega mau membunuh janin yang tak bersalah.
"Bi, kenapa Bi Sum diam saja?" Tanya bu Anita sambil menoleh, menatap pembantu yang selalu setia menemaninya selama ini.
"Kenapa Nyonya melakukan itu?" Bi Sum bertanya dengan lirih. "Anak itu tidak salah, Nyonya."
"Kamu membela Elsa?" Bu Anita menyipitkan matanya pada Bi Sum, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring. "Apa semua orang sudah terkena sihir Elsa?" Tanyanya dengan sinis.
"Maafkan saya, Nyonya. Tapi sebagai wanita dan sebagai seorang ibu, tidak akan pernah terbersit sedikitpun dalam benak saya untuk membunuh janin yang baru tumbuh dalam rahim seorang wanita." Bu Anita tertawa hambar mendengar ucapan Bi Sum yang menurutnya sok bijak itu.
"Kamu tidak tahu bagaimana perasaanku sebagai ibu Robin , Bi. Dia masih sangat muda, aku melakukan semua ini demi masa depan dia, demi nama baik dia."
"Terkadang, ada yang lebih penting dari pada apa yang Anda katakan, Nyonya. Yaitu perasaan dan keinginan Den Robin sebagai seorang anak. Karena jujur saja, saya merasa Den Robin mencintai Elsa."
"Apa?"
.........
"Aku janji akan merawat anakmu ini sampai dia lahir," tukas Elsa sembari menikmati nasi goreng yang di buatkan Robin untuknya.
Robin tersenyum mendengar apa yang di katakan Elsa.
Meskipun ia menyadari perasaan cintanya, namun Robin tak memiliki keberanian untuk menyatakan cintanya itu pada Elsa apalagi untuk menyatakan keinginannya yang ingin memiliki Elsa. Robin mencoba menerima fakta, bahwa yang bisa ia miliki hanya buah hati mereka dan itu sudah lebih dari cukup untuknya.
"Terima kasih banyak, Els," ucap Robin. "Aku rasa sebaiknya kita masuk, makan di dalam, ya? Disini dingin, nanti kamu masuk angin," bujuknya.
"Aku masih suka disini," sanggah Elsa bahkan ia setengah merengek manja, tanpa ia sadari hormon kehamilannya memberikan banyak perubahan padanya dan Robin mengerti hal itu.
"Baiklah, aku ambilkan jaket dulu," ucap Robin sambil tersenyum, Elsa hanya mengedikan bahunya dan kembali ia menikmati nasi gorengnya.
Robin kembali dengan membawa jaket Elsa yang ia temukan di lemari Elsa, Robin memakaikannya dan Elsa tak menolak di perhatikan sedemikian rupa.
"Masakan kamu enak," puji Elsa yang membuat Robin tersenyum.
"Aku sudah lama tinggal sendirian di kos-an, jadi aku bisa masak untuk menghemat uang," jawab Robin. Ia duduk di samping Elsa, menilik wanita yang akan melahirkan anaknya itu, jantung Robin berdebar dan itu membuatnya tersenyum.
"Jadi, seperti ini rasanya jatuh cinta?" Ia menggumam dalam hati.
"Sebenarnya, kamu melakukan kesalahan dan kebodohan yang luar biasa dengan kabur dari rumahmu," tukas Elsa yang membuat Robin tersenyum masam.
"Kamu tidak tahu apa yang terjadi di keluargaku, Els. Kami hancur, kami kacau, aku tidak tahan melihat kelakuan Papa yang terus menyakiti Mama, aku tidak tahan dengan pertengkaran mereka."
"Dan dengan kabur dari rumah, kamu membuat keluargamu semakin hancur. Kamu balas dendam pada semua wanita yang menjadi simpanan ayahmu untuk mengobati rasa sakit ibumu, padahal itu hanya menambah rasa sakit dia, Rob. Obat yang sebenarnya adalah kamu sendiri, cinta kamu, perhatian kamu, kesetiaan kamu di sisinya." Robin menatap Elsa lekat-lekat, hatinya tercubit mendengar apa yang di katakan Elsa, ia tak bisa berkata-kata karena tanpa ia sadari, ia juga berperan besar dalam hancurnya keluarganya.
"Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu karena aku tidak pernah ada di posisi kamu, aku hanya mengatakan apa yang aku fikirkan," ucap Elsa lagi namun Robin menggeleng sambil tersenyum.
"Kamu benar, Els. Aku yang salah, sebagai anak seharusnya aku menjaga Mama, bukannya malah pergi," kata Robin.
"Tapi, kenapa tadi kamu bisa ada di rumah sakit bersama Mama?"
Tbc...