After Darkness

After Darkness
Episode 53



"Apa dia bilang? Berdebat setelah masak? Dia fikir aku suaminya apa? Yang harus menunggu dia selesai masak baru bisa berdebat, dasar wanita aneh." geram Robin yang saat ini sedang mandi, ia mengusap kepalanya yang kini di penuhi busa shampoo sambil terus menggerutu.


"Seharusnya aku yang membuat dia kesal, seharusnya dia nangis-nangis di sini bukannya malah begini." lanjutnya. Robin kembali menyalakan shower yang seketika air dari shower mengguyur tubuhnya.


"Pantas saja dia mau cepat-cepat dapat hp baru, rupanya mau telfon pacarnya. Benar-benar wanita aneh, apa bagusnya dia jadi simpanan Rion yang hanya menager restaurant, gajinya pasti hanya


cukup untuk hidup pas-pasan" gumam Robin sembari mengusap wajahnya yang basah. Kini ia menyambuni tubuhnya dan masih terus menggerutu kesal pada Elsa.


.........


"Bawa ini buat Pak Andrew ya, Bi," kata Elsa yang menyiapkan satu porsi makanan terpisah untuk Pak Andrew setelah ia menyajikan makanan untuk Robin dan Bu Anita di meja makan, Bi Sum pun segera mengantarkan makanan itu ke kamar Pak Andrew.


Elsa duduk di kursi dan ia meregangkan tubuhnya yang terasa kaku dan pegal setelah semua aktivitas yang ia lakukan hari ini, padahal di rumahnya sendiri Elsa tidak pernah kerja rodi seperti ini.


"Sabar, Elsa. Kamu harus bisa tenang, karena hanya orang yang tenang yang mampu berfikir jernih," gumam Elsa menyemangati dirinya sendiri. Setelah beristirahat sejenak, Elsa mencuci tangan kemudian ia keluar, menghampiri Bu Anita yang sudah ada di meja makan.


"Tidak makan, Nyonya?" tanya Elsa yang melihat Bu Anita belum juga makan.


"Menunggu Robin," jawab Bu Anita dengan ketus dan Elsa mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum tipis.


"Oh ya, Nyonya. Apa sudah memberi tahu Den Robin kalau Nyonya mau tinggal kamar di bawah saja?" tanya Elsa yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Bu Anita.


"Kenapa kamu ikut campur urusan keluarga kami, eh?" desis Bu Anita tajam "Aku rasa pekerjaan kamu di sini hanya melayani, bukan ikut campur urusan pribadi kami." Elsa tersenyum miring mendengar ucapan percaya dari Nyonya lumpuh ini.


"Aku hanya memberi saran dan aku ingin tahu apakah saranku berguna atau tidak, itu saja." tukas Elsa santai sambil mengedikan bahunya.


Tak lama kemudian Robin pun datang, ia hanya memakai boxer selutut di padukan dengan kaos tanpa lengan. Rambutnya bahkan masih sedikit basah, tercium aroma sabun dan shampoo yang menguar dari tubuhnya saat Robin berjalan melewati Elsa kemudian duduk di sisi Mamanya. Sekilas Elsa menghirup aroma itu tanpa sengaja, aroma masukulin yang terasa memanjakan indera penciuman Elsa.


"Selamat malam, Den Robin. Tumben makan malam dirumah, untung saja aku masak hari ini," ucap Elsa sambil tersenyum manis yang membuat Robin mendelik.


"Dan tumben kamu bersikap manis sama aku, Els." balas Robin.


"Aku sengaja," ujar Elsa kemudian dengan entengnya.


"Sengaja kenapa? Kamu mau buat aku tertarik sama kamu, begitu? Mau menggoda ku, hem?" Robin berkata sambil tersenyum dan ia menampilkan wajah coolnya.


"Aku tidak menggoda berondong, Den Robin." Elsa berkata dengan tenang namun rupanya itu kembali memancing emosi Robin.


"Berondong, kamu bilang?" teriak Robin ia bahkan sampai kembali berdiri dari kursinya, Bu Anita yang melihat reaksi Robin pun juga terkejut apalagi Elsa namun Elsa tetap berusaha tenang.


"Elsa!"


"Robin!" seru Bu Anita "Sebaiknya kita makan, tidak usah di ladenin wanita ini." tegas Bu Anita "Dia memang wanita tidak punya malu dan tidak punya sopan santun." lanjutnya yang membuat emosi Elsa kembali terpancing namun Elsa berusaha sebisa mungkin menahannya seperti tadi.


Robin pun kembali duduk di kursinya dan tatapan nya menatap tajam pada Elsa yang justru melemparkan senyum samar padanya.


Elsa pun hendak pergi dari ruang makan namun Robin menghentikannya.


"Sajikan makanan untukku!" perintah Robin, Elsa mendengus namun kemudian ia tetap berusaha tersenyum. Elsa pun menyajikan makanan untuk Den Robinnya itu dan Elsa memberinya porsi yang sangat banyak.


"Kamu fikir aku kuli bangunan?" geram Robin kemudian.


"Apa tidak bisa kalau bicara itu jangan pakai emosi, Den? Nanti cepat tua lho." goda Elsa yang kembali membuat emosi Robin naik satu tingkat namun kali ini Robin berusaha tak terpancing.


"Ngomong-ngomong..." kata Elsa yang kini mengurangi porsi makan Robin "Gajiku berapa di sini? Aku butuh uang lho," goda Elsa lagi sambil meletakkan piring didepan Robin.


"Kamu tidak di gaji!" seru Bu Anita tegas "Kamu di sini untuk membayar kesalahanmu karena sudah menjadi selingkuhan suamiku." lanjutnya.


"Terus kalau aku butuh baju baru? Pulsa? Skincare, aku harus minta sama siapa kalau aku tidak di gaji?" tanya Elsa yang membuat Bu Anita dan Robin melongo, padahal tadi mereka berfikir Elsa akan tersinggung dan sakit hati.


"Itu bukan urusanku!" seru Bu Anita dan ia pun mulai menikmati hidangan makan malamnya, Robin pun melakukan hal yang sama.


Baik Robin maupun Bu Anita merasa masakan Elsa memang cukup enak, dan yang pasti sangat beda rasanya dengan masakan Bi Sum.


"Aku yakin kalian tahu itu aku yang masak, tadi aku campur racun tikus lho," ucap Elsa lagi dengan tenangnya yang membuat Robin dan Bu Anita melongo, keduanya pun langsung melepeh makanan mereka, yang membuat Elsa tertawa geli apalagi ketika melihat raut wajah mereka yang sangat panik.


"Haha, kalian lucu sekali," ujar Elsa di tengah tawanya yang membuat Robin sangat marah


"ELSA!!!" geram Robin yang seketika membuat Elsa langsung menutup mulutnya.


"Kamu fikir itu lucu, huh?" teriak Robin sambil memukul meja makan dengan keras, membuat Bu Anita dan Elsa sama sama terkesiap.


"Aku cuma bercanda!" seru Elsa kemudian "Lagian kalian ini aneh, aku bilang aku bukan selingkuhan Pak Andrew, kalian tidak percaya padahal aku jujur. Aku bilang aku meracuni kalian, kalian percaya begitu saja padahal aku cuma bercanda. Kalian juga bisa makan masakan ku dengan tenang tanpa curiga sedikitpun sama aku, aku jadi bingung sebenarnya kalian ini percaya atau tidak sama aku." gerutu Elsa kemudian ia bergegas kembali ke dapur.


Sementara Robin kini ia terdiam setelah mendengar ucapan Elsa, ia sendiri merasa bimbang dengan kepercayaan hatinya dan Elsa benar, kenapa mereka bisa dengan mudah percaya pada Elsa dan menikmati makanan yang di masak oleh Elsa, padahal tidak menutup kemungkinan sedikitpun candaan Elsa itu benar adanya.