
"Kenapa kamu tidak pipis dari tadi? Sebelum aku pulang? Apa mau pipis aja masih harus nunggu aku, begitu?" Gerutu Robin sembari menyajikan makanan yang sudah ia panasi untuk Elsa, sementara Elsa tak menanggapi ucapan Robin sedikitpun, ia justru sibuk menghirup aroma makanan itu.
"Hmmm, besok belikan lagi ya!" Serunya dengan tenang yang membuat Robin melongo namun kemudian ia hanya bisa geleng-geleng kepala.
Robin duduk di samping Elsa yang kini mulai menikmati makanan itu, Robin memperhatikan wajah Elsa yang semakin hari semakin terlihat cantik, berseri, dan selalu Robin rindukan saat ia pergi ke kantor.
"Apa aku lamar saja dia sekarang? Tapi bagaimana kalau dia menolakku lagi?" Robin sudah membuka mulut untuk mengutarakan niatnya itu namun tiba-tiba Elsa berkata.
"Robin, bagaimana perjodohanmu dan gadis bernama Mayra itu?" Pupil mata Robin langsung melebar seketika mendengar pertanyaan Elsa, ia menatap wanita itu penuh tanda tanya. "Aku tahu dari Bi Sum," kata Elsa yang seolah mengerti isi kepala Robin.
"Emm, aku menolaknya," jawab Robin lirih dan Elsa yang sejak tadi hanya menunduk pada makanannya langsung menoleh.
"Kenapa?" Tanyanya dengan alis yang sedikit terangkat. "Kata Bi Sum dia masih muda, cantik, lulusan luar negeri."
"Aku sudah jatuh cinta padamu."
Deg
Elsa menahan napas selama beberapa detik, apalagi saat tatapannya bertemu dengan tatapan Robin yang begitu dalam.
Untuk yang kedua kalinya Elsa mendengar pengakuan cinta Robin, dan rasanya sekarang sangat berbeda, bagaimana Robin menatapnya, bagaimana nada cinta itu terucapkan, terasa begitu menyentuh di hati Elsa.
"Aku tahu, mungkin kamu masih membenciku atas apa yang sudah aku lakukan selama ini, Els. Tapi aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu, dengan sangat tulus...." Robin berkata dengan suara yang begitu rendah dan tatapan sendu sementara Elsa hanya bisa mendengarkan dalam diam dengan jantung yang berdebar.
"Maukah kamu menikah denganku, Elsa? Maukah kamu merawat anak kita bersama-sama sebagai orang tua yang sempurna?
Deg
Lagi-lagi Elsa menahan napas dan jantungnya seperti berhenti berdetak selama beberapa saat, hati Elsa berdesir hangat, otaknya blank, tidak tahu harus menjawab apa dan lidahnya terasa kelu.
"Els...." Robin menggenggam tangan Elsa dengan lembut. "Apa kamu tidak bisa memberiku kesempatan sedikit saja?"
"Aku..." Elsa menjilati bibirnya yang tiba-tiba terasa kering, tubuhnya panas dingin dan ia gemetar.
"Tidak apa-apa jika kamu butuh waktu, Els. Ak akan menunggu sampai kapanpun!" Tegas Robin yang membuat hati Elsa terenyuh karena kata-kata itu bukan hanya terucap dari bibir Robin tapi juga terlihat kejujuran di matanya.
"Baiklah, kamu lanjutkan makannya, kasihan anak kita juga pasti lapar."
.........
Elsa melipat kedua tangannya di atas perutnya sementara tatapannya lurus menatap langit-langit kamarnya, fikiran Elsa melayang mencari jawaban dari pertanyaan Robin.
Satu tangan Elsa menyentuh dadanya dimana jantungnya berdetak kencang setiap kali ia dekat dengan Robin. Elsa begitu nyaman saat bersama pria itu, walaupun dulu dia seperti monster yang melecehkan dirinya tanpa ampun, namun sejak Elsa hamil, Robin memperlakukannya dengan sangat berbeda. Begitu lembut, manis dan Robin selalu mengalah pada semua keegoisan Elsa.
Dan saat Elsa teringat bagaimana Robin berusaha mempertahankan bayi Elsa, Elsa tersenyum.
"Dia bertanggung jawab, saat pria lain mungkin akan memberiku uang agar membunuh anaknya, Robin justru melakukan sebaliknya. Tapi dia lebih muda dariku, bisakah kita menjalani pernikahan beda usia seperti ini?
**Tbc...
Ehem ehem..., bisa engga ya?
Btw, sambil menunggu jawaban Elsa, yuk mampir di cerita Kak Triple . Jangan lupa sampaikan salam Sky sama Kak Triple ya. 😘
Judul : Truly Madly Love
Penulis: Triple. 1
Hubungan jarak jauh tidaklah mudah. Apalagi jika keadaan yang sangat memaksa membuat mereka terpaksa menjalaninya.
Walaupun Lily lebih muda tujuh tahun dari Zack Alexander. Lily dapat membuktikan bahwa dia dapat bertahan dengan ketulusan cintanya.
Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat dalam menjalani hubungan jarak jauh. Pada tahun kelima, Zack menghilang. Lily kehilangan kontak dan semua akses terhadap Zack.
Dua tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Namun, Zack telah memiliki keluarga kecil.
Akankah Lily menyerah tanpa menuntut penjelasan Zack**?