
Hidup adalah pengorbanan, tidak ada yang gratis dan semuanya harus di bayar mahal apalagi jika itu demi sebuah kebahagiaan maupun kesuksesan.
Robin sangat terpaksa memisahkan putranya dari ibunya agar mereka bisa bersama kembali. Robin dengan berat hati, tak membiarkan putranya menyusu pada ibunya demi masa depan mereka.
Bukan hal yang mudah bagi Robin melihat Elsa sakit dan menangis karena berpisah dengan buah hatinya namun Robin harus melakukan itu demi kebahagiaan mereka.
Dan Robin mendapatkan hasil dari apa yang dia usahakan, putranya mendapatkan ibunya kembali, dan tentu ia juga mendapatkan wanitanya yang benar-benar angkuh dan egois ini.
Robin masih mengurung tubuh Elsa dalam pelukannya, sementara wanita itu terus memberontak hingga akhirnya Robin langsung mengunci tangan Elsa dan ia menyambar bibir Elsa.
Elsa terkesiap, namun kemudian ia tersenyum senang dan membalas ciuman Robin dengan lembut.
"Marry me, please!" Elsa berbisik di sela-sela ciumannya dan Robin justru menggigit bibir Elsa, menariknya hingga membuat Elsa mengerang lirih.
Saat Elsa membuka mulut, Robin langsung menyusupkan lidahnya di sela bibir Elsa, mencari lidah Elsa, mengajaknya menari bersama.
Elsa menerimanya, ia melayang, darahnya berdesir, jantungnya berdebar dan ia mengalungkan lengannya di leher Robin saat tiba-tiba ia merasakan kedua lututnya lemas karena hasrat yang terpancing.
Keduanya terus berciuman dengan panas hingga akhirnya terdengar suara ketukan di pintu, keduanya terkejut dan langsung melepaskan diri namun saat Elsa hendak menjauh dari Robin, Robin langsung menarik pinggang Elsa dan ia memeluknya dengan erat.
"Masuk!" teriak Robin.
Pintu terbuka pelan-pelan di susul dengan kepala Elnaz yang nongol. "Apa yang terjadi di dalam sini?" Tanya Elnaz yang masih hanya menongolkan kepalanya saja.
"Hai, El..." sapa Robin tanpa melepaskan Elsa, sementara Elsa mencoba memberontak namun Robin tak bergeming.
Elnaz mendelik, selama ini Robin bersikap acuh padanya dan ia juga masih kesal atas semua yang Robin lakukan pada kakaknya. Elnaz membuka pintu lebih lebar, ia memasang wajah cemberut dan berjalan mendekati Elsa.
"Kita kesini cuma mau jemput ponakan, Kak. Kenapa Kak Elsa malah pelukan sama dia?" Tanya Elnaz.
"Aku memeluknya karena aku benar-benar senang, baru saja Kakakmu yang arogan ini melamar ku," kata Robin yang membuat Elnaz menganga.
"Terus? Apa Kak Elsa akan menikah sama Robin?" Tanya Elnaz lagi dan lagi-lagi Elsa mengangguk pelan.
"Hem gitu...." Elnaz menggumam kemudian pandangannya tertuju pada bayi Elsa yang sedang tertidur di atas ranjang.
Elnaz menghampiri keponakannya itu dan ia tampak mengagumi malaikat kecil Elsa dan Robin itu. "Dia sangat tampan, Ara punya teman deh," ucapnya kemudian ia menoleh pada Elsa dan Robin yang masih berpelukan, Elnaz meringis.
"Jadi bagaimana? Kita pulang atau bagaiamana? Ara menunggu di rumah lho, dia tidak bisa tidur kalau belum di susui," tukas Elnaz kemudian.
Elsa menatap Robin dengan tatapan yang sendu, Robin membalasnya dengan senyuman, ia membelai pipi Elsa kemudian mengecup kening Elsa dengan lembut.
"Kita akan menikah, secepatnya. Kalau perlu malam ini," tukasnya penuh keyakinan yang membuat Elsa terharu.
"Minggu depan saja, ya. Wajahku masih kusam, selain itu, aku masih belum bisa terlalu banyak bergerak, aku juga mau pernikahanku berkesan dan menyiapkan semuanya dengan benar," kata Elsa.
"Terus? Selama satu minggu ini kita bagaimana? Tinggal di apartement lagi ya?" Elsa melirik Elnaz dan Elnaz menggelengkan kepala, memberi isyarat pada Elsa.
"Aku akan tinggal di rumah El," jawab Elsa kemudian yang tentu saja membuat Elnaz terkejut karena tak biasanya Elsa mau menerima pendapat orang lain.
Robin terdiam sejenak, namun kemudian ia tersenyum dan mengangguk.
"Aku akan kesana setiap hari, aku tidak bisa melewati hari tanpa melihat Baby Arjun," tukasnya yang membuat Elsa tersenyum senang karena Robin tak memaksanya.
"Baby Arjun? Namanya baby Arjun?" Tanya Elnaz penasaran.
"Iya, namanya bagus kan, El? Penuh makna, Arjun yang tampan, pemberani, dan jujur." Elsa berkata sembari menatap putranya yang kini menggeliat namun masih memejamkan mata.
"Baiklah, sudahi saja pelukan kalian. Sambung minggu depan lagi, sebaiknya sekarang kita pulang karena El juga punya pasangan yang menunggu."
Tbc....