After Darkness

After Darkness
Episode 168



"Dan kalau Mayra orang pertama yang menggendong putraku, maka aku adalah ibu yang mengandungnya selama 9 bulan dan dia makan dari darahku!"


Robin terenyuh dan tatapannya berubah sendu mendengar ucapan Elsa yang penuh penekanan, apalagi saat melihat keseriusan di mata Elsa.


Kearoganan itu sudah tidak ada, hanya ada ketegasan sebagai seorang ibu. Namun, sekali lagi Robin masih tidak puas memberi pelajaran pada wanita paling arogan namun paling ia cintai itu.


"Kamu tidak mengandungnya selama 9 bulan, kamu melahirkan lebih cepat, jadi tidak sampai 9 bulan," tukasnya secara asal, apapun akan ia ucapkan untuk membuat Elsa kesal dan itu berhasil, Elsa menangis tersedu-sedu saking kesalnya. Elsa menarik jas Robin yang ada di ranjang dan membuang ingusnya dengan jas itu yang membuat Robin melongo.


"Kamu kenapa sih, huh? Sengaja banget bikin aku kesal? Aku itu cuma mau menikah sama kamu, aku mau hidup sama kamu dan anak kita! Udah, itu aja! Aku janji tidak akan egois lagi! Aku janji akan mementingkan kalian berdua di atas segalanya bahkan di atas nyawaku!" Elsa berkata dengan dada yang bergemuruh bahkan ia mengucapkan kalimat itu hanya dalam satu tarikan napas.


Robin begitu tersentuh dan ia tahu Elsa mengatakan hal itu dari dalam hatinya, bahkan Elsa kini kembali menangis sesegukan.


"Tapi ini malam pernikahanku dan Mayra, Els. Semuanya sudah terlanjur terjadi," kata Robin kemudian.


"Tapi ... hiks, belum terlambat. Belum akad, kan?" Elsa kembali membuang ingusnya dengan jas Robin dan ingusnya itu keluar banyak, entah dia sengaja atau tidak, namun tentu rusaknya jas pengantin sudah berita yang buruk.


"Tapi tidak mungkin aku membatalkan pernikahanku, semua tamu sudah datang," tukas Robin dengan nada yang lebih lembut.


"Kamu sudah gila, ya?" Seru Elsa kemudian dengan nada tinggi. "Kamu kan cintanya sama aku, kenapa mau menikah sama wanita lain? Kamu juga punya anaknya dari aku, kenapa mau bersama wanita lain, huh?" Elsa melempar jas Robin penuh emosi bahkan kini ia berdiri tegak di depan Robin dan menatap Robin dengan tajam.


"Kamu yang gila!" Balas Robin tak mau kalah. "Datang-datang langsung cium aku, terus nyusui bayi aku di depan mataku. "


" Aku tidak sengaja melakukannya, Sialan! aku spontan karena aka sangat merindukan kamu!" Seru Elsa semakin kesal.


"Kamu sudah janji tidak akan berkata kasar di depan anak kita, Els!" Robin mengingatkan dengan kesal dan Elsa justru semakin menangis, pundaknya bergetar.


"Maaf, hiks hiks...." Elsa menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia benar-benar bingung bagaimana meyakinkan Robin bahwa ia sangat mencintai Robin dan tak bisa kehilangan bocah yang benar-benar tengil itu.


Melihat Elsa menangis seperti ini membuat Robin tersenyum puas karena ia sudah berhasil menghukum Elsa. Robin menarik Elsa ke dalam pelukannya dan ia mendekap Elsa dengan erat, Robin mengusap kepala Elsa dan menghujani pucuk kepala Elsa serta ubun-ubun nya dengan kecupan-kecupan kecil.


"Maaf," kata Robin dengan lembut. "Sudah jangan menangis lagi." lanjutnya namun tangis Elsa justru semakin pecah, kemeja Robin pun sudah basah karena air mata dan ingus Elsa.


"He'em," jawan Elsa yang semakin menenggelamkan wajahnya di dada Robin.


"Tapi aku jauh lebih muda lho dari kamu," Goda Robin.


"Syarat menikah tidak harus prianya lebih tua, kan?" Robin menahan senyum mendengar jawaban Elsa.


"Tapi nanti kamu di pandang buruk lho sama orang, kamu akan di anggap merebut calon suami orang lain dan menghancurkan kehidupan wanita lain."


"Aku tidak perduli, yang penting aku, kamu dan bayi kita bahagia," jawab Elsa dengan suara yang parau dan ia masih sedikit sesegukan. "Lagi pula, kalau kamu menikah sama Mayra, bisa jadi dia tidak bahagia karena kamu mencintai aku dan kamu juga tidak akan bahagia hidup dengan wanita yang tidak kamu cintai." lanjutnya yang membuat Robin tersenyum, karena ternyata keegoisan wanita ini masih ada.


"Terus, kamu sudah pernah tidur dengan pria lain, gimana tuh?" Tanya Robin karena alasan Elsa menolaknya juga karena masa lalu itu. Elsa mendongak dengan bibir yang mencebik.


"Itu masa lalu!" Tegasnya sambil menatap mata Robin dengan dalam. "Di masa depan tidak akan pernah terjadi, aku cuma milik kamu!" Robin tersenyum dan ia puas mendengar jawaban Elsa.


"Terus? Mau kamu sekarang apa, hm?" Robin bertanya sembari merapikan rambut Elsa yang benar-benar berantakan dan mengganggu wajahnya.


"Kita menikah! Hidup sama si kecil," jawab Elsa dengan suara yang tercekat, karena inilah yang benar-benar ia inginkan.


"Si kecil belum aku beri nama," ucap Robin dengan suara yang juga tercekat. Tatapan keduanya kini penuh haru dan berkaca-kaca.


"Arjuna, apa itu nama yang bagus?" tanya Elsa dan Robin langsung mengangguk setuju.


"Arjuna putra Robin dan Elsa. Arjuna Sriwijaya."


Tbc...


*Senang nggak? Sengang nggak? ya senang lah masak nggak. Hehe.


Terus, eps selanjutnya gimana ya*?