
Elsa berdiri di bawah guyuran air shower yang membasahi tubuhnya, ia memejamkan mata dan teringat kembali dengan sentuhan Robin yang begitu lembut, sentuhan bibir juga tangannya. Elsa bingung, kenapa ia menyukai hal itu?
Elsa mengusap wajahnya, ia membuka mata dan menarik napas. Teringat kembali dengan hari-hari yang ia lewati bersama Robin di apartement ini, Elsa mulai menyadari ada yang berbeda dengan dirinya.
"Aku bahkan terkadang bersikap manja padanya, kenapa bisa? Apa ini juga bawaan bayi?" Elsa menggumam bingung.
Elsa merasakan perutnya yang keroncongan, pertanda sudah seharusnya ia mengisi perutnya itu, Elsa segera menyelesaikan mandinya sebelum akhirnya keluar dari kamar.
Karena sudah sangat lapar, Elsa hanya memakai bathrobe dan membungkus kepalanya dengan handuk, ia berjalan ke dapur tanpa alas kaki.
Di meja makan, sudah ada roti bakar dan segelas susu hangat yang sudah pasti di siapkan Robin untuknya. Elsa membawa semuanya ke kamar karena ia tidak ingin bertemu dengan Robin.
Sementara itu, Robin juga telah selesai mandi dan juga sudah berpakaian sangat rapi, ia harus kembali bekerja seperti biasa.
Saat Robin turun, ia pergi ke dapur dan melihat meja makan sudah kosong, Robin hanya tersenyum samar, ia ingin pamitan pada Elsa namun Robin tak berani, ia takut Elsa masih marah padanya. Robin hanya meninggalkan pesan yang berisi perintah agar Elsa tidak melakukan pekerjaan rumah lagi.
...
"Jika saya boleh menyarankan, kita sangat membutuhkan pak Andrew lagi, Pak," cicit Joanna setelah memberikan laporan perusahaan yang bulan ini menurun drastis. Tentu saja, Robin masih belajar, dan ia sibuk dengan berbagai masalah sehingga Robin tidak bisa memimpin perusahaan sebaik ayahnya.
" Jadi, menurut kamu, aku tidak mampu memimpin perusahaan?" Robin bertanya dengan tajam.
"Anda mampu, tapi masih butuh banyak belajar," jawab Joanna dengan berani. "Sudah bertahun-tahun saya bekerja di perusahaan ini dan saya sangat perduli dengan perkembangan perusahaan ini, apa yang saya sarankan demi kebaikan perusahaan ini," tukas Joanna.
Robin terdiam, tentu ia juga ingin perusahaannya berkembang.
"Saya harap, anda bisa bersikap profesional, Pak Robin," ucap Joanna lagi yang membuat Robin kembali berfikir.
"Baik, Pak. Saya akan segera menemui pak Andrew," ujar Joanna dengan gembira. "Oh ya, jika saya juga boleh memberikan saran yang lain," ucapnya kemudian, kini tatapannya tampak berbeda.
"Apa?" Tanya Robin sambil melirik Joanna sekilas.
"Saya cuma mau menyarankan agar pak Robin tidak terlalu percaya pada wanita yang bernama Elsa itu, Pak." Robin langsung mendongak dan melemparkan tatapan dinginnya pada Joanna. "Saya yakin, Elsa pasti cuma mau memanfaatkan Pak Robin, saya kenal banyak wanita yang seperti itu. Bahkan saya curiga, jangan... Jangan anak yang di kandung Elsa itu bukan...."
"Keluar!" Desis Robin tajam menyela ucapan Joanna.
"Tapi...."
"Sekarang!" Geram Robin dengan tatapan yang begitu mengintimidasi, membuat nyali Joanna menciut dan ia pun langsung melangkah cepat keluar dari ruangan Robin.
...
Elsa membaca pesan Robin sambil cemberut. "Dia benar-benar posesif," gerutunya.
Elsa yang merasa bosan di apartement pun akhirnya memutuskan keluar, untuk menghirup udara bebas.
Elsa pergi supermarket terdekat, ia berbelanja berbagi macam barang meskipun ia tak membutuhkannya.
Dan saat melihat es krim, Elsa seperti ngiler, ia pun mengambil beberapa kotak dan memasukannya ke dalam keranjang belanjaannya. Saat berbalik, Elsa menabrak seseorang yang sangat ia hindari.
"Elsa..."