
Tiga minggu kemudian...
Tanpa Elsa di rumahnya merupakan sesuatu yang sulit Robin biasakan, karena sejak ia mengirim Elsa pulang, Robin merasakan seperti ada yang hampa dalam hatinya. Bukan hanya itu, Robin masih merasa Elsa selalu gentayangan, seolah selalu hadir di sekitarnya.
Namun Robin mencoba menepis semua bayangan itu, karena ia harus fokus pada sidang skripsinya, belum lagi perusahaannya dan yang paling penting adalah perceraian kedua orang tuanya yang kini mulai berjalan.
Semakin hari kondisi Pak Andrew juga semakin baik, apalagi Robin mulai menyerahkan perawatannya pada Dokter profesional. Alasan Robin melakukan itu karena ia ingin perceraian itu secepatnya selesai, kemudian ia dan Mamanya bisa bisa hidup tenang.
Tanpa terasa, tiga minggu telah berlalu. Bukan waktu yang sebentar bagi Robin yang melewati banyak kesibukan setiap harinya, bahkan kini ia semakin kurus dengan lingkaran mata yang terlihat sangat jelas di depan matanya.
.........
"Uweekkk..." Elsa memuntahkan makanan yang baru saja masuk ke dalam perutnya, tubuhnya terasa lemas, wajahnya pucat dan ia merasa sangat pusing.
Kondisinya tidak baik selama beberapa hari ini, Ibunya sudah mengajak Elsa ke Dokter namun Elsa mengatakan ia hanya masuk angin.
Elsa membersihkan mulutnya, kemudian ia mencuci wajahnya agar merasa sedikit lebih segar.
"Bagaiamana jika apa yang aku takutkan terjadi?" lirih Elsa sembari menatap bayangan dirinya di cermin, menatap wajahnya yang pucat, matanya yang cekung bahkan bibirnya juga kering.
Elsa memegang perutnya yang masih rata, ia selalu berdoa agar tak ada janin yang tumbuh di sana atas apa yang sudah Robin lakukan. Elsa tidak bisa tenang setelah kejadian itu, apalagi saat itu ia sedang dalam masa subur dan Robin tidak memakai pengaman saat menyentuhnya. Dan karena itu juga lah Elsa selalu menolak di bawa ke Dokter, Elsa juga enggan membeli test peck karena Elsa takut dengan hasilnya.
"Ya tuhan, tolong jangan! Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika ini sampai terjadi, apa yang harus aku katakan pada orang tua ku nanti?" ia menggumam dengan sangat lirih.
.........
"Katanya cuma masuk angin, Mas," jawab Bu Isna.
"Tapi sudah hampir seminggu dia begini terus, mual, tidak selera makan, aku khawatir nanti dia drop." tukas Pak Malik memberi tahu ke khawatirannya terhadap sang istri.
"Besok aku coba bujuk Elsa lagi, semoga saja dia tidak apa-apa." setelah mengucapkan hal itu, Bu Isna terdiam dan ia mengingat kondisi Elsa belakangan ini, Bu Isna mengerutkan keningnya.
"Kenapa kondisi Elsa seperti kondisi hamil muda?" gumamnya lirih "Tidak, tidak mungkin Elsa melakukan itu."
.........
Hari sudah semakin larut, di luar sana begitu gelap dan cuaca begitu dingin menusuk ke tulang-tulang. Namun Elsa tak memperdulikan hal itu, setelah memastikan kedua orang tua nya sudah tidur, secara diam-diam Elsa pergi ke apotek yang di buka 24 jam.
Elsa sudah tidak tahan dengan kondisi yang ia alami selama beberapa hari ini, meskipun takut, namun Elsa mencoba memaksakan diri menghadapi kenyataan dan akhirnya ia membeli test peck sendiri.
Setelah selesai membeli barang yang dia butuhkan, Elsa pun segera bergegas pulang. Dan sesampainya di rumah, Elsa langsung mencoba menggunakan test peck itu dan tak lama kemudian hasilnya terlihat, yang membuat Elsa langsung meluruh lemas.
"Oh Tuhan, kenapa?"