After Darkness

After Darkness
The Life After Darkness 3



Sesuai janji Elsa, ia dan Robin membawa Arjun menemui Om Alfan-nya, ya begitulah Arjun memanggil Arfan. Entah sampai kapan anaknya itu mengganti huruf R menjadi L padahal usianya sudah 4 tahun.


"Holeee, sampai di lumah Ala...." teriak Arjun saat turun dari mobil, ia pun langsung berlari masuk ke dalam rumah Arfan yang memang terbuka.


"Anak itu selalu kegirangan saat kita kesini," tukas Robin.


"Ya karena di sini ada temannya, Rob. Si Ara, namanya anak-anak, pasti suka kalau ada anak-anak lain," jawab Elsa.


Sementara di dalam, mata Arjun langsung berbinar saat melihat Aurora yang sedang duduk di lantai dengan buku gambar di depannya.


Arjun langsung berlari dan mengecup pipi Aurora yang membuat gadis kecil itu terkejut kemudian menangis nyaring.


Elnaz yang saat ini sedang berada di kamarnya langsung keluar saat mendengar suara tangis putrinya, begitu juga dengan Elsa dan Robin yang langsung berlari masuk.


"Ada apa? Kenapa Ara nangis?" tanya Elnaz.


"Arjun! Kamu apain Kak Ara?" Tanya Robin tajam karena Aurora menangis sangat kencang.


"Tidak, Papa. Cuma cium, sedikit," jawab Arjun yang membuat Elsa dan Elnaz langsung tertawa, ini bukan pertama kalinya Aurora menangis saat Arjun menciumnya, gadis itu seperti tidak suka di sentuh oleh adik sepupunya, sementara Arjun suka sekali mengusili Ara.


"Ala, jangan nangis ya, nanti aku cium lagi," ucap Arjun yang membuat semua orang langsung melongo, Elnaz pun kini menatap Elsa itu dengan tajam.


"Ini pasti didikan, Kak Elsa!" tuding Elnaz yang tentu saja langsung di sangkal oleh Elsa.


"Bukan, El. Gila kamu ya!" sanggahnya kemudian Elsa menatap Robin dengan curiga.


"Jangan bilang kamu curiga sama aku, Sayang. aku tidak punya waktu ngajarin anak itu nakal, aku sibuk kerja sama nakalin kamu," jelas Robin yang membuat Elsa mendelik.


"Arjun, Sayang. Tidak boleh berkata seperti itu, Sayang," ucap Elsa kemudian dengan lembut. Dan kamu harus memanggil Ara dengan sebutan kakak ya, dia lebih tua dari amu," tutur Elsa karena selama ini Arjun memang tak pernah memanggil Ara kakak.


"Tidak mau, Mama. Aljun kan laki-laki, lebih kuat dali Ala, lebih besal juga, jadi Ala yang manggil Aljun kakak," tukas Arjun seolah enggan di bantah. Namun Ara yang menangis langsung berhenti, kemudian ia mendekati Arjun dan mengetuk kening adik sepupunya itu yang membuat Arjun berdecak kesal.


"Sok tua, bilang R saja tidak bisa," tukas Ara dengan lancar yang membuat semua orang hanya bisa menahan senyum geli, apalagi ketika melihat raut wajah Arjun yang tampak malu-malu.


Di usianya yang hampir 5 tahun ini Ara termasuk sangat cerdas, ia sudah berbicara dengan jelas dan lancar, beda halnya dengan Arjun yang masih cadel.


"Tidak boleh seperti itu, Sayang,"ujar Elnaz menegur anaknya itu dengan lembut. "Lebih baik kamu main sama adik kamu sana, jangan bertengkar, ya. Kalian kan kakak-adik, harus saling menjaga, okay?"


"Okay, Mama," jawab Ara namun ia tampak malas saat melihat adik sepupunya yang menyebalkan itu. Sementara Arjun hanya cengengesan bahkan mengedipkan kedua matanya pada Aurora.


"Arfan dimana, El?" tanya Elsa sembari mengekori Elnaz ke dapur, sementara Robin duduk di sofa sembari mengawasi anak-anak bermain.


"Masih di rumah sakit, Kak," jawab Elnaz sembari mengambil buah mangga dari kulkas.


"Kamu dapat mangga muda dari mana, El? Kan tidak musim mangga," ucap Elsa bingung namun kemdian mata Elsa langsung berbinar saat menyadari sesuatu. "Tunggu.... Kenapa kamu makan mangga? Apa jangan-jangan ... Ara mau punya adik?" Elsa bertanya dengan sangat antusias yang membuat Elnaz terkekeh kemudian mengangguk.


"Aaaahh, selamat, Dek," seru Elsa yang langsung memeluk Elnaz dengan bahagia.


"Kak Elsa kapan nyusul? Kasian si Arjun tuh, nanti kalau Ara punya adik, dia pasti juga mau adik," tukas Elnaz.


"Sudah sering di bikinin, El. Tapi belum di kasih, semoga saja secepatnya di kasih," ucap Elsa penuh harap, bahkan terlihat sekali di matanya harapan untuk memiliki anak kedua sangat besar.


"Semoga saja, Kak Elsa yang sabar dan jaga kesehatan, biar lebih mudah memiliki anak,"kata Elnaz.


Setelah memakan mangganya, Elnaz membuatkan minuman untuk Robin dan bersamaan dengan itu, terdengar suara mobil Arfan dari luar.


Sementara di luar, Arfan yang baru datang langsung menyapa Robin." Dari tadi?" Tanya Arfan sembari duduk di sofa yang lain.


"Iya," jawab Robin namun tatapannya masih tertuju pada anak-anak yang sedang bermain.


"Oh, ya?" Pekik Robin yang juga tampak ikut bahagia.


"Iya, aku kapan dong?" Tanya Elsa merengek.


"Segera, nanti malam kita buat lagi, biar cepat jadi," ujar Robin yang membuat Elnaz terkekeh, sementara Arfan justru mendelik, beda halnya dengan Elsa yang mengangguk antusias.


"Sejak menikah dengan bocah, kamu jadi ikutan seperti bocah, Sa," tukas Arfan.


"Namanya mengimbangi, Kak," sambung Elnaz dan Elsa hanya mengangguk setuju.


"Oh, Sayang. Kamu sudah kasih tahu Elsa dan Robin belum, soal buku kamu?" Tanya Arfan kemudian.


"Buku apa?" Tanya Elsa bingung.


"Sebentar, aku ambil laptop dulu," kata Elnaz yang segera bergegas mengambil laptopnya.


Setelah itu, ia menunjukkan harus besar hasil tulisannya pada Elsa dan Robin.


"Kamu mau nulis kisah kita?" Tanya Robin setelah mengerti kemana arah tulisan Elnaz.


"El, apa ini bukannya akan membuat aib kita tersebar?" Tanya Elsa dengan ragu.


"Kisah ini hanya terinspirasi dari kisah kita, Kak. Tidak seluruhnya tentang kita dan aku tidak menuliskan apa saja yang terjadi dalam hidup kita. Tapi aku melihat, ada banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil dari hidup kita," tutur Elnaz panjang lebar.


"Tapi kalau kalian tidak setuju, aku tidak akan publish cerita itu, aku akan menyimpannya untuk diri sendiri." lanjutnya.


Elsa kembali membaca tulisan Elnaz yang di beri judul After Darkness itu, Elsa membacanya dengan lebih detail dan menghayati. Elnaz menulis dengan sangat baik, bahkan itu berhasil membuat Elsa seolah kembali ke masa lalu.


Elnaz tidak menulis tentang kisah cinta romantis seperti novel biasanya, tapi Elnaz menulis tentang kisah sebuah keluarga, keharmonisan, keegoisan. Anak yang di manja, anak yang mandiri. Kebencian, dendam, ambisi dan juga cinta yang tulus.


Dimana semua itu menyebabkan sebuah kegelapan yang akan menyelimuti hidup seluruh anggota keluarga, namun setelah itu, cahaya akan datang dan semua air mata, kesedihan, akan musnah.


Elnaz merangkun semuanya menjadi satu.


"Apa kamu sudah menemukan penerbit untuk menerbitkan bukumu, El?" Tanya Robin tiba-tiba. "Kalau tidak ada, biar aku yang urus."


Robin merasa jatuh cinta pada tulisan Elnaz, karena itu mengingatkan dirinya akan masa lalu keluarganya yang sangat kelam, namun kini meraka berhasil naik ke permukaan.


"Ide bagus," sambung Elsa.


"Jadi kalian setuju buku itu di terbitkan?" Pekik Elnaz senang, Elsa dan Robin mengangguk secara bersamaan, Arfan pun ikut bahagia untuk istrinya, karena Arfan sendiri sudah membaca tulisan Elnaz beberapa kali dan Arfan sangat mengaguminya.


Elnaz langsung memeluk kakaknya itu. "Terima kasih banyak," tukas Elnaz.


"Terima kasih," ucap Elnaz. "Orang akan memetik hikmah dari cerita yang kamu tulis, El. Meraka akan mengucapkan terima kasih padamu."


Elnaz hanya menanggapinya dengan senyum, dan di saat yang bersamaan, Arjun datang mengganggu moment haru mereka.


"Ada apa, Arjun?" Tanya Elsa.


"Mama, menikah itu apa?" Tanya Arjun.


"Kenapa bertanya seperti itu?" Tanya Elnaz.


"Ala mengajak Aljun menikah," jawab Arjun yang membuat semua orang langsung melotot terkejut kemudian semuanya langsung menatap Ara yang justru cengengesan.


...TAMAT ...