
Sesampainya di hotel, Robin langsung memerintahkan Elsa agar segera istirahat, karena Robin melihat wajah Elsa yang mulai pucat.
Kamar mereka berdampingan, dan Robin juga memberi tahu Elsa agar memanggil Robin jika membutuhkan sesuatu.
Saat hendak mandi, Elsa kembali merasa pusing bahkan ia hampir jatuh, beruntung Elsa langsung berpegangan ke pintu kamar mandi. Elsa duduk di samping buth tub sembari memijit kepalanya yang juga terasa sakit, pundaknya pun juga sangat sakit.
"Tapi ini tidak seberapa di banding luka Robin," gumam Elsa yang masih mencemaskan keadaan papa dari bayinya itu.
Sementara itu, Robin mengobati luka lebam di wajahnya, ia meringis, perih. Dan kemudian ia teringat dengan Elsa. "Dia pasti tidak bisa mengobati pundaknya sendiri," gumam Robin yang juga mencemaskan Elsa. Tanpa fikir panjang ia langsung keluar dari kamarnya dengan membawa salep yang di berikan Dokter.
Dan saat hendak mengetuk pintu kamar Elsa, pintu sudah lebih dulu terbuka. "Mau kemana?" tanya Robin pada Elsa.
"Aku mau ke kamar kamu," Jawab Elsa. "Mau bantu mengobati luka kamu." lanjutnya dengan suara rendah.
"Aku bisa mengobati lukaku sendiri, aku justru kesini mau mengobati pundak kamu, pasti kamu tidak bisa mengobati nya sendiri, kan?" Tanya Robin dan Elsa langsung menganggukan kepala. "Ya sudah, biar aku bantu obati," ucap Robin kemudian.
Elsa pun mempersilahkan Robin masuk ke kamarnya, kemudian ia duduk di tepi ranjang dan Robin pun duduk di belakangnya.
"Kamu belum mandi?" tanya Robin karena Elsa belum berganti pakaian.
"Tadinya aku mau mandi, tapi kepalaku pusing," jawab Elsa setengah merengek.
"Apa kita perlu ke Dokter?" tanya Robin yang tentu saja langsung cemas. Dan hal itu membuat Elsa terkekeh, bocah di belakangnya ini benar-benar bocah labil, fikirnya.
"Tidak perlu, mungkin aku hanya masih shock karena perampokan tadi," jawab Elsa sembari menarik baju di bagian pundaknya. "Pelan-pelan ya..." pinta nya kemudian.
Robin hanya menggumam, kemudian dengan sangat hati-hati ia mengoleksan obat di pundak Elsa yang memar bahkan sudah membiru. Sesekali Elsa meringis, Dan Robin akan langsug meniup pundaknya.
"Maaf ya, Els," ucap Robin tiba-tiba yang membuat Elsa langsung menoleh, dan seketika wajah keduanya begitu dekat,membuat jantung mereka kembali berdetak cepat.
"Maaf untuk apa?" tanya Elsa dengan suara yang tercekat, berdekatan seperti ini dengan Robin menimbulkan sensasi aneh dalam jiwanya, tatapan Elsa turun ke bibirnya Robin yang tidak tipis dan tidak tebal, dan entah mengapa Elsa ingin merasakan bibir itu di bibirnya.
Elsa menjilat bibirnya yang tiba-tiba terasa kering, dan hal itu pun membangunkan hasrat terpendam dalam jiwa Robin.
"Karena aku tidak mengizinkanmu menginap di rumah orang tuamu, aku cuma khawatir sama kamu dan aku takut rahasia kita terbongkar," kata Robin dengan suara yang terdengar serak, menahan hasrat yang kian memuncak.
Elsa tersenyum manis, membuat hati Robin semakin berdebar, padahal ia menduga Elsa akan marah seperti biasa.
"Tidak apa-apa, aku faham kok," jawab Elsa.
Keduanya saling menatap dengan begitu intens, memantik gairah dalam jiwa mereka, tatapan keduanya pun mulai menggelap, napas neraka mulai memburu dan entah siapa yang memulai, bibir mereka menyatu begitu saja bak magnet.
Tangan kanan Robin berada di tengkuk Elsa, sementara tangan kirinya membelai lengan Elsa yang terbuka. Salep yang tadi di pegangnya sudah tergeletak di lantai, entah kapan ia menjatuhkannya.
Sementara kedua lengan Elsa melingkar di leher Robin, begitu manja.
Elsa begitu pasrah dan menerima dengan senang hati saat lidah Robin bermain nakal di mulutnya, bahkan Elsa menyambut lidah itu dengan lidahnya. Lidah keduanya saling membelit, seolah menari bersama. Dan tanpa sadar, Elsa membusungkan dadanya, membuat Robin mengerang tertahan saat merasakan lembutnya dada Elsa di dadanya, apalagi sejak hamil, dada itu memang semakin besar dan semakin indah.
Robin melayang, otaknya blank, dan tanpa fikir panjang, ia mendorong tubuh Elsa hingga terlentang di ranjang dengan kaki yang menjuntai ke lantai.
Tbc....
Mohon maaf karena kemarin engga up, othor pergi periksa mata soalnya kemarin. Btw, makasih buat yang udah setia menunggu bocah tengil. 😘