
Mendengar ucapan Feng membuat Wang Yi terdiam begitu juga seluruh Orang, tak ada yang menyangkal bahwa yang dikatakan Feng adalah hinaan atau semacamnya.
Bahkan Ayah Wang Yi sendiri juga cuek seakan tak peduli jika Anaknya mati karna itu.
Wang Yi sendiri menundukkan kepalanya dengan Air mata menetes, Ia sadar sudah tak ada lagi yang peduli padanya sehingga jika Ia mati pun Ia rasa tak ada masalah.
Akhirnya Wang Yi duduk kemudian menelan Pil tersebut.
Setelah menelan Pil tersebut ada rasa hangat tiba tiba mengalir didalam tubuh Wang Yi, Wang Yi menutup matanya mencoba fokus untuk mengetahui Energi hangat apa yang tiba tiba mengalir dalam tubuhnya.
Namun segera Ia terkejut saat mengetahui bahwa Dantiannya yang telah hancur secara tiba tiba kembali menyusun sedikit demi sedikit.
Orang orang yang melihat Wang Yi yang sedang menutup mata juga penasaran apa yang terjadi padanya.
"He Bocah! Kau benar benar membunuh Anak itu dengan racun tepat di hadapan Kaisar!" sinis Patriak Ping.
Seluruh Orang juga terdiam menatap Feng tajam, membunuh seseorang di depan Kaisar sama saja penghinaan secara tak langsung.
"Kau menghina Kaisar!"
"Beraninya Kau membunuh tepat di depan Kaisar dasar B_jingan!"
"Kau harus di hukum mati!"
Teriakan demi teriakan terdengar mengumpat ke arah Feng, sedangkan Feng hanya diam saja dengan wajah cueknya.
Disisi lain, Kaisar Di juga terdiam jika Feng benar benar membunuh tepat dihadapannya maka Ia harus dengan bijak menghukum Feng.
Namun semua perkataan, pikiran dan tuduhan itu di patahkan saat sebuah suara terdengar.
Boom!
Ledakkan teredam terdengar dari dalam tubuh Wang Yi diikuti keluarnya Aura dari dalam tubuhnya.
Orang orang yang melihat itu tak tahan untuk tak membuka lebar mulutnya karna terkejut.
Tentu saja Mereka terkejut, bagi Pendekar jika kultivasinya telah lumpuh maka sama saja Ia sudah seperti Orang biasa walau Ia masih memiliki Roh Bela Diri.
Feng sendiri tersenyum melihat hal tersebut, Ia benar benar bahagia Pil buatannya yang paling sulit akhir berhasil dengan sukses.
Selama beberapa hari ini Feng memang terus mencoba membuat beberapa Pil yang susah padahal Di Mo sudah memberinya nasihat agar mulai berlatih dari bawah.
Namun Feng tak menghiraukan hal itu membuat Di Mo hanya menggeleng pasrah, setelah beberapa hari akhirnya Feng berhasil membuatnya.
Itu adalah Pil yang Ia berikan pada Wang Yi barusan.
Di Mo bahkan juga tak tahan untuk tak terkejut saat Feng berhasil membuat Pil yang terbilang sangat mustahil bahkan bagi dirinya sendiri.
Pil tersebut bernama Pil Pengembali!
[Pil Pengembali :
Dapat mengembalikan Qi yang hilang secara instan serta dapat mengobati seluruh luka dalam]
Beberapa saat kemudian Wang Yi membuka matanya dengan tatapan tak percaya, Ia benar benar tak menyangka bahwa Ia dapat kembali berkultivasi setelah Dantiannya dihancurkan.
Bruk...
Wang Yi langsung bersujud didepan Feng sambil terisak kecil.
"Terima kasih, terima kasih.. Hiks," isak Wang Yi.
"Tak apa, itu hanya sebuah Pil dan tentu saja suatu saat Aku akan meminta balasannya namun sebelum itu Kau juga harus bertambah kuat," ucapn Feng melemparkan Cincin Ruang pada Wang Yi.
Wang Yi menagkap Cincin Ruang tersebut dan memeriksanya, langsung saja Ia melebarkan matanya saat tau bahwa ada banyak Sumber Daya dalam Cincin Ruang tersebut.
"Kau tak berguna jika hanya masih belum kuat juga!" sela Feng dengan tajamnya, namun Wang Yi tak tersinggung justru Ia merasa senang karna masih ada yang ingin membantu Ia di saat seperti itu.
Sedangkan beberapa Orang seperti Kepala Keluarga Bangsawan, Mentri mentri, Patriak dan Matriak menatap Feng penuh arti.
Kini Feng tampak sebagai Sumber Mata Air di tengah Gurun dan Mereka harus berhasil mendapatkannya atau mengikatnya.
Feng yang mengeri arti tatapan Orang orang itu hanya cuek, asal Mereka tak benar benar menganggunya maka Ia juga tak akan benar benar menghancurkannya.
"Berapa lama perjalanan ke Daratan Hitam?" tanya Feng menatap Old Xi.
"Kurang lebih 1 Pekan dengan Elang Raksasa," jawab Old Xi, Feng mengangguk lalu menatap Kaisar Di.
"Aku akan menjamin Wang Yi selama di Daratan Hitam!" ucap Feng, Kaisar Di yang awalnya terdiam langsung mengangguk.
"Baiklah kalau begitu, silahkan seluruh Peserta pulang dan menyiapkan barang yang akan dibawa, Kita akan berangkat saat Matahari terbenam," ucap Kaisar Di.
Seluruh Orang langsung bubar namun tidak dengan Orang orang yang tadi menatap Feng.
Mereka kompak menghampiri Feng.
"Anak Muda, bagaimana kalau Kau bergabung ke Sekte Kembang Bunga, Kau akan selalu diberi Sumber Daya yang melimpah!" tawar Patriak Gu.
"Heh lebih baik Kau bergabung ke Sekte Malam Gelap, disana Kau akan mendapat banyak Gadis dan Sumber Daya tak terbatas," tawar Matriak Zhi.
Beberapa Kepala Kekuarga Bangsawan, dan Mentri juga menawarkan berbagai macam kepada Feng akan berganbung dengan Mereka.
Feng hanya menjawan itu dengan gelengan saja.
"Saat ini Aku belum mau bergabung dengan siapapun," jawab Feng menolak.
Seluruh Orang tentu saja terdiam saat Feng menolak Mereka.
Beberapa Orang seperti Patriak Gu dan Matriak Zhi tampak kecewa berbeda dengan beberapa Orang lagi yang tampak sangat marah.
Dari jauh Kaisar Di terdiam, sebenarnya Ia juga ingin mengajak Feng untuk bergabung dengannya namun tampaknya Ia mengurungkan niatnya karna Ia memiliki perasaan Feng akan menolaknya.
Ia juga sempat berpikir untuk memaksa Feng bergabung namun entah kenapa tiba tiba Ia memiliki firasat buruk saat memaksa Feng seperti itu.
Sedangkan berdiri beberapa meter darinya, Patriak Ping menatap Feng penuh kebencian.
Ia kemudian menyuruh salah satu Tetua Sekte Naga Langit mendekat dan membisikkan sesuatu padanya.
Beberapa saat setelah Patriak Ping berbisik pada Tetua itu, Tetua itu mengangguk kemudian melesat pergi.
Beberapa Orang yang tadi juga di tolak oleh Feng dan marah juga berbisik pada Bawahannya dan Bawahannya juga mengangguk kemudian melesat pergi.
Itu semua juga tak luput dari pengawasan Feng, Feng tersenyum sinis lalu membisikkan sesuatu pada Di Mo.
Di Mo yang mendengar bisikan sekaligus perintah Feng langsung dalam bentuk jarum melesat tanpa di sadari siapapun.
Feng berjalan mendekati Wang Yi lalu berbisik di telinganya.
"Pergi ke alamat ini dan tunggu Aku disana bersama Orang yang telah Aku suruh menemaninu!" bisik Feng menyerahkan secarik kertas kecil.
Wang Yi mengangguk dengan patuh kemudian berjalan pergi menuju alamat yang di berikan Feng padanya.
Setelah Wang Yi pergi, Feng kemudian mengajak Rara untuk pergi juga.
Feng pergi keluar dibawah tatapan banyak Orang yang menatapnya dengan berbagai macam tatapan.
...- - -...