
Bisa kabur dari tingkat Walis dan setara dengan tingkat Bumi? Wow, itu adalah sesuatu yang luar biasa menurut Feng. Tak salah memang, tuannya saja sehebat Rara tentu saja bawahannya tak kalah jauh. Kelinci itu menghilang masuk kedalam telapak tangan Rara dan menimbulkan sebuah lambang di punggung tangan Rara. Sebuah lambang tato bergambar kelinci, Rara tersenyum senang kemudian menatap Feng.
Cup.. Rara dengan berani mencium bibir Feng cukup lama.
"Makasih banyak Feng Gege, Aku sangat senang," ucap Rara malu malu. Feng yang melihat Rara malu malu tersebut dan ciuman mendadak darinya tadi, membuat sesuatu di dalam diri Feng naik tak terkendalikan dan Feng langsung menarik wajah Rara dan mencium bibirnya lama.
Hah... Hah... Nafas Rara tak berarturan begitu setelah berciuman dengan Feng. Udara di kamar itu yang semula dingin tiba tiba mulai terasa menghangat bagi Mereka berdua. Feng langsung menarik Rara dan menjantuhkannya di atas kasur dan menatapnya dari atas.
"R-rara belum mandi," gumam Rara dengan muka merah malu, Feng yang melihat Rara malu menambah kegemasannya dan sesuatu di dalam dirinya yang tak dapat ditahan.
"Tak masalah, Kita mandi bersama nanti," ucap Feng kemudian tanpa aba aba langsung menyerang Rara. Decit ranjang terdengar berbunyi bunyi.
Mereka berdua menikmati malam itu dengan keindahan tiada tandingan.
...- - -...
3 Hari kemudian...
Feng dan Rara sudah bersiap mengenakan jubah Mereka kemudian segers berjalan turun ke bawah. Begitu sampai di bawah, Mereka sudsh di sambut oleh Resepsionis yang juga telah berganti pakaian dengan seragam Murid Akademi Dewa tersebut.
"Kalian sudah siap?" tanya Resepsionis itu, Feng dan Rara mengangguk. Resepsionis itu kemudian mengajak Rara dan Feng berjalan keluar penginapan dan seekor burung besar telah menunggu Mereka. Burung itu berwarna emas dengan corak berwarna merah di seluruh sayapnya.
"Ini adalah Burung Merpati emas, sudah di lengkapi formasi kecepatan terbang di sayapnya sehingga Kita akan lebih cepat sampai ke Akademi Dewa," jelas Resepsionis tersebut, Feng dan Rara mengangguk paham mendengar penjelasannya. Kemudian Mereka bertiga berjalan naik ke atas Merpati emas tersebut.
Wussh... Dalam sekejap, burung Merpati tersebut sudah terbang mengudara dengan cepat di angkasa. Feng dan Rara yang melihat kecepatan Merpati emas dan pemandangan di bawah Mereka itu terpana.
"Tuan, maaf," ucap Resepsionis itu sejenak, Feng menoleh menatap Resepsionis itu bertanya.
"Bolehkan Aku bertemu Ayahku? Aku ingin bicara suatu hal penting dengannya."
Feng mengangguk tanpa banyak berfikir dan langsung mengeluarkan si Gila. Tanpa basa basi, Anak dan Ayah itu langsung bercengkrama, Feng tak memperhatikannya dan lebih memilih memperhatikan pemandangan dari atas sambil memeluk Rara.
"Apakah Tuan bersedia mendengar ceritaku, juga segala yang Ku tau, siapa tau Tuan membutuhkan sesuatu atau dapat membantu Tuan di masa depan," jelas si Gila, Feng dan Rara diam sejenak kemudian mengangguk. Ia benar, hitung hitung menambah informasinya di Alam Dewa ini.
Mereka berempat kemudian duduk melingkar di atas Merpati emas. Si Gila memulai ceritanya...
"Tuan dan Nona mungkin sudah tau, tapi Kau Anakku, Ayah rasa Kau belum mengetahuinya. Aku memiliki mata yang spesial, mata ini dinamakan mata Dewa. Aku juga baru mengetahuinya saat Aku beranjak dewasa dan setelah mencari cari, tak banyak informasi mengenai mata dewa ini. Yang kudapatkan hanya bahwa mata ini memiliki banyak kekuatan spesial yang tersembunyi, namun disisi lain juga Pemiliknya akan mendapat banyak kesialan."
"Informasi itu tak salah karna setelah Aku mendapatkannya, memang banyak masalah kecil menimpaku, mulai dari Aku yang sering ceroboh terjatuh, lupa akan sesuatu dan banyak hal lainnya. Puncaknya, masalah besar itu akhirnya datang, saat Aku tak sengaja menyinggung seseorang dari Akademi Dewa dan berakhir, Ia membumi hanguskan kampungku. Menyisakan diriku sendiri yang ternyata masih hidup setelah penghancuran tersebut."
Mata si Gila itu berubah marah ketika menceritakan hal tersebut. Ia mengepalkan tangannya, Feng dapat merasakan bahwa kemarahan si Gila terhadal Akademi Dewa telah dimulai disini dan justru menjadi dendam hingga saat ini.
"Aku sedih, menyesal dan marah. Marah kepada diriku sendiri dan kepada Akademi Dewa, kenapa Aku begitu sial bahkan hingga menimpa Orang orang di kampungku?! Juga marah kepada Akademi Dewa, maka sejak saat itu Aku akhirnya memutuskan untuk pergi. Saat itu Aku berfikir, bukankah mata ini memiliki kekuatan spesial? Apa kekuatannya, maka kepergianku itu ku putuskan untuk menjadi lebih kuat. Aku terus berusaha berlatih dan mencari tau kekuatan mata ini."
"Namun meski roh beladiriku termasuk roh beladiri tingkat atas, yaitu Phoenix, namun justru perkembanganku sangat lambat. Aku terus berusaha dan pantang menyerah meski berkali kali Orang yang sebaya denganku, mentertawakanku karna meski sudah berlatih cukup keras namun hasilnya justru sama seperti Orang biasa. Hinaan itu terus Aku terima sebagai pelecut semangat sekaligus balasan atas segala kesialan yang membuat seluruh Orang kampungku tiada."
"Saat itu Aku sudah sampai di kota ini dan tinggal disini sambil bekerja serabutan. Tak ada Orang yang sebaya denganku ingin berteman denganku kecuali satu Orang," si Gila kemudian beralih menatap Anaknya haru.
"Itu adalah cinta pertama sekaligus selamanya di hatiku... Itu adalah Ibumu," air mata itu akhirnya menetes, Anaknya juga tak bisa memungkiri bahwa Ia ikut bersedih mendengar cerita Ayahnya tersebut kemudian memeluk Ayahnya erat.
"Kau sangat mirip dengan Ibumu nak, mulai dari wajahmu dan sikapmu. Sifat tegarmu saat merawat Ayah dulu bahkan tak gentar saat cacian dan hinaan yang dilontarkan Orang pada Ayah dan Kamu, Kamu menerimanya dengan lapang dada dan terus merawat Ayah."
"Kau benar benar sama dengan Ibumu yang saat itu memilih berteman dengan Ayah hanya karna Kami memiliki roh beladiri yang sama, Phoenix. Ayah memiliki roh beladiri Phoenix api dan Ibumu memiliki roh beladiri Phoenix es."
Si Gila tiba tiba tersenyum mengingat itu. Ia seperti mengenang kisah kisah indahnya bersama Istrinya.
"Akhirnya Kami memutuskan untuk mulai berlatih bersama dan yah... Bagaikan langit dan bumi, kecepatan berlatih Kami diberbeda jauh meski roh beladiri Kami sejenis. Hinaan dan cacian semakin gencar datang kepada Kami dan Kau tau? Ibumu yang mendengar cacian itu bukannya gentar atau patah semangat, justru Ia tersenyum dan berkata kepada Ayah. "Mereka hanya iri Kita memiliki roh beladiri kembar, emang Mereka roh beladiri kok jomblo,"
Si Gila tertawa kecil begitu menceritakan itu, Feng dan Rara saling memandang ikut tersenyum mengangguk setuju mendengar itu. Roh beladiri kok jomblo.
...- - -...