The System

The System
Haapy Birthday My Wife!



"Kau?!"


Kaisar Dewa tampak kaget saat melihat roh seorang Pemuda yang tampak melayang beberapa meter di depannya itu.


Roh Pemuda itu nampak tersenyum tipis.


"Baiklah, karna ini pertemuan Kita, maka biarkan Aku memperkenalkan diri, namaku Feng dan emm... Umurku 20 tahun ini, dan asalku dari tempat yang jauh nun di sana," ucap Feng memperkenalkab diri.


Kaisar Dewa masih terdiam menatap Feng tajam sambil mengeluarkan auranya untuk menekan Feng, Feng sendiri tersenyum masih dapat berdiri tegak setelah di tekan oleh aura Kaisar Dewa.


Kaisar Dewa yang melihat Pemuda di depannya masih dapat menahan auranya terkejut.


"Pantas Kau bisa mengalahkan Burung kecil itu dan Anjingnya dengan mudah," ucap Kaisar Dewa menarik lagi semua auranya.


Feng tersenyum.


"Karna ini pertemuan pertama Kita, jadi jangan terlalu tegang," jawab Feng.


"Jadi apa yang ingin Kau katakan?" tanya Kaisar Dewa.


"Aku hanya ingin bertanya 3 Hal, bisa?" balas tanya Feng, Kaisar Dewa hanya mengangguk.


"Pertama, apa ambisi terbesarmu?"


"Menguasai 3 Alam."


"Baiklah, Kedua apa yang Kau lakukan jika ada Orang yang menghalangimu?"


"Menghancurkannya."


"Owh, baiklah dan yang terakhir, apakah Kau mengenal Orang ini?" tanya Feng kemudian mengeluarkan roh bela dirinya, Dewa Kematian.


Melihat itu Kaisar Dewa sempurna terkejut hingga bangkit dari singgasananya.


"Bagaimana mungkin?!" ucap Kaisar Dewa tak percaya, Feng tersenyum.


"Kau ingat pada Orang ini kan? Dulu Kau sempat mengalahkan bahkan menghancurkannya, namun ingatlah, Ia kali ini akan kembali. Melaluiku, akan menghancurkanmu!" ucap Feng dengan senyuman dinginnya kemudian tiba tiba menghilang.


Boom!!!


Kali ini, Kaisar Dewa memukul singgasanya hingga hancur, Ia menatap tak percaya sekaligus marah. Bagaimana mungkin, Orang yang sudah Ia hancurkan beratus ratus tahun lalu bisa Ia lihat kembali, walau Ia tak memiliki kesadaran sebagai roh beladiri, namun cepat atau lambat Ia pasti bangkit apalagi di tangan Pemuda Misterius itu.


"Aaargh! Dewa Kematian! Cepatlah datang! dan Rasakan Kematian untuk kedua kalinya!!!" teriak Kaisar Dewa.


...- - -...


Di tempat Feng...


Feng menarik tangannya dari bola itu sambil menghela nafas panjang, tak Ia sangka bola itu menarik banyak Qi nya padahal Ia tak lama menggunakannya. Ia kemudian menatap bola itu lalu mengangkat tangannya dan...


Boom!


Bola itu Ia pecahkan, setelah memecahkannya, Ia berjalan keluar ruangan dan terbang pergi menuju Kekaisaran Bulan.


Tiba tiba di tengah jalan suara System mengagetkannya.


[Ding! Selamat Tuan telah berhasil menguasai Alam Manusia, sebuah Hadiah Misterius di beri]


Kemudian sebuah token berwarna hitam dan putih muncul di hadapannya, Feng mengambil token itu dan mengeceknya.


[Token 3 Alam :


Dengan Token ini, siapapun dapat pergi ke 3 Alam. Alam Manusia, Alam Dewa dan Alam Iblis, setiap pengguanaannya membutuhkan waktu 3 tahun setelah penggunaannya]


Feng yang melihat status token itu terkejut, Ia kemudian menyimpannya sambil tersenyum lebar.


[Ding! System sudah bersiap untuk naik ke level tertinggi : Level Semesta, apakah Tuan ingin menaikkan Level System?]


Feng yang mendengar itu lagi lagi terkejut, namun kemudia tersenyum lebar.


[Ding! System dalam proses menaikkan level...]


Feng tersenyum kemudian kembali melesat menuju Kekaisaran Bulan.


...- - -...


Malam hari...


Malam hari di Kekaisaran Bulan, di adakan festival besar besaran akan kemenangan Kekaisaran Bulan melawan Kekaisaran Matahari, juga di rebutnya kembali Kekaisara Bintang.


Semua Warga dari yang kecil hingga tua bersuka cita atas itu, jalan jalan sesak ramai oleh warga yang sibuk merayakan itu.


"Feng Gege... Kenapa Kita pergi ke Istana? Kan Rara masih mau ikut nari nari sama Kakak kakak tadi," cemberut Rara saat Feng mengajaknya pergi ke Istana Kekaisaran Bulan padahal tadi Ia sedang asyik asyiknya ikut menari bersama Perempuan perempuan muda yang tengah bersuka cita itu.


Feng tersenyum mengacak rambut Rara.


"Rara mau Wortel besar gak?" tanya Feng, Rara yang mendengar kata 'Wortel besar' mengubah ekspresinya 180 derajat, dari yang semula cemberut menjadi sangat bersemangat.


"Mau! Mau!" ucap Rara semangat, Feng mengangguk kemudian berkata.


"Wortel besarnya ada di Istana, jadi Kita harus pergi ke sana dulu," ucap Feng, Rara mengangguk kemudian dengan bersemangat bergegas menuju Istana.


Tak lama Mereka berjalan sebelum akhirnya masuk ke halaman Istana lewat gerbang depan, Rara menatap sekitarnya bingung.


"Feng Gege? Kok sepi sih? Gelap juga?" tanya Rara melihat Istana Kekaisaran Bulan yang tampak gelap, juga sepi tanpa ada seseorang pun, bahkan Prajurit sekalipun.


Feng tersenyum kemudian mengajak Rara memasuki Istana.


Maka saat Rara melangkahkan kakinya ke Istana, saat itulah kejutannya terjadi.


Ribuan lampu di hidupkan, lilin lilin berwarna merah membuat jalan untuknya, ribuan kembang api meletus mewarnai Langit dan semua Orang muncul saat itu.


"Selamat Ulang Tahun Permaisuri!" ucap semua Orang yang mengenal Rara, Rara terkejut kemudian memandang sekitarnya.


Matanya tiba tiba berkaca kaca, sebuah perasaan hangat perlahan mengalir memenuhi dadanya hingga membuat perasaannya membuncah luar biasa.


Mungkin ini adalah kali pertama, Rara mengerti apa yang terjadi sehingga membuatnya tak lagi dapat menahan air matanya.


Ia kemudian menatap Feng. Feng sendiri tersenyum kemudian berlutut di hadapannya kemudian mengusap air mata yang mengalir dari kedua pipi lembut Rara.


"Ini adalah Hari terspesial Rara, maaf Tahun tahun kemarin Aku melupakannya," ucap Feng mencium tangan Rara, Rara menggeleng dengan air mata masih mengalir kemudian memeluk Feng erat.


"Hiks... Hiks... Feng Gege, Makasih... Rara senang banget... Makasih... Rara sangat... Sangat sayang Feng Gege!"


Feng tersenyum mendengar itu dan balas memeluk Rara.


"Aku juga menyayangimu, Kelinci Kecilku."


Semua Orang yang melihat itu tersenyum, yang memiliki Pasangan memeluk pasangannya erat, yang pasangannya telag tiada menahan air matanya sedangkan bagi yang belum memiliki pasangan menggigit gigit jarinya, iri.


Maka pesta sesungguhnya pun di mulai, semua Orang bersuka cita sambil menikmati makanan makanan yang ada. Beberapa saat kemudian sesi dansa tiba, dan yang memiliki pasangan berdansa dengan pasangannya, begitu juga dengan Feng dan Rara, setelah itu di lanjutkan dengan sesi pemotongan kue.


"Rara tutup mata dulu, lalu ucap apa keinginan Rara dan tiup lilinnya," jelas Feng, Rara mengangguk paham kemudian menutup matanya.


"Rara berharap bisa slalu bersama Feng Gege, dan Rara akan terus mencintai Feng Gege, selamanya!" ucap Rara dengan sepenuh hati.


Feng tersenyum kemudian mencium pucuk kepala Rara.


Kue pun di potong, bagian pertama jelas di berikan pada Feng sedangkan bagian kedua di berikan ke Abang Rara, Wangwang.


Semua Orang kemudian kembali menikmati pesta itu dengan senyum, tawa dan kesenangan. Sampai akhirnya semua Orang terdiam saat melihat muka Rara yang mendadak cemberut.


"Wortel besarnya manaaa?"


...- - -...