The System

The System
Ular Penyiksa



"Tunggu!" ucap salah satu Tetua menahan Tetua yang ingin menghampiri Rara itu, Tetua itu menoleh dengan wajah bingung.


"Ada ap-" pertanyaan Tetua itu terpotong saat merasakan aura kuat mendekati Mereka. Tetua itu menoleh melihat kebawah, tatapannya tajam melihat lebih jauh.


Benar saja, Rara yang tadi juga duduk untuk meningkatkan Qi nya membuka matanya begitu merasakan aura tersebut. Tatapannya menajam menatap ke arah hutan, tak lama akhirnya makhluk yang di tunggupun muncul.


Itu adalah seekor ular besar berwarna hijau, tubuhnya dipenuhi dengan duri dan matanya yang tajam menatap ke depannya.


"Ular Penyiksa!" ucap Tiga Tetua dengan terkejut, Mereka tak menyangka akan bertemu dengan Ular itu disini. Ular Penyiksa adalah salah satu dari sedikit hewan buas paling berbahaya di Alam Iblis, selain kulitnya yang keras, durinya dapat menyerang dan semburan bisanya berbentu asap namun sangat mematikan, selain itu masih banyak teknik berbahaya dari ular ini yang membuat siapa saja pasti kabur begitu melihatnya.


Begitupun dengan Tiga tetua, meski Mereka tergolong Orang orang terkuat di Alam Iblis, namun menghadapi Ular itu, Mereka benar benar tak yakin akan menang. Kali ini tatapan Mereka bertiga beralih pada Rara yang sudah melompat turun dari tubub Beruang besar tadi.


Ular itu yang melihat Beruang besar di depannya maju dan dengan cepat menggigit beruang itu dengan taringnya. Ular itu tidak ******* ataupun menelan ular itu melainkan sesuatu yang lebih mengejutkan dari itu.


Tubuh besar beruang itu perlahan mengurus dan membusuk, asap berwarna hijau juga keluar dari dalam tubub beruang itu. Maka dalam hitungan detik tubuh beruang itu telah berubah menjadi warna abu abu dan tubuh tulang berlapiskan kulit. Ular itu melemparkan tubuh Beruang besar itu dan terdiam sejenak seperti menikmati Beruang yang baru saja Ia serap itu.


Tiga Tetua menatap itu dengan jeri sedsngkan Rara diam menatap dingin pada Ular tersebut. Tak lama akhirnya kenikmatan Beruang itu menghilang dan Ia kembali menatap tajam ke depannya, ke arah Rara.


"Gawat Ular itu telah mengunci Perempuan itu!" ucap salah satu Tetua.


"Apakah Kita harus membantunya?" tanya salah satu Tetua menatap Dua Tetua lainnya. Ketiga Tetua itu sama sama terdiam kemudian mengangguk setuju, kemudian melesat cepat menuju Ular tetsebut.


Boom! Salah satu Tetua berhasil memukul kepala Ular tersebut hingga menghempas ke tanah. Salah satu Tetua mengeluarkan pedangnya dan megayunkan pedangnya menjadi energi tebasan yang menimbulkan efek ledakan yang besar, salah satu Tetua tak mau kalah juga mengayunkan tinjunya ke tubuh Ular tersebut membuat tubuhnya meninggalkan jejak yang dalam di tanah.


"Kau tidak apa apa?" tanya Tiga Tetua itu pada Rara yang masih berdiri dengan wajah dinginnya. Ia tak bergeming menatap Tiga Tetua tersebut dan Ular besar itu, Ia kemudian menunjuk kedepan membuat Tiga Tetua itu kembali menoleh ke arah Ular itu kembali.


Ular itu kini telah bangun namun kali ini sepertinya Ia benar benar marah, matanya kini memerah darah dan aura panas terasa di sekitar Mereka. Tiga Tetua memasang kuda kuda Mereka kemudian menatap Ular itu tajam.


"Larilah!" ucap Tiga Tetua itu pada Rara, Rara diam tak bergeming. Sementara tiga Tetua itu telah maju melesat kembali menyerang Ular tersebut.


Pertarungan sengitpun tak dapat terelakkan, Tiga Tetua berhasil menghindari serangan mematikan Ular tersebut dan balas menyerang, namun Ular itu seakan memikiki energi yang tak habis habis sehingga terus meluncurkan serangan ke arah tiga Tetua tersebut begitupun peryahanan tubuhnya yang tambah kuat hingga serangan tiga Tetua itu hanya berefek sedikit bagi ular tersebut.


"Apakah Kita akan segera membantu?" tanya Tiga saudara kematian


"Kita bisa saja membantu, tapi apakah waktunya tepat, karna kita pasti bisa mengalahkan ular itu namun setelah mengalahkannya energi Kita pasti benar benar habis," ucap salah satu sauadar kematian, dua saudara lainnya mengangguk.


"Kalau begitu Kita tunggu sebentar, lagipula Kita disuruh melindunginya bukan para Tetua itu," jawab salah satunya, diangguki setuju oleh yang lainnya.


Boom! Pandangan tiga saudara itu kembali ke tempat pertarungan dimana tiga tetua itu masih masih berhasil di jatuhkan oleh Ular tersebut hingga menghantam tanah. Ular itu membuka mulutnya, sedangkan tiga Tetua yang sudah menebak apa yang akan dilakukan Ular tersebut menatap pasrah akan nasibnya yang mungkin menjadi akhit hidupnya saat ini.


Srrrt... 3 buah akar berbentuk sulur lebih cepat muncul dan mengikat tubuh Tiga Tetua tersebut dan menarik tubuh Mereka menjauh.


Ssst... Benar saja, ular itu menyemburkan semburan racun berwarna hijau yang membuat tanah tempat para Tetua tadi hancur. Tiga Tetua menahan nafasnya tak percaya, Mereka benar benar masih hidup sekarang.


"Menjauhlah," ucap Rara kemudian melesat maju melayangkan tinjunya tepat ke rahang besar Ular tersebut membuatnya terjungkal jatuh menghantam tanah. Belum selesai sampai situ, Rara mengeluarkan pedangnya dan dalam suatu jurus yang mirip tarian yang indah Ia menebaskan pedangnya membuat tebasan energi yang melukai parah tubuh Ular tersebut.


Tiga saudara kematian dan Tiga tetua yang melihat itu menganga tak percaya. Ular yiu sendiri yang sudah dilukai Rara sedemikian rupa akhirnya mengeluarkan semburan kabut asap dari tubuhnya.


"Kabut beracun!" ucap Tiga tetua itu, Mereka jelas tau jurus itu. Kabut beracun merupakan salah satu jurus mematikan milik Ular penyiksa tersebut karna kabut beracun itu akan mematikan, mengeringkan, dan meracuni apapun itu disekitarnya dan tentu saja dalam jangkauan yang luas dan cepat.


Benar saja, Rara tak dapat menghindar dan terkena kabut racun tersebut. Suasana hening sejenak, baik Tiga saudara kematian ataupun Tiga Tetua menatap tak percaya apa yang Ia lihat, apakah Perempuan itu telah tamat? Karna racun Ular tersebut benar benar tak memandang kekuatan seseoarang, bahkan Raja Iblis pun masib harus berhati hati terhadap racunnya.


Ulsr itu sendiri yang merasa sudah menghabisi musuh berbahayanya kembali bangkit dan menatap tiga Tetua yang measih terduduk di tanah. Ia perlahan mendekati tiga Tetua itu membuat tiga Tetua itu terdiam dan pasrah akan kematiab yang kali ini sepertinya benar benar akan menghampiri Mereka.


"Kita belum selesai Cacing kecil," sebuah suara mengejutkan Tiga tetua itu, kabut asap itu dalam satu hembusan menghilang menampakkan seorang Perempuan yang masih berdiri tegak menatap Ular itu tajam.


Rara melesat, kali ini Ia benar benar kesal dan akan menghabisi Ular itu dalam satu kali serangan. Dengan gerakan cepat yang tak bisa di tangkap mata siapapun, Rara telah meuncul tepat di depan Ular tersebut dan menarik pedangnya.


"Tusukan Harimau Putih!"


...- - -...