
Feng dan Rara kembali melanjutkan perjalanan Mereka.
2 Hari dalam perjalanan akhirnya Feng dan Rara sampai di sebuah Kota bernama Kota Biru.
Kota Biru dapat dibilang merupakan wilayah perbatasan antara Kekaisaran Matahari dan Kekaisaran Bulan, Kota Biru dapat dibilang jauh dari sejahtera.
Terletak di perbatasan dan berada di kelilingi Hutan membuat Kota ini menjadi tempat sasaran Bandit dan Hewan Buas, namun walau begitu Penduduk penduduk yang telah lama tinggal di Kota tersebut tetap tak mau pindah karna Mereka merasa bertanggung jawab atas Tanah leluhurnya.
Feng dan Rara memasuki Kota dan langsung disuguhi pemandangan yang membuat keduanya kesal, itu adalah Bandit yang tengah menarik narik banyak Perempuan muda masuk ke dalam sebuah Penjara dan beberapa Bandit yang tengah mencambuk menyiksa Orang Orang Tua.
"Di Mo, ini saatnya Kau mencoba latihanmu selama 2 Hari ini," ucap Feng, yap setelah 2 Hari perjalanan Pria Tua itu mengatakan bahwa Ia bernama Di Mo namun saat Feng bertanya tentang siapa yang menyegel Di Mo dulu Ia tak menjawab membuat Feng paham bahwa itu pasti masa lalu yang sangat kelam.
"Baik Tuan!" jawab Di Mo dari Jarum Jiwa, Jarum Jiwa itu kemudian terbang dari dalam Jubah Feng kemudian melesat dengan cepat kearah Bandit Bandit tersebut.
"Aarghh!"
"Arggh!"
"Arggh!"
Teriakan demi teriakan kesakitan para Bandit terdengar saat sebuah Jarum menusuk masuk ke paha Mereka masing masing membuat Mereka langsung terjatuh karna Jarum itu juga diisi oleh Feng dengan Racun pelumpuh.
Disisi lain Warga Kota tampak terkejut saat melihat para Bandit itu satu demi satu terjatuh oleh sebuah Jarum yang tampak terbang.
Setelah menusuk seluruh Paha Bandit itu hingga membuat semuanya lumpuh, Jarum itu kembali terbang menuju Feng dan masuk kedalam Jubah Feng.
Para Warga Kota dan Para Bandit tadi yang memperhatikan Jarum tersebut terkejut saat Jarum itu terbang masuk dengan santai ke seorang Pria dengan Topeng hitam putih polos yang diikuti Seorang Gadis kecil yang memakai Topeng yang sama dibelakangnya.
"Ra'er, bebaskan Gadis gadis tersebut," ucap Feng, Rara mengangguk kemudian bejalan menuju penjara Gadis Gadis itu kemudian memukulnya hingga hancur.
Hal itu tentu saja membuat Watga Kota dan Para Bandit terkejut melihat Gadis Kecil dengan mudahnya memukul penjara yang terbuat dari Besi tersebut hingga hancur.
Feng sendiri berjalan perlahan sambil membantu Orang Orang Tua yang tadi disiksa Bandit Bandit tersebut.
"S-siapa Kau?!" tanya Para Bandit ketakutan, Mereka bukan Bandit yang dengan sombong melawan jika ada Orang asing karna melihat kekuatan Rara yang tadi disuruh Feng dan Jarum milik Feng saja sudah dengan jelas tampak bahwa kekuatannya luar biasa.
Feng yang mendengar hal itu hanya diam masih membantu Orang Orang Tua untuk berdiri lalu berbalik menatap Bandit Bandit tersebut.
"Aku tak akan membunuh Kalian tapi tunjukkan dimana markas Kalian," ucap Feng sambil tersenyum, melihat senyum itu membuat Para Bandit sedikit lega kemudian salah satu dari Mereka mengangguk setuju.
"Baiklah, Jarumku ini akan mengikuti Kalian, selama Kalian tak kabur maka Jarum ini tak akan membunuh Kalian kok," Ucap Feng mengelurakan Jarum Jiwa.
Para Bandit mengangguk lalu berdiri karna Racun pelumpuhnya telah hilang, dan satu persatu menaiki Kuda yang Mereka miliki lalu memacu Kuda Mereka keluar Kota diikuti Jarum Feng dibelakangnya.
Setelah Bandit itu keluar dari Kota, Feng langsung tersenyum psikopat lalu berbalik kembali dengan raut wajah ramahnya.
"T-tuan muda dan Nona muda terima kasih," ucap seorang Laki laki Dewasa yang merupakan Walikota Kota Biru.
"Tak apa, ini belum selesai kok," ucap Feng diam diam tersenyum misterius namun Warga Kota tak ada yang menyadarinya.
...- - -...
Para Bandit tadi sudah sampai di Markas Mereka dengan Jarum Jiwa dibelakangnya, Para Bandit itu menelan ludah diam diam karna Jarum Jiwa dibelakang Mereka memang tak kenal ampun dan langsung membunuh yang mencoba kabur.
Hal itu yang membuat Para Bandit yang lain merinding karna takut akan Jarum Kecil itu.
"S-sudah sampai," ucap Bandit tersebut gugup, tiba tiba Jarum Jiwa tersebut berapi dan langsung menusuk ke arah itu semua Bandit yang ada membuat Mereka kini menjadi seorang Kasim.
"Aargh!" teriak Bandit bandit itu kesakitan, mendengar suara Temannya yang tampak kesakitan, para Bandit yang lain satu demi satu datang dan melihat Jarum Jiwa yang penuh Api membakar itu Teman teman Mereka.
Hal itu tentu saja membuat Mereka dan satu demi satu menyerang Jarum Jiwa tersebut, namun dengan mudahnya Jarum Jiwa itu menghindar dan membalas dengan, memotong, membakar, atau menusuk itu Mereka.
Sekitar 1 Jam, seluruh Bandit yang tersisa telah dihapuskan itu nya dari tubuh Mereka dan Jarum Jiwa tersebut langsung terbang masuk kedalam Markas Bandit tersebut.
Jarum Jiwa tersebut menyusuri satu demi satu ruangan dan jika bertemu Bandit maka Ia akan langsung menghpuskan itu Si Bandit.
Jika bertemu Korban, maka Jarum Jiwa akan langsung membebaskannya dan memberi kode agar mengikutinya.
Para Korban yang awalnya terkejut karna ada Jarum terbang yang menyelamatkan Mereka langsung dengan patuh mengikuti Jarum terbang tersebut.
Setelah semua ruangan, kini tinggal 1 Ruangan yang belum di masuki yaitu ruangan Bos Bandit.
...- - -...
Disisi lain, Feng dan Rara tengah tidur tiduran di Kamar Mereka sambil menggelitiki satu sama lain lalu tertawa tawa.
Tok..
Tok..
Tok..
"Tuan Muda, para Warga Kota mengundang Tuan Muda untuk ikut dalam jamuan," suara salah seorang Warga Kota.
"Ya, Kami akan bersiap siap dulu," jawab Feng.
"Baik, Permisi Tuan Muda."
Setelah Orang itu pergi, Feng menyuruh Rara untuk membersihkan dirinya dan bersiap menuju Jamuan yang akan dilakukan.
...- - -...
"Salam Tuan Muda," ucap Warga yang ada disana yang melihat Feng datang, Feng hanya balas dengan tersenyum ramah kemudian duduk disalah satu kursi.
"Baik, Hari ini Saya Walikota Kota Biru ingin mengucapkan Terima Kasih banyak kepada Tuan Muda Feng yang telah menolong Kami dari Bandit Bandit yang menerang Kota Biru," Ucap Walikota Kota Biru, Semua Orang bertepuk tangan lalu berterima kasih kepada Feng.
"Janga berterima kasih dulu, karna masih belum waktunya," Ucap Feng membuat semua Orang disana terdiam kecuali suara Rara yang sudah asyik menyantap makanannya.
"Maaf, maksud Tuan Muda apa?" tanya seorang Warga.
Feng hanya menjawab dengan tersenyum, kemudian sesuatu dengan cepat berbentuk besar melesat dan berhenti tepat di telapak tangan Feng.
Kepala!
...- - -...