
"Ahhh~"
"Arrgh~"
"Sakiiit~"
Teriakan dan erangan kesakitan terus terdengar dari ruangan di depan Feng duduk, Feng tersenyum puas menedengar hal itu.
Di belakang Feng, Lin Shan berdiri menelan ludahnya gemetar, Ia benar benar ketakutan melihat bagaimana Feng menyiksa Orang seperti ini.
"Ini bahkan lebih kejam dari siksaan terkejam yang pernah Ku lihat," batinnya takut.
"Feng Gege, itu suara teriakan apa?" tanya Rara yang baru datang lalu langsung duduk di pangkuan Feng.
Feng tersenyum kemudian memeluk pinggang Rara dan meletakkan kepalanya di pundak Rara.
"Itu lagi latihan," ucap Feng, Rara mengerjap sesaat kemudian menoleh pada Feng.
"Latihan?" beo Rara bingung.
"Iya latihan, latihan suara yang paling keras," jawab Feng.
"Rara mau ikut," ucap Rara hendak turun dari pangkuan Feng, namun Feng menahannya.
"Itu latihannya gak boleh makan loh nanti," ucap Feng beralasan, mendengar itu membuat Rara mengurungkan niatnya dan memilih menyandarkan kepalanya pada dada Feng.
"Tapi Rara bosan," rengeknya.
"Bukannya Rara lagi hukum pasukan tadi?" ucap Feng bertanya.
"Iya, tapi masakannya gak enak gak kayak masakan Feng Gege," keluhnya kesal,Feng tertawa kecil mendengar hal itu.
"Ya sudah nanti Aku masak yang banyak untuk makan malam," ucap Feng membuat mata Rara berbinar, di bekang Mereka, Lin Shan juga berbinar mendengar Feng akan memasak untuk makan malam.
"Oh kenapa tak hukum saja Mereka dengan menyanyi," lanjut Feng membuat Rara meletakkan telunjuknya pada bibir sesaat kemudian mengangguk dengan antusias.
"Iya, Rara hukum aja menyanyi," antusias Rara membuat Feng tertawa kecil sedangkan Lin Shan langsung merasa kasihan pada bawahannya itu.
Rara kemudian hendak beranjak dari pangkuan Feng namun Feng menahannya dan berkata.
"Hadiahnya mana?" ucap Feng, Rara yang sudah paham langsung memajukan mulutnya.
Cup!
Bukan pipi yang di cium melainkan bibir, hal itu membuat Feng tersenyum lebar sedangkan Lin Shan langsung menutup matanya.
"Dah Feng Gege!" ucap Rara melambaikan tangannya lalu pergi.
Feng tersenyum balas melambaikan tangannya kemudian wajahnya kembali dingin.
"Lin Shan, masuklah dan suruh Mereka berhenti juga tutup tubuh Mereka dengan kain," ucap Feng, Lin Shan mengangguk paham lalu langsung masuk melaksanakan tugasnya.
Beberapa saat kemudian Lin Shan kembali lalu membungkuk pada Feng.
"Sudah Tuan," ucap Lin Shan, Feng mengangguk lalu berjalan masuk.
Ia tersenyum tipis saat melihat keadaan Orang orang itu yang mengenaskan dan sudah terkapar tak berdaya hanya dengan kain yang menutup tubuh Mereka.
"Kau Iblis Feng!" teriak Da Bai lirih karna kehabisan tenaga.
Feng tak menjawab hanya tersenyum, Ia kemudian mengarahkan telapak tangannya ke Orang orang itu lalu mulai menjalankan Teknik 7 Tanda Neraka.
Cahaya hitam langsung membungkus Mereka dan menarik Qi yang mereka punya terus menerus hingga Dantian Mereka retak dan akhirnya hancur.
"Aaargggh!" teriak Mereka kesakitan, Feng hanya tersenyum melihat tanda Neraka keempatnya sudah terisi seperempat karna itu.
"Kelelawar keluarlah," ucap Feng, Kelelawar kelelawar itu kemudian muncuk didepan Feng sambil menunduk.
"Bungkus Mereka di kain dan biarkan Kelelawar ini membawanya sebagai hadian untuk Kekaisaran Matahari, oh berikan juga surat yang isinya cepat atau lambat Aku akan datang ke sana dan menghancurkan Mereka," perintah Feng pada Lin Shan, Lin Shan mengangguk paham mendengar itu.
Kemudian Feng beralih menatap B_jingan penuh nafsu yang menundukkan kepalanya takut.
Feng melambaikan tangannya dan mengeluarkan sekantong koin emas kepada Mereka.
"Terima kasih Tuan," ucap Mereka hormat, Feng mengangguk kemudian menyuruh Mereka pergi.
Tentu saja Orang orang itu langsung berjalan cepat hendak keluar ruangan, namun tinggal beberapa langkah lagi dari pintu kepala Mereka semua putus dari badannya.
"B_jingan seperti Kalian lebih baik mati saja," gumam Feng tersenyum sinis kemudian berjalan keluar ruangan.
Lin Shan yang menyaksikan itu hanya menahan nafas.
"Aku beruntung jadi bawahannya," pikirnya.
...- - -...
Feng tersenyum menatap bulan dari balkon kamarnya dan Rara.
Ia duduk lalu menghela nafas memandang langit, Ia meangangkat tangannya tersenyum.
"Ibu, Ayah, setidaknya apa yang Mereka lakukan dulu kini telah terbalaskan," gumamnya tersenyum.
[Ding! Selamat Tuan telah membunuh 145 Hewan Buas tingkat Rendah,121 Hewan Buas tingkat menengah dan 94 Hewan Buas tingkat Tinggi]
[Hadiah : 80K Point]
[Ding! Selamat Tuan Rumah telah mendapat warisan Nenek Ki]
[Hadiah : 50K Point, Kitab 99 Matahari{Roh} dan Gelang Bulan]
[Ding! System Level Up ke Level Tinggi]
[Hadiah : 1M Point, 3 Kotak Hadiah Misterius]
[Ding! Meningkatkan fitur latihan menjadi Dunia kecil]
Feng menahan nafas mendengar pmberitahuan berturut turut dari System tersebut.
Ia menghela nafasnya lega dan bahagia, Feng tersenyum lebar kemudian Ia membuka mulutnya.
"Status!"
[Status :
Nama : Feng
Tingkat Kultivasi : Langit Lapis 1
Pondasi : Berlian
Akar Roh : Kegelapan, Cahaya, Racun, Angin, Air, Api, Tanah
Teknik Budidaya : 7 Tanda Neraka {3 Tanda Penuh}
Teknik Lainnya : Aura Kematian, Segel Semesta, Alchemist Bulan, Jurus 1000 Jarum.
Senjata : Jarum Jiwa
Point : 1 Juta 200 Ribu
>> Toko
>> Gacha
>> Keluarga
>> Penjualan
>> Dunia kecil]
Feng menyandarkan kepalanya ke tempat duduk yang Ia duduki, Ia tak berniat bertanya tanya pada System karna saat ini Ia masih sedikit pusing mengingat kejadian hari ini dan beberapa hari yang lalu.
"Feng Gege!" panggil Rara membuat Feng tersentak kemudian menoleh melihat Rara yang tengah berjalan ke arahnya sambil memeluk boneka kelinci yang Feng pernah berikan saat Mereka pertama kali sampai di Kekaisaran Bulan.
Rara berjalan mendekati Feng lalu naik ke pangkuannya dan menyandarkan kepalanya ke dada Feng.
Feng tersenyum mengelus rambut hitam panjang Rara lalu mengecup keningnya.
"Ada apa?" tanya Feng.
"Hoaaam... Rara ngantuk Feng Gege, mau tidur di peluk Feng Gege," uap Rara sambil berkata dengan nada lirih.
Feng tersenyum lembut mendengar itu kemudian memeluk Rara sambil tetap mengelus rambut Rara.
"Tidurlah," ucap Feng, Rara mengangguk kemudian bergerak gerak mencari tempat yang nyaman lalu mulai terlelap menuju Alam mimpi.
Feng tersenyum mendengar dengkuran halu dari Rara dan tertawa kecil saat mendengar gumaman kecil dari mulutnya.
"Feng Gege... Makan... Enak," gumam Rara mengingau.
Cup!
Cup!
Cup!
Feng mengecup kening dan muka Rara berkali kali kemudian mengangkatnya dan merebahkannya ke kasur dan menyelimutinya.
Setelah itu, Ia berjalan kembali ke balkon kamarnya lalu berdiri di tepian balkon sambil menatap Kota Kekaisaran Bulan yang tampak bercahaya di malam hari.
Feng menghela nafas kemudian mendongak menatap bulan di tengah langit malan dan hamparan bintang yang bersinar kerlap kerlip.
Ia tersenyum menutup matanya lalu Feng bergumam dengan gumaman kecil.
"Inilah Takdirku!"
...- - -...
ARC 1 : END