
Kini Feng, Rara dan seluruh Peserta sudah kembali berada di atas Elang Raksasa menuju Daratan Hitam.
Old Xi dan Di Shi sejak naik sudah menutup mulutnya begitu juga dengan Wang Yi, hal tersebut disebabkan Feng menyuruh Mereka tutup mulut dan tak membicarakan apa apa tentang pembantaian Organisasi Racun Emas atau Kediaman Tuan Kota Emas.
Old Xi juga sudah mengirim Kertas surat pada Kaisar Di agar mengirim pengganti untuk Tuan Kota Bulan Emas.
Old Xi, Di Shi dan Wang Yi diam diam menelan ludahnya gugup jika berdekatan dengan Feng dan Rara.
Bagi Mereka Feng dan Rara memiliki kepribadian ganda, tingkah dan sifat Mereka benar benar berbeda jika sudah berhadapan dengan Musuh.
Bahkan Mereka tampak tanpa beban sama sekali setelah membunuh banyak Orang, padahal di usia semuda Mereka banyak Orang yang akan pingsan begitu melihat pembunuhan tepat dihadapan Mereka.
...- - -...
3 Hari kemudian...
Setelah 3 Hari kembali terbang, akhirnya seluruh Peserta dapat melihat sebuah Pulau kecil tepat di tengah samudra laut selatan.
Pulau tersebut bewarna hitam dan mengeluarkan Aura yang besar, bersamaan dengan Mereka hendak mendarat, datang juga Peserta lainnya yang berasal dari Kekaisaran Matahari dan Kekaisaran Bintang.
Mata Feng menyipit dengan senyuman tipis begitu melihat siapa saja yang berada di perwakilan Kekaisaran Matahari.
"Pembalasan dendam instan," pikirnya sambil tersenyum psikopat.
Di sisi lain, Ning Mei, Da Bai, Pangeran Mahkota, Pangeran Ketiga dan Putri Mentri Han merasa merinding dan merasa ada yang menatap Mereka.
Sontak Mereka menoleh ke arah Perwakilan Kekaisaran Bulan dan tak melihat ada Orang yang melihat Mereka.
"Perasaan apa itu tadi?" batin Mereka sedikit takut.
...- - -...
Daratan Hitam
"Baiklah, Kalian sudah berkumpul disini setiap Perwakilan," ucap seorang Nenek Tua yang tiba tiba muncul dihadapan Mereka.
Hal tersebut tentu saja membuat Mereka semua terkejut dan bertanya tanya siapa Nenek Tua itu.
"Perkenalkan, panggil saja Aku Nenek Ki, Aku adalah Penjaga Daratan Hitam ini," ucap Nenek Ki membuat semua Orang tak percaya karna Mereka sama sekali tak merasakan Aura yang kekuar dari tubuh Nenek tersebut.
Berbeda dengan Feng dan Rara yang merasakan perasaan akrab dalam diri Mereka saat melihat Nenek tersebut.
"System, bisa Kau cek status Nenek itu?" tanya Feng.
[Ding! Hal itu di luar kemampuan System Tuan]
Feng menghela nafas berat kemudian kembali menatap Nenek tersebut.
"Kalian pasti para jenius yang paling menonjol dari seluruh Jenius di 3 Kekaisaran, namun di Daratan Hitam ini, kejeniusan Kalian hanya dapat di gunakan di akhir," ucap Nenek Ki membuat seluruh Orang kembali bingung.
"Maaf, maksud Nenek apa ya?" tanya salah seorang Peserta dari Kekaisaran Bintang.
"Haha... Kau akan tau saat Kau memasuki Daratan Hitam nanti," ucap Nenek Ki kemudian secara tiba tiba menghilang.
Kemudian sebuah portal lebar muncul di hadapan semua Orang.
"Masuklah! lalu temukan apa yang ingin Kau temukan," suara Nenek Ki kembali terdengar.
Beberapa Peserta langsung masuk tanpa menghiraukan kelompoknya, beberapa lagi mulai berbicara pada Pemandu Mereka seperti Old Xi.
Old Xi langsung di serbu pertanyaan oleh para Perwakilan dari Kekaisaran Bulan temasuk Di Shi dan Wang Yi.
"Aku juga tak tau siapa Nenek itu dan apa yang terjadi di dalam juga tak menentu," jawab Old Xi saat banyak yang bertanya siapa Nenek tadi dan apa yang akan terjadi didalam.
Feng sendiri lebih memilih untuk bertanya pada Di Mo karna Ia adalah salah satu leluhur terdahulu sehingga Feng yakin Di Mo mengetahui beberapa informasi tentang itu.
"Tuan, sebenarnya Aku juga tak tau pasti siapa Nenek itu, namun yang pasti Nenek itu sudah ada lebih dari beribu ribu tahun lalu bahkan saat Aku sebagai Orang pertama yang memasuki Daratan Hitam," jelas Di Mo.
Feng mengerutkan dahinya, semakin banya mistery yang berputar putar di kepalanya mendengar penjelasan Di Mo barusan.
"Baik, baik singkatnya saja," ucap Feng.
"Baiklah Tuan, Pertama, Nenek tadi sesuai perkataanku Ia telah hidup beribu ribu tahun yang lalu dan tak ada yang tau kekuatannya atau dapat di pastikan kekuatannya melebih Orang Dewa b_jingan itu," ucap Di Mo, Feng mengangguk paham.
"Kedua, keadaan di dalam Daratan Hitam selalu berubah ubah Tuan, tidak ada keterangan pasti dan tak ada aturan, hanya ada 1 larangan yaitu dilarang dimasuki diatas umur 25 tahun," lanjut Di Mo membuat Feng terdiam.
"Bagaimana jika ada yang diatas 25 Tahun memasuki Daratan Hitam?" tanya Feng.
"Ia akan langsung meledak Tuan," jawab Di Mo membuat Feng menahan nafas.
"Baiklah, lalu apa Kau tau isi Daratan Hitam ini?" tanya Feng lagi.
"Daratan Hitam berisi Sumber Daya langka Tuan, juga harta harta langka dan banyak lainnya, namun Daratan Hitam juga menyimpan banyak bahaya seperti Hewan Buas tingkat Tinggi bahkan konon katanya ada juga Hewan Buas tingkat Roh," jelas Di Mo.
Feng menghela nafasnya.
"Sepertinya perjalananku akan tambah panjang," gumamnya.
"Feng Gege, ayo pergi," tarik Rara pada tangan Feng, Feng mengangguk tersenyum kemudian masuk berdua bersama Rara kedalam Portal tersebut.
Wuuush...
Tiba tiba pandangan Rara dan Feng menggelap lalu di gantikan sebuah pemandangan Hutan, Sungai dan Laut.
Feng melihat sekitar, Ia dan Rara ternyata dipindahkan ke sebuah puncak Gunung tinggi.
"Feng Gege lihat itu!" tunjuk Rara pada sebuah Menara yang terletak tepat di tengah Hutan.
Tinggi menara itu sedikit lebih tinggi dari Menara Eiffel dan berbentuk seperti Menara Pisa di Italia, warnanya pun bewarna hitam.
"Itu adalah tujuan Kalian," sebuah suara mengangetkan Feng dan Rara.
Feng dan Rara berbalik dan melihat Nenek Ki yang berdiri beberapa meter dari Mereka sambil tersenyum melihat Menara tersebut.
"Maksud Nenek, semua Orang?" tanya Feng, Nenek Ki menggeleng.
"Hanya untuk Kalian berdua," ucap Nenek Ki lagi.
"Kalian mungkin bingung, namun anggap saja ini pelatihan kedua setelah Kalian dilatih oleh Orang bodoh yang menyebut dirinya Penguasa Dunia itu," lanjut Nenek itu membuat Feng dan Rara kaget.
"Nenek mengenal Paman Penguasa?" tanya Rara.
Nenek itu tersenyum pada Rara, lalu mendekat dan mengelus rambut Rara.
"Siapa yang tidak mengenal Orang Jomblo itu," ucap Nenek Ki membuat Feng tersedak.
"Ternyata benar, Penguasa bodoh itu memang Jomblo dari dulu," gumam Feng aneh.
...- - -...
Tuk...
Tuk...
Tuk...
"Issh... Apa apaan ini, kemarin kelapa sekarang pisang, mungkin memang benar Aku ada yang membicarakan, tapi siapa ya? apa jangan jangan Pemuda bodoh itu atau Gadis kecil rakus itu yang membicarakanku?" gumam Penguasa Dunia kesal kemudian kembali melahap pisang di tanganya.
...- - -...