
"Saat Aku memutuskan berpetualang keluar, Aku tak tau apa tujuanku sebenarnya, entah itu mencati cinta sejati atau hanya sekedar menghindar dari permintaan Orang tua yang juga bertanya tentang kapan akan menikah. Tapi tetap saja, Aku memutuskan untuk pergi mengenal Dunia luar, berkeliling mencari pengalaman dan meningkatkan kekuatan, mungkin itu tujuan pertama ku," cerita Perempuan itu.
"Saat itu Dunia ini masih dalam perbaikan setelah bencana beberapa puluh tahun lalu, bencana yang Aku sendiri saat itu masih kecil dan tak mengerti, namun setelah Aku bertemu dirinya Aku mengetahuinya."
"Di saat Dunia masih di tahap perbaikan dan perkembangan seperti itu, dimana Manusia, Iblis dan Dewa dengan cepat berkembang biak, menikah dan memiliki Anak, berbeda dengan Kami yang membutuhkan waktu lama. Namun Kami tak tersinggung atas kekuarangan Kami itu karna Kami tau, Kamilah Ras penguasa Dunia ini. Saat itu Aku menyamar seperti Manusia pada umumnya, berkelana menyusuri Dunia ini sambil terus berlatih dan meningkatkan kekuatan."
"Namun sayang, haluanku berubah. Semenjak Aku berpetualang, Aku selalu di hadapkan dimana selalu bertemu kejahatan kejahatan yang terjadi di Dunia ini, juga kerusakan lainnya. Awalnya Aku tak peduli, hingga akhirnya salah satu temanku yang Aku temui saat berpetualang mati karena kejahatan kejahatan itu." lanjut Perempuan itu sambil tersenyum tipis mendengar itu.
"Akhirnya setelah itu, Aku putuskan untuk mengubah haluanku menjadi seorang penyelamat. Aku tak membiarkan kejahatan apapun itu terjadi, pun dengan kematian, baik Ia penjahat atau Orang baik, tak akan ku biarkan Ia mati dan akan Ku selesaikan dengan cara terbaik yang membuat semua Orang puas. Oleh karena itu kemudian Orang orang mengenalku dengan nama...
.... Dewi Kehidupan." ucap Perempuan itu kemudian menoleh ke arah Rara sambil tersenyum. Rara yang mendengar ucapan akhir Perempuan itu juga nampak terkejut menatap Perempuan itu.
"K-ka-" ucap Rara terbata bata, Perempuan itu mengangguk tersenyum mendengar ucapan Rara yang terbata bata tersebut.
"Ya, Aku adalah Dewi Kehidupan yang kini juva menjadi Roh bela dirimu," jawab Dewi Kehidupan, Rara menggeleng keras membuat dahi Dewi kehidupan berkerut.
"Lalu apa?" tanya Dewi kehidupan bingung, sepertinya Rara bukan terkejut karna tau Ia Dewi kehidupan namun ksrna ada faktor lain yang membuatnya terkejut.
"Kau hantu?!" ucap Rara ketakutan, Dewi kehidupan melongo kemudian menatap sekitarnya dan kembali menatap Rara. Dewi kehidupan rasa Ia telah menciptakan Dunia ini sebaik baiknya hingga membuat siapa saja yabg memasukinya akan merasa senang dan merasakan energi positif lainnya, namun kenapa malah Ia merasakan energi negatif seperti ketakutan?
"Kenapa Kau berpikir Aku hantu?" tanya Dewi kehidupab menatap Rara, Rara merubah ekspresinya menjadi ekspresi berpikir sejenak kemudian mengangguk.
"Soalnya kalau benar Kakak Dewi kehidupan dan Dewi kehidupan telah lama mati laku kenjadi roh bela diriku tapi bagaimana mungkin bisa bertemu denganku sekarang?" jelas Rara membuat Dewi Kehiduoan tak bisa berkata apa apa akan pemikiran Rara tersebut. Ia terlalu polos dan pintar.
"Saat Aku terkenal dengan gelar Dewi kehidupan itu, Aku merasa di atas angin, Aku merasa bisa melakukan apa saja dan membuat seluruh Makhluk tetap hidup, hingga Aku di hadapkan pada suatu permasalahn yang paling sering terjadi namun baru kali ini Aku menghadapinya."
"Itu adalah... Takdir. Saat itu namaku tengah masyhur sehingga seluruh Makhlu di Dunia ini mengenalku, namun di suatu sore, saat Aku tengah bersantai dengan secangkir minuman, sworang Anak kecil datang menemuiku. Ia meminta tolong sambil bersujud berharap Aku bisa menyelamatkan Kakeknya, Aku mengangguk kemudian mengikuti Anak itu sampai di sebuah gubuk kecil. Di gubuk itu hanya terdapat sebuah ranjang dari anyaman bambu dan di atas ranjang itu berbaring seorang Kakek tua yang tak sadarkan diri dengan nafas tak beraturan."
"Aku maju, mengira Kakek itu hanya sekedar terkena penyakit karna sejauh ini tak ada penyakit yang tak bisa ku sembuhkan. Namun saat memeriksanya, Aku menyadari bahwa ini bukanlah sebuah penyakit badan ataupun psikolog, namun ini sebuah takdir." tiba tiba ekspresi Dewi kehidupan berubah sedikit menyesal mengenang itu.
"Aku yang saat itu masih bertahan pada egoku akhirnya tak mempedulikan hal itu dan mulai mencoba menyembuhkan Kakek itu keski tau bahwa Kakek itu bukan sedang mengidap penyakit namun sedang menghadapi takdirnya menuju kematian. Hal yang terjadi selanjutnya membuat sekua kesombongan dan egoku itu runtuh, Kakek itu justru nampak sangat kesakitan setelah itu bahkan tubuhku gemetar melihat apa akibat yang baru saja Aku lakukan. Sedangkan Anak kecil tadi sudah menangis kencang memeluk tubuh Kakeknya itu."
"Tubuhku lunglai dan jatuh ke tanah, Aku tak mengira, Aku akan gagal, mentalku benar benar terhantam saat itu hingga Aku tak tau lagi apa yang mesti Aku lakukan hingga sebuah suara menyadarkanku."
"Jangan melawan takdir!" Ucap suara itu, Aku menoleh begitu juga Anak kecil tadi, seorang Pemuda yang nampak seumuranku itu berjalan memasuki gubuk dengan jubah hitamnya, matanya hitam begitu juga rambutnya, namun begitu menatap matanya membuat suatu perasaan yang tak bisa Aku gambarkan di dalam hatiku, seperti perasaan... tenang?"
"Kau mau Kakekmu pergi dengan tenang atau biarkan dia terus menyiksanya dengan kedok mengobatinya?" tanya Pemuda itu melirik diriku, kalau dalam keadaan biasa Aku pasti sudah meninju muka dinginnya itu namun Pemuda itu benar, Aku telah menyiksa Kakek tersebut. Anak itu tetap menangis beberapa saat sebelum akhirnya memilih mengikhkaskan Kakeknya, Pemuda itu kemudian mengusapkan telapak tangannya ke muka Kakek itu dan seketika Kakek itu menjadi tenang, namun bukan hanya itu sebuah ruh kekuar dari jasadnya dan menatap Kami semua di ruangan itu. Ruh itu tak berbicara namun menundukkan badannya dihadapanku dan Pemuda itu seperti berterima kasih kemudian memeluk cucunya erat dan akhirnya... menghilang."
Dewi kehidupan tersenyum mengingat itu, pasalnya itu benar benar adalah kejadian yang paling teringat dan berkesan baginya, bukan hanya itu melalui kehadian itu Ia juga berubah dan mengerti apa makna sebenarnya dari "kehidupan" yang tercantum dalam gelarnya tersebut.
"Siapa Pemuda itu Kak?" tanya Rara penasaran akan Pemuda yang dapat menarik nyawa dalam satu usapan telapak tangan itu, Dewi Kehidupan nampak tersenyum mendengar itu dengan pipi yang juga mulai memerah serta perasaan yang mulai membuncah di dalam dadanya. Perasaan cinta dan rindu yang mendalam.
"Pemuda itu adalah... Dewa Kematian."
...- - -...