
"Baiklah, ini saatnya Kau kembali kepada Gadismu itu," ucap Nenek Ki tersenyum, Feng mengangguk kemudian berdiri dari duduknya.
"Heh Kau B_jingan Pedofil! awas Kau sampai ***** ama Gadis kecil itu!" ucap Gadis kecil tadi menatap tajam Feng.
"Iya Gadis kecil," jawab Feng malas.
"Hey! Panggil Aku Mahadewi bukan Gadis kecil!" bentak Gadis kecil itu kesal.
"Ok ok, Mahadewi," ralat Feng menghela nafas malas.
Kini giliran Penguasa Dunia yang sejak tadi diam, hal tersebut tentu saja membuat Feng, Nenek Ki dan Mahadewi penasaran, Mereka kompak menoleh pada Penguasa Dunia.
"Psst... Penguasa bodoh," panggil Feng, namun Penguasa Dunia masih melamun.
Tak punya ide, Mahadewi kemudian tanpa basa basi memukul kencang kepala Penguasa Dunia hingga Penguasa Dunia terjengkal jatuh kebawah.
"Awwss.. Siala_ Kau Gadis kecil! Apa apaan Kau!" kesal Penguasa Dunia.
"Kau yang apa apaan, di panggil malah melamun!" ketus Mahadewi.
"Lihat, Bocah itu mau balik, Kau tak ingin berkata apa apa hah?!" lanjutnya ketus.
Mendengar hal itu mendadak wajah Penguasa Dunia memasang muka ragu ragu menatap Feng, hal tersebut tentu saja di sadari ketiganya.
"Ada apa?" tanya Feng melihat muka ragu ragu Penguasa Dunia.
"Anu... Bisakah Kau memberikan surat ini kepada Gadis yang bernama Rin Fi," ucap Penguasa Dunia.
"Uhuk... Uhuk..." Feng, Mahadewi dan Nenek Ki langsung terbatuk mendengarnya.
"Pffft... Hahaha..." tawa ketiganya kencang.
"Hahaha... Akhirnya Kau jatuh cinta juga," tawa Nenek Ki.
"Hahaha... Jomblo jatuh cinta," sambung Mahadewi tertawa paling kencang, sedangkan Feng sendiri hanya tertawa tanpa berkata kata.
Wajah Penguasa Dunia sendiri sudah merah padam karna malu dan kesal, melihat wajah itu sontak membuat Feng, Nenek Ki dan Mahadewi tambah keras tertawa.
"Haha... Baiklah, baiklah, kemarikan suratnya, akan Ku berikan nanti saat bertemu Orangnya," ucap Feng kemudian mengambil surat dari Penguasa Dunia dan menyimpannya ke cincin ruangnya.
"Ngomong ngomong kenapa Kau bisa tertarik dengan Perempuan bernama Rin Fi ini?" tanya Feng, sontak hal tersebut membuat Nenek Ki dan Mahadewi berhenti bicara kemudian kembali menatap Penguasa Dunia juga penasaran.
"Huh... Sebenarnya Ia adalah Reinkarnasi Kekasihku di kehidupan sebelumnya," jawab Penguasa Dunia sambil menghela nafas panjang.
Hal tersebut tentu saja membuat ketiganya terkejut.
"Hm... Baiklah, Kau tau dimana tinggalnya?" tanya Feng, Penguasa Dunia menggeleng.
"Aku tak tau dimana tempat tinggalnya, hanya saja Aku merasakan Auranya dari arah Benua Bintang," ucap Penguasa Dunia, Feng mengangguk paham.
"Baiklah, akan ku sampaikan jika bertemu dengannya," ucap Feng tersenyum kemudian berbalik menatap Nenek Ki.
"Nek, kirim Aku kembali sekarang," ucap Feng, Nenek Ki mengangguk kemudian menjentikan jarinya.
Klik!
Tubuh Feng perlahan menjadi cahaya dan hilang dari kakinya.
"Jangan lupa setelah membalaskan dendammu, kembali dan mulai latihanmu," ucap Nenek Ki, Feng mengangguk paham.
Wusssh...
Setelah Feng hilang, Nenek Ki, Mahadewi dan Penguasa Dunia saling pandang lalu sama sama menghela nafas.
"Anak itu memiliki takdir yang panjang," ucap Nenek Ki, Mahadewi dan Penguasa Dunia mengangguk setuju.
"Bahkan mungkin takdirnya tak akan berhenti di Dia saja," lanjut Mahadewi membuat Mereka bertiga kembali menghela nafas.
...- - -...
Tiba tiba sebuah tangan mengusap air matanya membuat Rara tersentak kemudian melihat Orang yang paling Ia sayangi kini tengah tersenyum lembut padanya.
"Feng Gege!" teriak Rara haru kemudian memeluk erat tubuh Feng.
Feng tersenyum mengelus rambut panjang hitam Rara.
"Hiks... Feng Gege.. Hiks... Jangan pergi," isak Rara, Feng tersenyum.
"Gak akan, Aku gak bakal pergi tanpa Rara," ucap Feng menenangkan Rara.
Setelah 1 Jam akhirnya Rara kembali tenang kemudian Feng mengajak Rara kembali ke lantai bawah.
Rara mengangguk lalu naik ke punggung Feng yang sudah sembuh sempurna karna Pil yang Ia makan.
Feng juga tak lupa mengambil Kotak Alam yang sebelumnya Ia letakkan di luar Ruangan.
Mereka berdua kemudian berjalan ke lantai bawah dan sepanjang jalan Mereka terkejut saat banyaknya Hewan Buas sama seperti pertama kali Mereka naik.
Mereka kemudian kembali mulai membantai Hewan Hewan Buas itu sambil berjalan ke lantai 1.
Sampai di lantai 1 tatapan Mereka tertuju pada sekelompok Orang yang sedang bertarung dengan Hewan Buas dengan banyak Orang terikat dibelakang Orang itu serta seorang Arwah yang terbang terbang dibelakangnya.
Feng menyerit dan langsung membantu Orang orang tersebut dibantu Rara.
Di sisi lain, Wang Yi, Di Shi serta yang lainnya ditambah Orang dari kelompok Kekaisaran Bintang yang tengah bertarung dengan Hewan Buas dikejutkam dengan datangnya 2 Orang yang langsung membantai seluruh Hewan Buas yang Mereka lawan.
Di Shi, Wang Yi dan kelompok Kekaisaran Matahari langsung bersorak senang saat mengetahui Orang tersebut adalah Feng dan Rara.
Tak butuh waktu lama Feng dan Rara akhirnya berhasil membantai seluruhnya dan berbalik menatap semua Orang yang menatap Mereka berdua.
"Sudah berapa lama?" tanya Feng menatap Di Mo.
"Hormat Tuan, Tuan Kami sudah menunggu 2 Minggu disini," ucap Di Mo membuat Feng dan Rara tersentak.
Feng terdiam, Ia sekarang sedikit paham, sepertinya ada perbedaan kecepatan waktu saat Ia dan Rara didalam ruangan di lantai 3.
Namun kembali Ia menatap dingin semua Orang disana, Ia kemudian mengeluarkan Aura kematiannya membuat semua Orang disana kecuali Rara dan Di Mo terjatuh sambil menatap Feng takut.
Feng kemudian menatap kelompok Kekaisaran Bintang dengan dingin.
"Jika sampai Kekaisaran Bintang mengangguku karna ini, bukan hanya Kekaisaran Bintang yang hancur, Kalian juga akan hancur sampai ke jiwa jiwa Kalian," ucap Feng penuh ancaman dan kekejaman.
Kelompok Kekaisaran Bintang langsung paham apa yang dimaksud Feng, itu adalah tentang kekuatannya dan Senjata tingkat Roh yaitu Jarum Jiwa yang merupakan Di Mo.
Feng kemudian menarik Aura kematiannya membuat nafas semuanya kembali lega.
"Pergi keluar, lantai 2 telah Kami bersihkan," ucap Feng dingin, kelompok Kekaisaran Bintang menngangguk dengan cepat.
Kini Feng menatap kelompok Kekaisaran Bulan dengan dingin dan hal tersebut sukses membuat kelompok Kekaisaran Bulan langsung bersujud.
"Hormat kepada Tuan Kaisar Leluhur," ucap Di Shi dan yang lainnya kompak, Feng yang mendengar itu sedikit terkejut kemudian menoleh menatap Di Mo yang tersenyum lebar sambil mengangkat 2 jarinya.
Feng menghela nafas kemudian menyuruh Di Shi dan yang lainnya bangun.
"Peringatkan kelompok dan Sekte Kalian untuk jangan menyinggungku atau Kalian pasti tau bagaimana cara ku menyelesaikannya bukan," ucap Feng, kelompok Kekaisaran Bulan mengangguk cepat, Mereka sudah pernah melihat kekejam Feng tentu saja tau dan takut dibuatnya.
Kini tatapan Feng beralih pada Orang orang yang berada dibelakang kelompok Kekaisaran Bulan, Ia tersenyum lebar menatap Orang orang itu.
"Saatnya membalas semuanya," gumam Feng tersenyum kejam.
...- - -...