The System

The System
Alam Dewa



"... Aku dan Istriku sudah berangkat ke Alam Dewa. Aku mengirim tranmisi ini agar Kau dan seluruh Manusia Elang dapat membantuku untuk menjaga seluruh Alam Iblis dan segala sesuatu di dalamnya terhadap segala sesuatu yang tak terduga terjadi. Jaga diriku, sampaikan salamku pada Falco dan Falca."


Kakek itu terdiam begitu mendapat tranmisi suara dari Feng tersebut. Wajahnya berubah sedih karena Ia dan seluruh Manusia Elang belum dapat membalas jasa Feng dan sekarang Feng sudah pergi. Namun mengingat amanah yang di tinggalkan Feng. Kakek itu bertekad akan melaksanakannya sebaik mungkin.


"Kek, kenapa Kakek nampak sedih gitu?" tanya Falca yang baru saja datang, diikuti Falco yang berjalan dibelakangnya. Kakek itu menggeleng menjawab pertanyaan cucunya tersebut.


"Tuan Feng telah pergi ke Alam Dewa," jawabnya membuat Falca dan Falco terkejut. Falca nampak sedih setelahnya karna meski Ia tau cintanya bertepuk sebelah tangan terhadap Feng namun perasaan itu masih bersarang di hatinya. Sedangkan Falco menggenggam tangannya erat, Ia merasa sangat jauh tertinggal dari Feng padahal secara umur Ia lebih tua dari Feng.


Kakek itu tak lagi memperhatikan ekspresi kedua cucunya berkat hal yang Ia beritahukan barusan. Ia kemudian mengembangkan sayapnya dan terbang.


"Seluruh Manusia Elang, perhatikan!" ucap Kakek itu membuat seluruh Manusia Elang yang tengah latihan menghentikan latihannya dan menatap Kakek itu fokus.


"Tuan Feng, Penyelamat Kita telah pergi ke Alam Dewa dan menitipkan pesan agar Kita membantunya untuk menjaga Alam Iblis beserta segala isinya. Meski belum berhasil membalas jasanya secara langsung, anggap saja perintah yang Ia berikan ini sebagai salah satu bentuk balas jasa Kita kepadanya, meski tak seberapa dan Ku harap Kita dapat melakukannya sebaik baiknya!"


Seluruh Manusia Elang terdiam sejenak mencerna berita mengejutkan yang tiba tiba disampaikan Kakek tersebut. Mereka kemudian serentak bertekuk lutut sambil menundukkan kepalanya, memberi hormat.


"Kami akan melaksanakan perintah dengan sebaik baiknya. Hidup Tuan Feng!"


"Hidup Tuan Penyelamat!"


...- - -...


Cahaya terang menutupi pandangan Feng dan Rara, perlahan cahaya tetang itu menghilang dan menampakkan pemandangan di hadapan Mereka.


"Hey cepat turun dari altar, pengunjung selanjutnya akan segera datang!" sebuah suara teriakan membuat Feng dan Rara menoleh. Seorang dengan pakaian prajurit yang tampak berkilauan karna terbuat dari emas meneriaki Mereka berdua.


Feng dan Rara baru sadar bahwa Mereka kini berada di atas sebuah altar, Mereka segera berjalan turun dan langsung di hampiri oleh Prajurit berpakaian emas tadi.


"Kalian dari Kota mana?" tanyanya sambil memegang sebuah buku dan pena. Feng dan Rara saling berpandangan, dari kota mana? Mereka jelas jelas dari Alam Iblis dan Mereka sama sekali tak tau Alam Dewa ini.


"Kami baru saja pulang berburu," jawab Rara tiba tiba, Feng menoleh menatap Rara sedangkan Rara mengedipkan sebelah matanya.


"Berburu? Oh berarti Kalian barusan dari Hutan Dewa, kalau begitu biayanya 10 koin Dewa," sahut Prajurit itu menjulurkan tangannya meminta uang. Kali ini muka Rara berubah cemas, apalagi pajak ini? Mereka kan baru datang dan sama sekali tak memiliki apa apa tentang Alam Dewa ini.


"Ini," Feng di samping Rara dengan cepat memberikan sebuah kantong. Prajurit itu memeriksa sebentar isi kantong tersebut dan tersenyum mengangguk mempersilahkan Feng dan Rara lewat. Rara menghela nafas lega.


"Istriku memang pintar," ucap Feng mengacak pucuk kepala Rara. Rara tersenyum lebar mendengar pujian Feng padanya. Namun kemudian Ia menatap Feng bingung.


"Mungkin Aku harus belajar menjadi Orang kaya yang boros," gumam Feng mendesah pelan.


Feng dan Rara kemudian memutuskan untuk mencari Penginapan dulu sebelum benar benar mencari tau tentang Alam Dewa ini. Sepanjang jalan Feng terus memperhatikan apa yang bisa Ia perhatikan sambil mencari informasi. Begitu juga Rara, bedanya Ia lebih fokus memperhatikan jajanan yang di jual di Alam Dewa ini.


"Ra, tekan kekuatan dan Auramu sampai tingkat Bumi," bisik Feng, Rara mengangguk segera menekan kekuatan dan auranya hingga tingkat Bumi. Feng juga menekan kekuatan dan auranya, itu Ia lakukan karna setelah Ia memperhatikan debgan seksama, rata rata kekuatan orang orang di Alam Dewa ini berada pada tingkat Bumi. Tingkat Emas kebawah hanya dimiliki oleh Anak anak dan Rakyat jelata.


Menurut Feng itu sudah sangat luar biasa, mengingat bahwa yang terlemah adalah tingkat emas dan lagi, sejauh yang Feng perhatikan kehidupan disini cukup tenang. Tak nampak persaingan atau sejenisnya, namun satu hal yang bisa Feng pastikan saat Ia tiba disini.


Semua Orang ini sangat sombong!


Feng dapat mengatakan itu bukan tak ada alasan, pertama saat Mereka bertemu Prajurit Emas tadi, Ia sama sekali tak memalak Feng dan Rara namun hanya memandang Mereka remeh. Begitu juga Orang orang yang Mereka temui sedari tadi, Mereka saling memandang remeh satu sama lain. Entah memang tatapannya memang begitu atau salah satu sifat Mereka memang seperti itu.


Tak lama Feng dan Rara akhirnya sampai di sebuah penginapan yang cukup mewah. Lantai satu penginapan tersebut di gunakan sebagai restoran sedangkan lantai 2 keatas di gunakan sebagai penginapan. Feng tersenyum tipis, dengan begini maka tugasnya mencari informasi akan lebih mudah.


Feng dan Rara berjalan memasuki restoran di lantai satu itu dan berjalan menuju resepsionis.


"Kami ingin memesan sebuah kamar dan makanan," ucap Feng, Resepsionis yang sedang fokus ke bukunya itu mendongak sejenak kemudian kembali menatap bukunya.


"20 Koin Dewa," ucapnya acuh tak acuh, Feng menyeritkan dahinya menatap Resepsionis yang tampak acuh tak acuh itu. Ia ingin mengeluarkan sekantong uang, namun Rara menahannya dan mengambil sekantong uang itu dari Feng dan...


Brakkk...


Resepsionis itu terkejut saat Rara melemparkan sekantong uang itu ke buku yang sedang di baca Resepsionis itu. Resepsionis itu mendongak menatap Rara ingin marah, namun Ia tak jadi marah saat Rara justru balas menatapnya menantang.


Nyali Resepsionis itu ciut melihat Rara dan langsung memberikan sebuah kunci dan no meja yang akan Mereka tempati. Rara dengan bangga mengambil kunci dan nomor meja itu kemudian berbalik menarik tangan Feng pergi.


Feng tertawa dalam hati, Ia tak menyangka Rara, Istrinya yang nampak polos dulu, Kelinci kecilnya telah berubah menjadi Singa betina yang mengerikan bagi Orang lain.


Namun tetap menurutnya, Rara adalah Kelinci kecilnya....


...- - -...


Assalamualaikum...


Kira kira Petualangan seperti apa yang akan di lalu Feng dan Rara ya??