
Feng berjalan memasuki Pagoda kuno tersebut dan menyapukan pandangannya ke lantai satu Pagoda tersebut. Ini hanya sebuah lantai luas tanpa ada penghuni sama sekali, Feng mengangkat alisnya sambil terus berjalan mengelilingi ruangan itu, namun Ia tetap saja tak menemukan sesuatu yang menarik.
"Lantai Satu, meski tantangan mudah jangan sekali kali membuatnya susah," gumam Feng mengingat tulisan dari buku yang di berikan Kakek itu sebelumnya. Otak Feng berputar cepat, memikirkan apa maksud dari kalimat tersebut.
Saat sedang termenung berpikir hal itu, tiba tiba segala sesuatu di sekitar Feng menjadi gelap. Seakan cahaya cahaya telah di hisap dan di gantikan kegelapan yang pekat. Feng menatap was was dan waspada sekitarmya, dan ya benar saja...
Wush... Sebuah Anak panah dengan cepat melesat ke arahnya. Feng menggeser tubuhnya menghindari serangan anak panah tetsebut. Ia berdecih kesal kemudian mengaktifkan salah satu tekniknya, membuatnya dapat melihat di kegelapan malam.
Namun mendadak di saat seperti itu, tiga anak panah lagi melesat ke arahnya. Feng bergerak lincah menghindari anak panah anak panah itu. Matanya menatap tajam, namun kali ini justru anak panah itu bertambah banyak menjadi enam.
"Sial," gumam Feng merasa Ia tak dapat lagi menghindari Anak panah tetsebut. Ia kemudian mengangkat tangannya dan mengeluarkan Qi nya untuk menahan anak panah tersebut.
Tapi itu fak berarti apa apa, begitu Qi Feng keluar dan berusaha menahan anak panah itu, Qi itu justru terserap ke dalam anak panah itu dan mendadak anak panag itu berubah menjadi semakin tajam dan cepat.
Sreeet...
...- - -...
"Menurut Kalian, Ia bisa menaklukan lantai satu berapa lama?" tanya Falco pada Saudari dan Kakek yang berdiri di sebelahnya. Mendengar pertanyaan itu, Falca dan Kakeknya diam seperti berpikir.
"Dulu Aku menaklukannya hampir satu bulan, mungkin Ia akan selesai sekitar 20 hari lagi," gumam Kakek itu, Falca menggeleng.
"Aku yakin Ia akan selesai dalam waktu seminggu," jawab Falca yakin, Falco dan Kakek itu hanya melongo mendengar keyakinan Falca.
"Hei Aku tau Kau menyukainya, tapi Ku rasa eksletasimu terlalu tinggi baginya untuk menyeleaaikan lantai safu secepat itu," balas Falco tak percaya, Falca hanya diam tak inginbalas ketidak percayaan saudaranya tersebut.
...- - -...
Anak panah itu memang benar benar aneh, kenapa Ia mendadak menjadi semakin banyak dan semakin tajam dan cepat. Feng mengatur nafasnya tang tak beraturan dan kemudian menahan Qi nya dan kembali menatap sekitarnya dengan waspada. Beberapa luka telah tergores pada tubuh Feng kali ini yang membuatnya memutuskan menahan Qi nya dan menonaktifkan teknik penglihatanya.
Wush... Sebuah Anak panah lagi lagi dengan cepat melesar padanya, namun itu justru di tangkap dengan mudah oleh Feng. Dahi Feng menyerit saat menyadari anak panah itu sama seperti anak panag pertama tadi tanpa bertambah tajam, cepat maupun banyak.
"Jangan membuat itu susah," gumam Feng baru menyadari sesuatu, sebuah senyuman kemudian tersungging di ujung bibirnya.
"Jadi begitu," ucap Feng kemudian bangkit menatap sekitarnya.
Wush... Sebuah anak panah biasa kembali melesat ke arahnya, Feng lencoba kenahan anak panah itu dengan Qi nya namun justru semakin cepat dan tajam. Feng dengan lincah menghindarinya dan mengangguk tersenyum. Ia kemudian mengaktifkan teknik penglihatannya dan mendadak tiga anak panah melesat ke arahnya, Feng dengan sigap mengjindarinya sambil kembali tersenyum lebar.
Feng kemudian menghilangkan teknik penglihatannya dan menyerap lagi Qi nya, memutuskan untuk hanya menggunakan insting dan kekuatan fisiknya untuk menghindar maupun bertahan.
Setelah beberapa saat, akhirnya Feng mulai hanya mengaktifkan teknik penglihatannya untuk menambah latihannya dengan banyaknya anak panah yang menyerangnya. Tubuh Feng bergerak menghindar dan bertahan, Ia terus melatih dirinya dengan banyaknya anak panah itu dan di saat capek. Ia akan menghilangkan teknik penglihatannya dan kembali seperti biasa, setelah itu akan menggunakan Qi nya untuk mempercepat dan mekpertajam anak panah tersebut.
Hal itu Feng lakukan berulang ulang, kadang Ia juga mencoba menggunakan teknik penglihatan dan Qi secara bersamaan, begitupun dengan luka yang menghias tubuhnya semakin banyak, namun nampaknya Feng tak peduli dan terus melakukan latihan itu berulang kali.
Hingga 1 jam setelah itu, semua yang melihat dirinya pasti akan terkejut. Pasalnya lihatlah kini, Feng dengan kecepatan dan gerakan lincah serta ketepatan akan kekuatan, dapat menghindari dan menangkis anak panah anak panah tersebut.
Tantangan Pagoda kuno lantai satu itu jelas membuat Feng bertambah cepat, lincah, dan melatih insting Feng berkali kali lipat. Sehingga kali ini bukan Feng yang kewalahan akibat anak panah itu, namun anak panah itu yang kelelahan akibat cepatnya Feng yang justru maju ke arah anak panah tersebut.
Wushh...
Semua di sekitar Feng kembali nampak, begitupun dengan anak panah yang telah menghilang. Feng menghela nafas panjang, Ia juga sempat khawatir karna tak tau kapan latihan ini akan selesai karna Ia tak tau cara menyelesaikannya.
Feng terduduk meluruskan kakinya yang sakit, begitu juga dengan luka luka di sepanjang tubuhnya. Tiba tiba sebuah cahaya muncul dari hadapan Feng dan menampakkan sebuah botol ramuan yang berisi ramuan berwarna biru. Feng mengangkat sebelah alisnya kemudian meraih botol tersebut, Ia memperhatikannya sejenak kemudian membuka dan langsung meminumnya.
Feng sedikit haus saat ini dan terlepas dari ramuan itu racun atau tidak, Ia tak peduli lapgipun Ia memiliki tubuh Dewa kematian, tubuh yabg kebal terhadap seluruh racun bahkan merubah racun menjadi Qi.
Tiba tiba Feng merasakan kenyamanan luar biasa pada dirinya, Ia merasa capeknya mendadak hilang, lukanya yang tertutup dan kesegaran yang mulai membasuh dirinya. Feng tersenyum merasakan sensasi itu, Ia mulai suka dengan Pagoda itu.
"Baiklah," gumam Feng bangkit dan menatap tangga yang sudah muncul di depannya tersebut, tangga yang akan membawanya ke lantai dua dan tantangan yang lebih susah.
"Mari Kita lihat."
...- - -...
Semua Manusia elang tampak mulai bosan menunggu, lagipun Mereka menyangka Feng pasti akan lama sehingga satu dua Manusia elang mulai duduk atau pergi. Begitu juga dengan Falco, Falca dan Kakeknya yang memutuskan untuk menunggu sambil duduk.
Namun begitu ingin duduk, Mereka terkejut saat salah seorang Manusia elang tiba tiba berteriak sambil menunjuk ke arah Pagoda kuno yang membuat seluruh perhatian Mereka juga teralihkan ke arah pagoda kuno.
Lihatlah, cahaya di lantai satu pagoda kuno telah mati dan cahaya di lantai duanya telah hidup yang itu berarti...
"Ia menyelesaikan lantai satu dalam waktu Satu jam!"
^^^- - -^^^