The System

The System
Mal Xia



Feng tersenyum tipis dari kejauhan melihat Mal Li dan Pelayannya itu. Baiklah, jika Pelayan Mal Li itu bisa menjalankan misinya hingga sukses maka Ia tak perlu turun tangan langsung untuk masalah Ras Mal ini. Feng berbalik berjalan menuju dapur.


Saat Ia sampai di dapur, Ia mengangkat alisnya melihat Rara yang tengah mengobrol dengan Anak Perempuan yang tampak berumur 7 tahun an itu. Hal yang membuat Feng sedikit terkejut bukan masalah Rara yang tengah mengobrol dengan Anak Perempuan itu, bagaimanapun Feng akui Rara itu Ekstrovert sehingga Ia mudah bergaul dengan siapa saja, berbeda dengan dirinya yang menurutnya lebih condong ke Introvert.


Hal yang membuat Feng sedikit terkejut adalah Rara sama sekali tampak tak fokus ke banyaknya makanan yang terhidang di meja makan. Ia bahkan justru lebih asik mengobrol dengan Anak Perempuan itu dan sesekali mencomot makanan di atas meja namun lebih banyak mengobrol. Sejak kapan Istrinya Rara yang tukang makan itu tak tergoda dengan makanan? Feng tersenyum kecil berjalan mendekati Rara.


"Eh, Feng Gege!" ucap Rara senang melihat Feng yang berjalan mendekat, Feng tersenyum mengacak rambut Rara kemudian menoleh menatap Anak Perempuan yang tengah menatapnya sambil melongo itu, Feng lagi lagi mengangkat alisnya melihat Anak Perempuan yang tengah melongo menatapnya itu.


"Gantengnya..." gumam Anak Perempuan itu masih menatap Feng namun gumamannya terdengar cukup jelas. Rara yang mendengar itu apalagi saat melihat ekspresi Anak Perempuan itu saat menatap Feng menggembungkan pipinya kesal dan langsung memeluk Feng erat.


"Xia xia, Feng Gege punyaku jadi Xia xia gak boleh rebutnya oke!" ucap Rara menatap Anak Perempuan itu sambil memeluk Feng, Anak Perempuan itu tampak cemberut mendengar itu.


"Kak Ra gak mau bagi bagi ke Xia xia kah?" ucapnya cemberut.


"No! Kak Ra mau bagi makanan ke Rara dan benda lainnya tapi kalau Feng Gege punya Kak Ra sendiri jadi gak bisa di bagi bagi," jelas Rara, Anak Perempuan itu tampak menunduk sedih mendengar itu.


"Eh eh tapi Xia xia bisa kok panggil Feng Gege Abang, kan Kak Ra sekarang Kakak Xia xia berarti Feng Gege adalah Abang Xia xia," lanjut Rara menepuk kepala Anak perempuan itu pelan.


"Benarkah?!" ucap Anak Perempuan itu mendongakkan kepalanya dengan mata berbinar senang, Rara mengangguk. Anak Perempuan itu langsung melompat kegirangan.


"Yey! Xia xia punya Abang ganteng!" girang Xia xia, Rara tersenyum senang, Feng sendiri sudah tertawa kecil melihat interaksi 2 Perempuan itu.


"Abang, kenalin Aku Mal Xia," ucap Anak Perempuan itu mengenalkan dirinya. Feng mengangguk mendengar itu.


"Feng.." jawab Feng namun tak dengan ekspresi dingin seperti biasanya.


"Abang mau makan? Ini banyak makanan Abang boleh ambil semuanya! Oh oh, Abang mau minum apa? nanti Xia xia minta ke Pelayan," tawar Xia xia antusias, Feng tersenyum melihat betapa antusiasnya Anak perempuan itu, sepertinya Ia sangat senang mendapat Abang.


"Apa saja, terserah Xia xia," jawab Feng, Xia xia mengangguk kemudian melompat turun dari kursinya dan langsung berlari dengan cepat ke Dapur, mencari Pelayan.


Feng sendiri langsung duduk dan mengangkat Rara di pelukannya untuk duduk di pangkuannya. Kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Rara.


"Tumben, Istriku yang Tukan makan ini gak makan banyak," ucap Feng mencubit pipi Rara, Rara langsung menggembungkan pipinya kesal.


"Rara gak tukang makan Feng Gege!" jawab Rara kesal, Feng tertawa mencium pipi Rara menghilangkan rasa kesal di Istrinya itu.


"Tapi..." ekspresi Rara langsung berubah, Ia kemudian membisikkan sesuatu di telinga Feng.


"Rasa makanannya gak enak," bisik Rara, Feng mengangkat sebelah alisnya, benarkah? Ia kemudian meraih salah satu potongan kue yang berada di dekatnya dan memakannya. Rara memperhatikan ekspresi Feng yang tengah memakan kue itu.


"Gimana Feng gege? Gak enak kan?" ucap Rara, Feng tersenyum, ini bukanlah tidak enak tapi menurut Feng rasanya yang tak sesuai dengan lidah Rara. Sama seperti saat Orang Pribumi yang mencoba masakan luar negri pasti Ia akan merasakan perubahan besar pada rasanya, seperti itu juga yang di rasakan Rara.


"Ihhh.. Feng Gege, gak enak lho!" kesal Rara, Feng tertawa mengacak ngacak rambut Rara.


"Ya udah, nanti coba pinjam dapurnya, biar Aku yang masak untuk Istriku ini," ucap Feng, Rara langsung tersenyum lebad mengangguk.


"Abang! Ini minumannya!" ucap Xia xia yang baru datang dan meletakkan secangkir minuman di atas meja, Feng tersenyum mengucap terima kasih.


"Eh, Xia xia, apakah bisa meminjam dapur untuk memasak?" tanya Rara, Xia xia nampak bingung dengan pertanyaan Rara.


"Apakah makanannya kurang banyak Kak Ra?" tanya Xia xia balik, Rara menggeleng kemudian menunjuk Feng.


"Feng Gege mau memasak," jawab Rara, Xia xia melebarkan matanya menatap Feng terkejut.


"Abang bisa masak?!" ucap Xia xia kaget, Feng tersenyum mengangguk.


...- - -...


Seorang dengan caping di kepalanya itu menghela nafas sambil menyandarkan tubuhnya ke salah satu batang pohon, Orang itu adalah Pelayan Mal Li, bukan, Saudara Mal Li tadi.


Ia tau misi yang akan Ia laksanakan kali ini pasti tak akan mudah, bagaimana caranya memeberikan tanduk ini ke Raja Iblis? Sedangkan masuk ke Istananya saja sangatlah susah bahkan mungkin bisa dibilang mustahil bagi Iblis kecil sepertinya.


Raja Iblis pun bukan Iblis yang suka keluar keluar dan melihat Rakyatnya, Ia hanya memerintahkan bawahannya untuk menyelesaikannya kecuali masalah itu benar benar terkait Alam Iblis baru Ia akan turun tangan.


Tiba tiba telinganya menangkap sebuah suara pertarungan membuatnya langsung bangkit dan melesat ke arah suara pertarungan itu. Ketika sampai di sana Ia sudah terlsmbat, 3 Mayat Iblis berpakaian Prajurit itu sudah tergeletak tak bernyawa dan 9 Orang yang berpakaian seperti perampok juga sudah berbaring tak bernyawa itu, salah seorang Iblis masih nampak bangun namun dengan luka parah, Iblis itu memakai pakaian yang sama dengan 9 Orang tadi.


Saudara Mal Li menebak bahwa Prajurit prajurit ini telah di bunuh oleh para Perampok ini, namun para Perampok ini juga berhasil di bunuh Prajurit itu menyisakan satu Orang yang terluka parah. Iblis yang terluka parah itu nampak duduk mencoba mengobati lukanya, saat itu Saudara Mal Li tersenyum tipis mendapat sebuah ide.


...- - -...


Assalamualaikum...


Apa kabar semuanya? Masih Hidup kah?


Oh Aku mau mgasih tau, bahwa di Alam Iblis ini sering tertukar antara Orang : Iblis.


Jadi kalau Aku nyebut Orang itu berarti Iblis ya, kecuali ada keterangan langsung bahwa itu benar benar adalah Manusia.


Ok!