
Tujuan Mereka selanjutnya adalah Kekaisaran Bulan.
Kali ini Feng tak lagi meminta saran siapapun untuk tempat tempat indah di Kekaisaran Bulan, karna jelas Ia tau dimana tempat tempat indah di Kekaisaran Bulan.
...- - -...
"Segarnya!" ucap Rara kemudian menghirup dalam dalam udara segar yang ada.
Feng juga ikut menghirup udara segar itu dan mengangguk, itu memang sangat segar di banding udara manapun di Alam Manusia.
Mereka kini berada di Hutan Bulan, Hutan terbesar dan paling terkenal di Kekaisaran Bulan. Banyak Orang yang sebenarnya takut memasuki Hutan ini karna ada berbagai macam mitos dan hal hal menyeramkan yang katanya berasal dari Hutan ini.
Tapi Rara dan Feng tak lengkap rasanya jika tak masuk ke Hutan ini.
"Permaisuri! Aku tau tempat yang indah di Hutan ini!" ucap Anan tiba tiba muncul di tangan Rara.
Mata Rara langsung bercahaya antusias mendengar itu.
"Dimana? Dimana?" tanya Rara semangat, Anan kemudian terbang menunjukkan jalannya, sedangkat Feng dan Rara berjalan di belakangnya mengikuti.
Feng baru ingat, Anan memang adalah Burung Legenda di Kekaisaran Bulan yang berasal dari Hutan Bulan ini, itu artinya Ia jelas mengetahui tempat tempat indah di Hutan Bulan ini.
Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya Anan yang diikuti Feng dan Rara sampai ke tempat yang Anan maksud.
"Woaaah!" gumam Rara kagum melihat pemandangan di depannya.
Lihatlah, itu adalah sebuah Danau yang besar dan indah, air Danau itu jernih juga mengeluarkan cahaya cahaya indah.
Di atas Danau itu terbang beberapa Burung indah, Kupu kupu dan Hewan indah lainnya.
Rara langsung berlari ke pinggir Danau itu dan berjongkok memegang airnya.
"Segarrr!" ucap Rara meminum air Danau itu, Feng yang juga penasaran ikut berjongkok di samping Rara dan juga meminum airnya.
Feng akui, itu memang sangat segar, selain segar ternyata air Danau itu juga membuat peredaran Qi nya semakin lancar. Feng tersenyum, Hutan ini memang merupakan tempat terbaik di Kekaisaran Bulan untuk berlatih. Tapi apa yang membuat Orang orang takut ke sini?
"Anan, Hutan Bulan merupakan Hutan yang bagus untuk berlatih, namun kenapa banyak mitos menakutkan yang tersebar tentang Hutan ini?" tanya Feng, Anan menoleh mengangguk.
"Em... Sebenarnya itu Kaisar, karna..."
Anan tiba tiba bersiul, sesaat setelah Anan bersiul tiba tiba ribuan burung di kejauhan terbang, seperti ada sesuatu yang muncul di Hutan itu sehingga membuat Burung burung itu terbang ketakutan.
Benar saja, tanah bergetar dan pohon pohon bergerak hebat. Rara yang sedang bermain air dengan Burung burung di sekitarnya saja langsung menoleh begitu merasakan itu.
Maka Makhluk besar itu muncul, Rara mengangakan mulutnya melihat Makhluk besar itu, begitu juga Feng.
Eh?
Lho? Makhluk itu memang besar, tapi Ia sangat lucu!
"Bar, apa kabar?" tanya Anan terbang ke arah Makhluk besar itu kemudian hinggap di kepalanya.
"Roar!" jawab Makhluk itu menjilat tangannya, Feng yang melihat tingkah Makhluk itu memiringkan kepalanya.
Hei, lihatlah Makhluk itu, bentuknya yang besar juga bulunya yang tebal berwarna coklat, Ia tampak seperti beruang, namun tingkahnya justru tampak seperti Kucing lucu yang imut.
"Wahhh... Lembutnya!" ucap Rara yang sudah muncul di hadapan Beruang besar itu dan memeluk badannya yang lembut.
"Roar?" ucap Beruang itu bingung melihat Perempuan kecil yang tak Ia kenal memeluknya erat.
"Itu adalah Permaisuri dan Kaisar Kita, Bar."
Mendengar ucapan Anan, Beruang bernama Bar itu tampak mengangguk angguk paham.
Ia kemudian membungkukkan badannya kemudian mengangkat Rara dan meletakkan di bahunya.
"Wahhhh!" ucap Rara takjub, dari atas pundak Bar, Ia dapat melihat seluruh Pemandangan Hutan Bulan dari atas.
Feng yang melihat itu tersenyum kemudian menatap Anan, Anan yang mengerti tatapan Feng membungkuk mulai menjelaskan.
"Bar itu Aku temukan saat pertama kali datang dan tinggal di Hutan Bulan ini Tuan, saat itu Ia masih sangat kecil. Orang Tuanya entah kemana, Ia saat itu masih sangat kecil, sehingga Aku memutuskan untuk merawatnya hingga sebesar ini."
"Orang orang mungkin takut dengan Bar karna badannya yang besar dan suaranya yang keras, apalagi setelah Aku sempat menghilang dan berakhir menjadi gelang Pernaisuri, Ia mungkin kesepian dan berteriak teriak sendiri."
Feng yang mendengar penjelasan Anan mengangguk paham.
Feng dan Rara akhirnya bermain seharian di Hutan Bulan itu.
...- - -...
Esoknya...
Hari ini Feng dan Rara memutuskan pergi ke tempat Mereka dulu latihan sekaligus pamitan pada Orang yang pernah melatih Mereka.
Kini Mereka terbang menuju Daratan Hitam.
Namun sebelum itu, Feng tampak memanggil seseorang.
"Tuan!" ucap Di Mo muncul di hadapan Feng, Feng mengangguk.
"Kemarin Aku lupa akan Makam Istrimu, tapi sekarang Aku akan mengajakmu untuk mengunjunginya."
Di Mo yang mendengar perkataan Feng langsung menegakkan kepalanya, Benarkah?
Feng mengangguk.
Maka Hari itu, Feng, Rara dan Di Mo pergi ke Daratan Hitam.
Tak lama Mereka akhirnya sampai ke Daratan Hitam, dan saat itu juga, seseorang yang Mereka tunggu akhirnya muncul.
Orang itu adalah Nenek Ki.
Namun Ia tak sendiri, Ia bersama Penguasa Dunia dan Gadis kecil.
"Sudah Ku duga Kau tak akan melupakan Kami, Feng," ucap Nenek Ki tersenyum, Feng ikut tersenyum mengangguk.
"Hahaha... Tentu saja Mereka tak akan lupa, bagaimanapun juga Kita yang telah melatih Mereka sampai saat ini," ucap Penguasa Dunia sombong.
"Eh, Nenek... Paman ini siapa?" tanya Rara dengan polosnya sambil menunjuk Penguasa Dunia.
Semua Orang di situ tertawa.
"Huh, Aku memang paling tidak suka denganmu Gadis aneh!" gumam Penguasa Dunia kesal pada Rara.
"Jadi apa tujuan Kalian kemari, pasti bukan sekedar ingin berpamitan dengan Kami kan, lagi pula Kita bisa saja bertemu lagi nanti."
Feng tersenyum mendengar ucapan Nenek Ki itu kemudian mengangguk, lalu menoleh ke arah Di Mo.
"Sebenarnya Aku juga sudah berjanji membawa Ia ke makam Istrinya," ucap Feng, Nenek Ki tampak melihat Di Mo beberapa saat kemudian baru mengingatnya.
"Oh, Kau Kaisar Kekaisaran Bulan pertama ya, Istrimu yang meninggal Kau makamkan di sini kan?" ucap Nenek Ki, Di Mo nampak mengangguk dengan hormat.
Nenek Ki tersenyum kemudian mengangguk.
"Baiklah, ikuti Aku," ucap Nenek Ki laku berbalik melesat pergi.
Orang orang di sana juga ikut melesat mengikuti Nenek Ki, tak lama Mereka akhirnya sampai ke tempat yang Nenek Ki maksud.
Itu adalah sebuah Taman bunga luas yang sangat indah dan wangi, dan di kejauhan tampak seseorang perempuan sedang bermain di Taman itu.
Di Mo yang melihat sosok Perempuan itu tiba tiba meneteskan air matanya dan langsung melesat cepat memeluk Perempuan itu.
...- - -...