
Rara tersenyum tipis, Ia akhirnya sudah genap menguasai seluruh Alam Iblis tanpa ada satu tempatpun yang terlewati. Kini Ia bersiap siap ingin kembali ke Kerajaan Iblis, namun tiba tiba Ia ingat bahwa Ia belum memastikan bagaimana keadaan Pasukan Iblis Kuno yang tadi menyerang Para Bandit. Rara akhirnya melesat berbalik menuju Gunung tempat para Bandit itu berada.
Dahinya mengerut saat semakin dekat, Ia merasakan bahwa aura para Iblis Kuno itu lemah dan lagi, tak banyak aura yang tersisa dari Iblis Kuno tersebut. Rara menambah kecepatannya menuju Gunung tersebut.
Benar saja, dari kejauhan Ia dapat melihat Pasukan Iblis Kuno yang semuanya sudah terbaring atau terduduk tanpa bisa bangkit kembali sedangkan di depan Mereka sekua berdiri sesosok Orang yang tak jelas penampakannya. Rara terdiam mengeluarkan Pedangnya dan melesat lebih cepat, langsung mengayunkan pedangnya menuju sesosok Orang tersebut dengan kuat.
Sesosok Orang tersebut tersenyum kecil, Ia sudah lama menyadari bahwa Rara akan datang dan begitu Rara menyerangnya, Ia mengeluarkan Tombak Kunonya menangkis serangan Rara.
Ting...
Boom!
Baik Orang tersebut maupun Rara sama sama dibuat mundur beberapa langkah oleh aduan Pedang dan Tombak tersebut. Rara terdiam menatap Orang itu tajam, sedangkan Orang itu menatap Rara tenang sambil tersenyum kecil.
Para Pasukan Iblis Kuno yang melihat Rara datang tiba tiba dan menyerang Orang yang sudah menyelamatkan Mereka tentu saja kaget, dan berniat ingin menghentikan Mereka.
"Dewi Dia su-" belum sempat Kepala Iblis Kuno menjelaskan situasinya, Rara sudah melesat dengan kecepatan penuh menuju Orang tersebut.
Braak...
...----------------...
Alam Dewa...
Kaisar Dewa menggeleng, Ia terus membolak balikkan buku di tangannya. Matanya terus bergerak membaca setiap halaman di buku tersebut, namun tetap saja bahkan hingga halaman terakhir buku tersebut Ia tak menemukan apa yang sebenarnya Ia cari.
"Sialan!" Teriak Kaisar Dewa marah kemudian melempar buku tersebut ke dinding ruangannya hingga hancur. Ia menghela nafas panjang, meredakan emosi yang mulai naik ke ubun ubunnya.
Bagaimana tidak? Dalam jangka waktu dekat ini Ia bahkan sudah merasakan ada 2 Orang lagi yang naik ke tingkat Walis dan Orang itu bukan dari Alam Dewa. Kaisar Dewa justru tambah panik jika Orang itu adalah Feng, seseorang yang menimbulkan kepanikan di hati Kaisar bahwa Feng akan mengalahkannya dan merebut segala yang Ia punya dan rencanakan.
Ia memang sudah menyuruh seluruh Dewa Dewi di Alam Dewa untuk berlatih semakin keras agar kekuatan Mereka bertambah dan Kaisar Dewa bisa memanfaatkan Mereka. Ia juga sudah berusaha meningkatkan kekuatannya, namun sayang sudah sejak lama Ia terhenti di Alam Walis tingkat 10 satu langkah lagi menuju tingkat Dewa Kuno.
Ya, jika Ia berhasil mencapai tingkat Dewa Kuno maka Ia sudah dapat di sejajarkan dengan Dewa Dewi Kuno lainnya yang sudah lama tak ada di Dunia ini, Ia juga bisa menguasai Dunia ini, menguasai 3 Alam, menjadi satu satunya sosok tak terkalahkan di Dunia ini.
Namun sayang, itu hanya khayalan sampai saat ini. Pasalnya, Ia benar benar tak dapat naik, bahkan setelah 100 tahun berlatih Ia tetap saja tak pernah naik. Ia sungguh penasaran mengapa Dewa Dewi Kuno dahulu bisa naik menjadi tingkat Dewa Kuno? Maka, Ia terus mencari jawabannya, namun sayang hal itu sama sekali tak Ia temukan.
Hingga beberapa hari yang lalu, Ia memang tak menemukan jawaban itu, namun Ia menemukan jawaban lainnya. Jawaban yang akan membuatnya mencapai tingkat Dewa Kuno.
Mutiara Jiwa!
Ya, peninggalan Dewa Kehancuran yang kini tak ada yang tau keberadaannya, namun meski begitu Ia yakin bahwa Kutiara Jiwa itu masih tersembunyi di salah satu tempat di Dunia ini, maka selanjutnya hal itu yang di cari Kaisar Dewa.
Ia tak peduli dengan cerita buruk Dewa Kehancuran, atau betapa terkutuknya Mutiara Jiwa. Dalam hatinya kini hanya satu, Ia harus menjadi yang terkuat secepatnya dan menguasai Dunia ini, matanya sudah ditutupi kabut kekuatan dan nafsu akan kekuasaan yang tebal.
Ia terus mencari cari di buku buku Kuno, namun memang benar. Meski buku buku itu banyak menceritakan tentang Dewa Kehancuran, atau kejadian yang mengguncangkan alam ribuan tahun lalu. Namun memang, tak ada satupun buku yang mengetahui mengenai dimana letak keberadaan Mutiara Jiwa.
Menembus penghalang itu memiliki pengorbanan yang besar, bahkan harus banyak tingkat Walis dan Surka yang berkerja sama. Kaisar Dewa yakin bisa menembusnya, namun Ia mungkin harus mengorbankan beberapa tingkatannya untuk melewati pembatas tersebut.
Kaisar Dewa terdiam cukup lama memikirkan hal tersebut, tiba tiba Ia tersenyum kejam.
"Meski turun, akan Ku gunakan cara yang sama seperti yang di gunakan Dewa Kehancuran untuk meningkatkan kekuatanku kembali," gumam Kaisar Dewa tersenyum kejam.
Kini Takdir kembali berubah...
...----------------...
Braaak...
"Feng Gege... Hiks," isak Rara langsung memeluk erat, Feng juga balas memeluk Rara erat sambil mencium pucuk kepalanya dalam.
Pasukan Iblis Kuno yang melihat itu menganga kaget, Rara bukan mau menyerang Orang tetsebut justru memeluknya erat sambil menangis layaknya kekasih yang baru di pertemukan lagi dengan kekasihnya setelah sekian lama meski kenyataannya memang begitu.
Baik Rara maupun Feng saling memeluk dalam, melepaskan rindu masing masing yang sudah Mereka tahan dan perjuangkan selama ini. Bahkan tanpa Mereka sadari, sebuah cahaya keluar dari tubuh Mereka masing masing, cahaya cahaya itu saling berpilin dan terikat hingga membukus tubuh Mereka lalu menyebar ke segala penjuru.
Maka, sama halnya yang terjadi pada Feng saat bersama Dewa Kematian sebelumnya. Cahaya itu mengembalikan apa saja yang di lewatinya, rumput hijau kembali tumbuh, mayat dan darah berubah menjadi bunga yang indah, luka luka Pasukan Iblis Kuno langsung menghilang dan fisik serta energi Mereka kembali ke titik pulih sepenuhnya.
Ikatan Cinta Semesta kembali bekerja tanpa di duga.
Lama Feng dan Rara berpelukan, hingga Rara yang sudah sejak lama tak bisa tidur nyenyak dan selalu berjuang dengan seluruh tenaganya tanpa peduli akan fisik dan jiwanya yang sudah sangat lelah.
Maka saat kini Ia sudah kembali bertemu, Feng, disaat itulah Ia sudah kembali mendapatkan tempat sandarannya, tempat dirinya merasakan nyaman dan aman, tempat melepaskan segala perasaannya selama ini.
"Zzzz..." Rara mendengkur nyaman, tertidur dalam pelukan Feng.
Feng tersenyum menatap wajah kekasihnya yang sudah tetidur lelap dalam pelukannya tersebut, entah sudah berapa banyak rintangan yang Rara lalui tanpa dirinya, namun Ia masih bisa bertahan hingga sekarang.
"Terima Kasih, Kekasihku."
...----------------...
Assalamualaikum...
Yey! Akhirnya Feng dan Rara kembali bertemu!
Penasaran dengan petualangan Mereka bersama setelah sekian lama?
Kuy Baca The System!