
"Maaf," ucap Feng menggelengkan kepalanya, Falco langsung menatap Feng dengan tatapan bertanya.
"Aku sudah memiliki Istri dan tak akan pernah mengkhianati atau menduakannya, bahkan untuk membuatnya bersedih pun tak akan ku biarkan meski ada celah sekecil apapun," jelas Feng menbuat Falco terdiam. Meski Falco masih belum memahami maksud "Cinta" atau "Mengkhianati", namun melihat tatapan Feng yang berubah menjadi lembut dan sedih begitu mengatakan Istrinya, Falco tak kagi dapat berkata apa apa.
"Ini bukunya," ucap Kakek itu mendadak kekuar dari Rumah sambil menyerahkan sebuah buku bersampul tua berwarna coklat pada Feng.
"Disini ada catatan seluruh rintangan yang telah Kami alamu selama memasuki Pagoda Kuno tetsebut, selain itu lanjutan ceritaku dan penjelasan tentang Pagoda kuno juga ada di dalam buku ini," jelas Kakek tersebut memberikan buku bersampul coklat tua tersebut, Feng mengangguk paham kemudian menerima buku yang diberikan Kakek tersebut.
"Baiklah, Aku akan membaca ini terlebih dahulu baru kemudian Aku akan memasuki Pagoda tersebut," ucap Feng bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya berjalan menuju pintu keluar taman.
"Oh yah, Siapa namamu?" tanya Kakek itu baru ingat bahwa Ia sama sekali tak mengingat dan tak tau nama Pemuda tersebut, Feng terus berjalan dan keluar dari halaman belakang tersebut sambil berucap, "Feng!"
"Feng? Nama yang unik? Apakah Ia tak memiliki kelemahan sama sekali?" gumam Kskek itu penasaran.
"Ada! Ia memiliki kelemahan," ucap Falco tiba tiba membuat Kskek itu langsung menoleh menatapnya tajam.
"Aku tak berbohong, Ia memang memiliki kelemahan namun sepertinya itu juga kekuatannya," ucap Falco bangkit dari posisi duduknya, melihat wajah serius Falco, Kakek itu mengangguk percaya.
"Kelemahan dan Kekuatannya... Istrinya."
...- - -...
3 Hari kemudian...
"Kau sudah siap?" tanya Kakek tersebut pada Feng yang masih menatap sebuah Pagoda di depannya tersebut. Pagoda tinggi yang saking tingginya, ujung pagoda itu nampak seperti menembus awan dan tak lagi tampak, arsitektut pagoda yang memang benar benar kuno di tambah akar akar yang tumbuh di dinding pagoda itu membuat aura mistis dari pagoda tersebut tambah kental.
Feng mengangguk sedikit melirik sekitarnya, Ia penasaran kenapa sepertinya banyak sekali Manusia elang yang penasaran dan berkumpul di dalam sini hanya karena dirinya akan memasuki Pagoda tersebut. Kakek itu yang paham akan lirikan Feng akhirnya membuka mulutnya mulai menjelaskan.
"Mereka memang selalu penasaran akan siapa saja yang memasuki Pagoda kuno, karna hanya memiliki satu kesempatan selain itu juga Kau pasti tau apa tujuan adanya Pagoda ini bukan?" jelas Kakek itu Feng mengangguk paham, Ia sudah baca seluruh buku yang di berikan Kakek tersebut sehingga Ia sudah paham asal usul dan tujuan di ciptakannya Pagoda ini.
"Baiklah, Aku harap Kau bisa mendapatkan yang terbaik, jika Kau sudah tak sanggup Kau bisa langsung memecahkan batu itu karna itu akan membuatmu kembali keluar," lanjut Kakek itu, Feng mengangguk paham kemudian berjalan menuju pintu masuk Pagoda itu di bawah tatapan ratusan Manusia elang.
Wush... Dalam hitungan detik begitu Feng melangkahkan kakinya masuk, Ia langsung menghilang dari pandangan seluruh Orang.
Kakek itu sedikit terkejut melihat Falca yang akhirnya muncul padahal tiga hari sebelumnya terus terusan mengurung diri. Falca yang paham ekspresi Kakeknya tersebut menghela nafas berusaha menahan hatinya yang masih sakit dan berusaha kembali tersenyum.
"Cinta tak harus memiliki Kek, lagipula Aku sudah pernah bertemu dengan Istrinya di pertarungan pertama Kami, dan Aku akui, Aku bukan tandingannya sehingga tak ada alasan untukku coba menyainginya," jelas Falca, Kakeknya melongo mendengar itu, Ia tak menyangkan Cucunya mendadak berubah dewasa hanya karna hal ini.
Disisi lain Falco menatap Saudarinya itu dari belakang dengan tatapan tak bisa di tebak. Diam diam dalam hati Ia berjanji dan bersumpah bahwa Ia tak akan lagi membuat saudaranya sedih atau apapun itu, Ia bersumpah. Falco kemudian mengalihkan pandangannya ke depan menatap Pagoda tersebut.
"Jika Kau berhasil, Aku berjanji akan memenuhi seluruh permintaanmu."
...- - -...
Pagoda ini dibangun oleh Dewa Kematian.
Saat itu sudah berpuluh tahun terlewati sejak matinya pembawa bencana tersebut meski Ia memecah kekuatannya menjadi tiga. Salah satu pecahan kekuatannya di temuka oleh salah satu prajurit penguasa dunia ini, maka di bawah ambisinya Ia mebgambil dan menyerap pecahan kekuatan itu.
Ia memang menjadi sangat kuat berkali kali lipst setelah itu, namun sayang, Ia lupa bahwa itu juga bukan hanya sekedar pecahan kekuatan tanpa efek negatif, melainkan itu meliki seluruh efek negatif yang ada di Dunia. Sombong, rakus, dendan dan seluruh lainnya.
Tanpa Prajurit itu sadari, dirinya semakin lama semakin dikuasai seluruh energi negatif itu sehingga Ia terus membuat kekacauan dimana mana. Pemimpin Penguasa Langit, Daratan dan lautan belum pulih dari pertarungan sebelumnya sehingga Mereka harus berkerja sama untuk bertarung melawannya.
Namun itu juga sia sia karna Ia telah di kuasai seratus persen, membuat kekuatannya tak terkendali. Di saat seperti itu, saat seluruh Makhluk sudah pasrah akan takdir Mereka. Akhirnya pahlawan yang di tunggu datang, Ya, Ia adalah Dewa Kematian.
Semua Orang tau bahwa dari pernikahan Iblis dan Dewa itu lahir satu lagi anak, dan anak itu berjenis kelamin laki laki. Namun setelah kekacauan itu, tak ada yang mengetahui nasib anak itu, apakah Ia mati atau tidak, tidak ada yang peduli dan semua Orang melupakannya.
Namun, Anak itu ternyata sama sekali tak melupakan Mereka. Ia muncul sebagai seorang Pemuda yang kekuatannya tak lagi dapat diukur dan berhasil mengalahkan Prajurit itu dengan mudah. Semua Orang menyambutnya dengan sorak ceria, namun pernyataan Dewa kematian selanjutnya membuat Mereka semua terkejut.
"Kalian semua, seluruh Ras termasuk Pemimpin Penguasa Langit, Darat dan lautan. Kalian semua harus menyembunyikan diri Kalian dan menyiapkan diri Kalian untuk pertarungan yang "sesungguhnya" ucap Dewa Kematian itu, itu tentu saja mengundang banyak protes dan pertanyaan. Namun tak ada yang berani membantah atau melawan karna Mereka tau seberapa kuat Dewa Kematian saat ini.
Akhirnya dengan satu gerakan, Dewa kematian menarik setengah kekuatan dari seluruh ras Penguasa dunia yang kemudian di buat menjadi tiga pagoda yang terbagi menjadi tiga tempat dan setiap pagoda itu meliki satu titik. Itu adalah melindungi sumber bencana sesungguhnya, yang membuat bencana bencana itu pertama kali terjadi dan sumber dari kejuatan terkuat yaitu kesesatan.
"Makam Kesesatan."
...- - -...