The System

The System
Sarang Hewan Buas 3



Wush... Dua sosok bayangan melesat cepat memasuki Istana Raja Iblis tanpa di ketahui siapapun. Raja Iblis yang saat itu tengah memikirkan sesuatu tersentak sadar saat 2 sosok itu sudah sampai di depannya dan membungkuk memberi hormat. Alis Raja Iblis terangkat melihat kedua sosok tersebut.


"Kenapa Kalian kembali? Bukankah Aku suruh Kalian untuk melindunginya? Lalu mana Saudara tertua Kalian? Dan siapa Tiga Orang ini?" tanya Raja Iblis bertubi tubi menatap Dua saudara kematian tersebut. Dua saudara itu tampak terdiam sejenak hingga akhirnya salah satu maju dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


Raja Iblis yang mendengar itu terdiam sejenak kemudian dengan santai mengangguk. "Kalau begitu istirahatlah, juga bawa tiga tetua itu bersama Kalian."


Mendengar perintah Raja Iblis, dua saudara kemstian terdiam. Raja tidak panik dan tetap santai? Mereja berdua saling tatap dan berpikir kenapa Raja tak dengan cepat pergi untuk menolong Rara? Hal itu juga yang dipikirkan tiga Tetua yang baru pertama kali bertemu Raja Iblis dan lagi melihat sifatnya seperti itu, Mereka tak tahan untuk tak berpikir bagaimana mungkin Raja Iblis tak menyelamatkan Ratunya?


"Maaf Raja, Apa Kita tidak pergi membantunya?" salah satu Saudara kematian, saudara di sebelahnya mengangguk setuju begitu juga dengan tiga tetua. Raja Iblis melambaikan tangannya dengan santai kemudian berkata.


"Besok Kita akan pergi, tenang saja, Saudara Kalian akan baik baik saja, mungkin malah jadi beban jadinya."


...- - -...


"Aku malah menjadi beban di sini," gumam Saudara tertua pasrah melihat pemandabgan di depannya. Lihatlah! Pemandangan di depannya bukanlah pemandangan pertarungan dahsyat seperti yang Orang lain bayangkan, melainkan pembantaian sepihak.


Di depan sana, Rara dengan muda mengayunkan pedangnya debgan lincah dan setiap tebasannya selalu mengambil nyawa masing masing Hewan Iblis. Tak hanya itu, aura yang di keluarkan tubuh Rara membuat Hewan hewan buas itu mendadak menjadi takut sehingga butuh wsktu lama hingga Mereka sadar bahwa teman teman Mereka telah di bantai setengahnya.


Saudara tertua yang melihat itu hanya bisa menganga tanpa satupun ucapan kata, Perempuan yang disuruh Raja melindunginya sekuat ini? Ia menjsdi ragu bahwa bukannya Is melindunginya melainkan Ia yang membutuhkan perlindungannya.


"Dia benar benar bukan Manusia, Iblis atau Dewa," gumam Saudara tertua tak bisa menghilangkan rasa terkejutnya.


Disisi lain, Makhluk yang berada di atas gunung itu kembali membuka matanya saat merasakan satu persatu aura budaknya menghilang, tak hanya sampai situ, Ia juga dapat merasakan bahwa hilangnya nyawa budaknya bukan karna pertarungan namun pembantaian sepihak. Mata menajam, menatap ke araj sumber ledakab tadi, perlahan tubuhnya tegak, tubuhnya yang 2 kali lebih besar dibanding hewan buas terbesar di alam ini dan Ia membentangkan sayap yang lebarnya menutupi seluruh puncak gunung.


"Siapa yang berani masuk dan mengusik wilayah kekuasaanku? Bahkan berani membunubunuh Budak budakku!" gumamnya kesal dan marah kemudia melesat terbang cepat menuju arah ledakan tadi berasal.


Rara yang sedang puas membantai para Hewan buas itu mendadak terdiam saat merasakab aura panas dan lusr biasa kuat mendekatinya, begitu juga Saudara tertua yang merasakan aura tersebut.


Makhluk itu memiliki sayap dan bulu bulu yang indah, warna sekuruh tubuhnya biru dan aura yang Ia keluarkan memiliki ciri khas aura dingin, itu adalah... Phoenix Es!


"Siapa Kau Manusia! Beraninya Kau mengusik wilayahku!" ucap Phoenix Es itu menatap Rara dan mengarahkan auranya untuk mengintimidasi Rara namun kemudian Ia sedikit terkejut bahwa Rara sama sekali tak terintimidasi dengan auranya bahkan terkesan santai dan justru malah menatap balas dirinya tajam.


Phoenix itu mengangkat tangannya, ribuan pedsng es terbentuk di sekitar tubuhnya dan dalam satu kali ayunan, ribuan pedang es itu melesat menyerang Rara. Rara sendiri juga melakukan hal yang sama, Ia mengangkat pedangnya dan dalam sekejap muncuk ribuan pedang disekitarnya dan dalam satu ayunan pedang pedang itu melesat terbang.


Sura ledakkan terdengar susul menyusul di langit, Phoenix Es menatap itu dengan terkejut, tak ada yang bisa melawan pedabg esnya biasanya kecuali musuh lamanya, Kaisar Iblis dan Raja Iblis. Nakun Perempuan di depannya justru dengan mudah menghancurkan jurusnya bahkan terkesan santai, hal itu membuat Phoenix es merasa waspada disisi lain juga marah.


Maka kemudian Ia akhirnya maju melesat menyerang Rara, Phoenix es itu mebgangkat cakarnya ingin mencabik cabik tubuh Rara. Rara dengan cepat mengangkat pedangnya dan suara aduan seperti aduan besi tersengar jelas, Rara terus menahan sedangkan Phoenix es terus mendorong. Rara yang Qinya sudah lama lama terkuras karna pertarungan sebelumnya akhirnya tak bisa menahan lebih lama dan jatuh terhempas ke tanah begitu Phoenix itu menambah kekuatannya.


Phoenix es yang melihat itu merasa senang, dan tanpa basa basi kembali menyerang Rara. Ia mengumpulkan sebuah bola energi di paruhnya yang terbuka dan dalam hitungan sepersekian detik, bola itu melesat dengam cepat tepat menuju ke arah Rara.


Boom! Saudara tertua yang melihat itu terdiam, kali ini Ia terkejuat karna dua hal, pertama Ia dapat melihat Phoenix es yang selama ini hanya menjadi cerita di kalangan para Iblis bahwa ada seekor Phoenix es di sarang hewan buas yang menjadi oengiasa dan pemimpin seluruh Hewan buas di alam Iblis. Selain itu, Ia juga terkejut karna Rara masih bisa melawan Phoenix es itu padahal Ia rasa energi Rara sudah lama habis karna membantai dan pertarungan melawan hewan buas tadi.


Debu akhirnya menghilang, memperlihatkan Rara yang tubuhnya penuh luka dan darah yang mengalir dari sudut mulutnya. Ia berusaha berdiri dengan gemetar sambil bertumpu pada pedangnya kemudian menatap Phoenix es itu tajam. Qi nya sudah lama berkurang bahkan hsbis setelah terakhir menahan serangan Phoenix itu meski tak berdampak banyak, kini Ia benar benar sudah tak memiliki Qi lagi, sedangkan dirinya juga sudah tak bisa mengeluarkan Roh beka dirinya karna Qi jya yang sudah tak ada.


"Apakah Aku akan berakhir disini?" gumanya menatap Phoenix es yang kembali membuka paruhnya menyiapkan serangan yang lebih kuat dan dahsyat, serangan yang mungkin menjadi serangan penghabisan untuk Rara dan Ia juga tak dapat menahannya.


"Feng Gege, Rara minta maaf, tak dapat bertemu Feng Gege lagi," gumam Rara sekali lagi meneteskan air matanya, Ia benar benar merasa sedih dan rindu di saat itu pada Feng.


Namun, mendadak sebuah cahaya membungkus tubuh Rara.


...- - -...