
Feng melanjutkan jalan-jalannya, diikuti Falca yang sejak dari lapangan tadi terdiam. Feng melirik perempuan sejenak, mungkin Ia kaget akan duel barusan?
"Kenapa?" tanya Feng tetap pada nada dinginnya, Falca tersentak tersadar dari lamunannya kemudian menatap Feng.
"E-enggak," jawab Falca sedikit tergagap, Feng mengangguk mendengar itu tak berkata apa apa lagi dan melanjutkan jalannya diikuti Falca.
"Bagaimana bisa?" akhirnya setelah beberapa saat, Falca membuka mulutnya menatap Feng sambil bertanya. Feng diam meliriknya, apa yang bagaimana bisa?
"Bagaimana bisa Kau menatahkan jurus mematikan Kami semudah itu, padahal Kau kalah saat pertempuran sebelumnya," gumam Falca mengecilkan volume suara di kata kata terakhir, Ia juga menggunakan kata ganti "Kau" yang berarti Ia benar bebar antara takut, terkejut atau marah saat ini.
"Semakin mematikan suatu teknik, semakin mudah itu dipatahkan," jawab Feng, Falca yang mendengar itu mengerjapkan matanya menatap Feng bingung.
"Kalian mungkin memang memiliki teknik yang mematikan, sangat mematikan malah padahal itu sama sekali tak menggunakan energi atau semacamnya. Namun justru itu yang menjadi titik berat resikonya, karna suatu teknik yang hebat justru semakin besar teknik itu di patahkan asal lawannya dapat dengan cepat mencari titik lemah teknik itu sebelum nyawanya yang hilang," jelas Feng, Falca terdiam sejenak mendengar penjelasan Feng tersebut kemudian mengangguk ngangguk paham.
"Jadi Feng sudah menemukan titik lemah teknik Kami secepat itu?" tanya Falca yang kembali memanggil Feng dengan namanya yang berarti Ia mulai membaik.
"Tidak juga, hanya saja Aku pernah melihat beberapa teknik yang sedikit mirip dengan itu," jawab Feng, Ia memang pernah melihat beberapa teknik seperti itu dulu saat dibumi Ia beberapa kali menonton pertandingan bela diri.
"Yang mirip?" beo Falca bingung, Feng melambaikan tangannya.
"Lupakan saja, sekarang giliranku bertanya," ucap Feng berhenti kemudian menatap Falca. Falca yang mendadak di tatap oleh Feng langsung gugup dengan wajah memerah.
"B-bertanya apa?" tanya Falca tebata bata karena gugup.
"Transformasi perubahan Kalian ke Manusia sempurna, hanya bisa dilakukan beberapa Orang saja ya kan?"
Falca terdiam, kali ini rasa gugupnya menghilang dan Ia balas mendongak menatap mata Feng. Mata hitam jernih yang membuat siapa saja yang menatapnya merasakan perasaan campur aduk, perasaan seperti jatuh ke jurang tak berdasar atau perasaan tenang yang dirasakan. Juga perasaan bahwa mata itu bisa memperhatikan dan melihat apa saja tanpa terlewat barang sedikit maupun sedetikpun.
"Ya," Falca menghela nafasnya panjang.
"Karena kejadian Ribuan tahun lalu, membuat Kami terkurung disini dan hanya Aku, Abang dan Kakek yang bisa bertransformasi dan menggunakan setengah kekuatan asli Kami," jawab Falca kemudian menunduk, Feng terdiam mendengar itu, sepertinya Ia salah orang untuk bertanya.
"Aku akan pergi menemui Kakekmu, tapi sebelum itu ada satu hal yang harus Aku katakan," ucap Feng menatap Falca, Falca mendongak menatap Feng dan melihat mata hitamnya yang membuatnya tak dapat berkata kata tersebut.
"Aku sudah punya Istri dan Aku tidak akan pernah mengkhianatinya."
Falca terdiam, Feng sendiri langsung berbalik begitu mengatakan hal tersebut dan terbang melesat pergi meninggalkan Falca yang masih terdiam dengan ngingan perkataan Feng di kepalanya tersebut.
...- - -...
"Kau pasti sudah tau ada alasan tersembunyi di balik sifat Kami yang mendadak baik padamu," ucap Kakek itu, Feng mengangguk Ia sudah mengetahui itu sejak lama.
"Baiklah, tapi sebelum itu Aku ingin bertanya, apakah Dewa Kematian itu baik baik saja?" tanya Kakek itu, Feng sempat tersentak sejenak kaget mendengar itu, Ia tak menyangkan bahwa Kakek itu mengenal Dewa Kematian.
"Tak usah terkejut, Ia adalah pahlawan bagi Bangsa Kami," ucap Kakek itu kemudian ikut duduk dan balas menatap Feng sambil tersenyum.
"Pahlawan?" bingung Feng, Kakek itu mengangguk.
"Mungkin di Dunia luar sana hanya mengetahui bahwa Kami, Hewan Kuno hanyalah legenda dan tak pernah ada. Kalian pun mungkin hanya mengetahui bahwa Kami Hewan Kuno adalah Makhluk pertama yang menghuni dunia ini dan menjadi penguasa di Langit, Daratan dan Lautan," Feng mengangguk, memsng hanya itu informasi yang Ia dapat dari Dunia ini tentang Hewan kuno, jika ada Systemnya disini mungkin Ia bisa mengetahui lebih banyak, sayang Systemnya sedang dalam masa kenaikan level.
"Baiklah, informasi itu sepenuhnya benar, namun selanjutnya biar Aku teruskan cerita yang sebenarnya."
"Kami, Hewan Kuno terbagi menjadi Tiga bangsa, Kami Manusia Elang adalah Penguasa langit dan juga dua bangsa lagi penguasa daratan dan lautan hingga suatu suatu saat, kejadian besar terjadi."
"Saat itu akhirnya muncul Tiga makhluk lagi yaitu Dewa, Iblis dan Kau, Manusia. Mereka hanya Makhluk makhluk lemah yang dengan cepat bernegosiasi dan meminta perlindungan pada Kami, tapi meski begitu saat itu semuanya masih hidup aman dan tentram hingga Iblis dan Manusia akhirnya menikah, dari pernikahan Mereka lahir anak kembar sepasang dan itu membuat tak hanya Mereka, namun Kami juga senang melihat dua bayi yang lucu lucu tersebut."
"Namun ternyata itu titik awal dari kehancuran yang sesungguhnya, Si Manusia meninggal dan akhirnya Dewa menikahi Iblis tersebut, si Anak kembar, si perempuan tetap senang saja dengan pernikahan itu, namun tidak dengan si laki laki, Ia dendam dan marah pada Ibunya, Dewa dan bahkan Saudari perempuannya itu sendiri, Kami tidak menyadari itu hingga ketika itu Ia datang sendiri kesini dan menanyakan "Apa yang paling kuat di Dunia ini?"
"Ternyata Ia juga menanyakan hal yang sama pada Dua bangsa lainnya sehingga Kami yang percaya padanya mengatakannya," Kakek itu terdiam sejenak mengjela nafas panjang, ekspresi mukanya juga menunjukkan bahwa Ia sangat menyesal saat itu.
"Apa yang paling kuat di Dunia ini?" tanya Feng menatap Kakek itu penasaran, Kakek itu mengangkat wajahnya menatap Feng dengan mulut terbuka.
"Keserakahan," jawab Kakek itu membuat Feng terdiam, keserakahan?
"Ya, pada dasarnya seluruh Makhluk di Dunia ini di ciptakan dengan satu sifat sama yang menonjol di Dunia ini tanpa Kita sadari, itu adalah keserakahan. Iblis, Dewa, Manusia bahkan Kami Hewan Kuno masing masing memeiliki keserakahan yang berbeda beda dan itu yang menjadi kuncinya."
"Kami Hewan Kuno, diciptakan memang sudah dalam kekuatan yang sangat kuat sehingga kerakusan Kami adalah menjadi Penguasa seluruhnya. Iblis dan Dewa yang dilahirkan dengan bakat yang luar biasa sehingga Mereka memiliki keserakahan yang beda, Iblis memiliki keserakahan akan nafsu sedangkan Dewa akan kesombongan, tapi bagaimana menurutmu dengan Manusia yang di lahirkan lemah dan tanpa bakat yang kuat dan umur pendek? Apa keserakahannya?" tanya Kakek itu menatap Feng, Feng yang di tatap terdiam menatap Kakek itu.
"Kekuatan."
...- - -...