The System

The System
Daratan Hitam 4



Gelap!


Sunyi!


Mencekam!


Hanya kata kata itu yang tepat untuk menggambarkan lantai 3 ini, Rara mmengeratkan genggaman tangannya pada Feng.


Feng yang paham akan sedikit ketakutan Rara akan gelap langsung membuat sebuah tongkat dari Element Cahaya lalu menyuruh Rara memegangnya.


Feng juga membuat satu lagi dan Ia arahkan ke setiap sisi untuk melihat ada apa dalam kegelapan itu.


Entah mengapa Feng yang biasanya terbiasa akan melihat atau melakukan sesuatu di tempat gelap kini justru menjadi waspada.


Mata Feng terbuka, Ia langsung menarik Rara dan melompat mundur.


BOOM!


Feng dan Rara terkejut saat seekor Hewan bekaki 8 dengan ekor Kalajengking dan sebuah tanduk yang tepampan di kepalanya.


Laba laba Iblis!


Laba laba Iblis tergolong Hewan Buas tingkat Tinggi yang setara tingkat Surka lapis 3, kalau dalam keadaan normal mungkin Feng dapat dengan mudah mengalahkannya.


Namun saat ini, Ia hanya dapat bertarung imbang dengan setingkan Bumi lapis 5, ditambah lagi Ia tak bisa bekerja sama dengan Rara yang memiliki ketakutan sendiri dengan Laba laba.


Boom!


Feng dan Rara menoleh saat pintu yang Mereka masuki tadi tiba tina tertutup, Mereka berdua langsung melesat menuju pintu itu namun tak dapat membukanya lagi.


Feng menggertakkan giginya kesal lalu menyerahkan tongkat Cahayanya pada Rara.


"Cari tempat yang aman ya," ucap Feng lembut sambil mengusap kepala Rara lalu melesat maju tanpa mendengar jawaban Rara.


"Feng Gege," lirih Rara menatap Feng khawatir.


...- - -...


"Kau siapa?" tanya Pangeran Mahkota menatap Di Mo dalam bentuk arwahnya.


"Eh, Oh perkenalkan Namaku Di Mo, Pelayan Tuan Feng sekaligus Kaisar pertama Kekaisaran Bulan," ucap Di Mo tersenyum sinis.


"Kau? Kaisar Kekaisaran Bulan? Bagaimana mungkin?" ucap Di Shi tak percaya.


"Heh, dasar Keturunan tak sopan," ucap Di Mo dengan kesal kemudian melempar sebuah lencana pada Di Shi.


Di Shi menangkap lencana itu dan melihatnya, seketika itu matanya terbelakak dengan raut wajah tak percaya.


"Hormat Leluhur!" ucap Di Shi bersujud, semua Orang yang melihat itu juga terkejut.


"Hormat Kaisar Leluhur!" ucap Wang Yi dan yang lainnya kecuali kelompok Pengeran Mahkota.


"Ba-bagaimana bisa?!" ucap Pangeran Mahkota tak percaya, Da Bai, Ning Mei dan yang lainnya juga menatap Di Mo tak percaya.


"Heh Aku tak butuh kepercayaan Kalian," sinis Di Mo lalu menatap Wang Yi dan yang lainnya.


"Ikat Orang orang ini dan mari bawa ke Tuan Feng," ucap Di Mo, Di Shi dan yang lainnya mengangguk lalu mengikat Pangeran Mahkota dan teman temannya.


"Hei, siapa Feng?! Kau berani menyinggung Kekaisaran Matahari?!" teriak Da Bai marah.


"Oh, hanya Kekaisaran lemah, Tuan Feng bisa saja dengan mudah melenyapkannya, namun ada dendam Pribadi yang harus Tuan Feng selesaikan dengan Kalian," sinis Di Mo.


...- - -...


Booom!


"Aaargh!"


Feng bangkit tertatih tatih sambil mengelap darah yang mengalir dari ujung bibirnya, Ia menoleh menatap Rara yang masih berdiri di tempatnya tadi.


"Ra! Cari tempat Aman!" teriak Feng melihat Laba laba tadi berniat menyerang Rara.


Rara yang masih melamun karna khawatir pada Feng terkejut saat mendengar teriakan Feng.


Ia berbalik dan melihat Laba laba seukuran Rumah ysng sudah mengangkat kakinya hendak menusuk Rara.


Rara memejamkan matanya pasrah.


"Maafkan Aku Fe-"


Jleb...


Mata Rara terbuka lebar saat Ia merasakan tak ada apa apa, Ia terkejut melihat Laki laki yang selama ini merawatnya, mencintainya serta menyayanginya tengah berdiri menghadapnya.


Kaki laba laba tadi tepat menusuk dari punggung Feng hingga perutnya, darah menetes dari perut dan mulut Feng.


"Feng Gege~" lirih Rara berderai air mata.


"Ssst... Jangan menangis, Aku gak papa kok," ucap Feng tersenyum sambil menggit bibir bawahnya.


Zreesh!


"R-rara harus tetap hidup ya," ucap Feng sebelum penglihatannya menggelap dan Ia jatuh berlumuran darah sambil memeluk Rara.


"FENG GEGE!!" Teriak Rara sedih.


"Hiks... Feng Gege bangu, Hiks... Rara gak punya siapa siapa sekalin Feng Gege, Feng Gege bangun! Rara janji gak nakal lagi," isak Rara menggoyang goyangkan tubuh Feng.


Tak ada balasan dari Feng membuat Rara tambah terisak kencang.


Mata Rara jelas menunjukkan rasa ketakutan yang dalam saat mendengar deru nafas Feng yang semakin melemah.


Cup!


Rara mencium Feng, namun masih tak ada perubahan.


Cup!


Cup!


Cup!


Rara terus terusan mencium Feng berkali kali namun tetap tak ada yang berubah.


"Feng Gege banguuun!" tangis Rara memeluk tubuh lemah Feng.


Tatapan mata Rara tiba tiba tertuju pada Laba laba tadi, mata Rara mendadak berubah menjadi warna putih.


Siluet Roh bela diri keluar dari dalam tubuh Rara, namun kali ini tampak sebuah perbedaan besar.


Roh bela diri Rara yang semula merupakan Kelinci dengan corak hitam kini mendadak dengan cepat berubah menjadi seorang Perempuan cantik dengan gaun putih dan tudung yang menutupi kepalanya.


Telinga Kelinci keluar dari tudung kepalanya itu, Aura meledak ledak keluar dari dalam tubuh Rara.


"Feng Gege tunggu Rara ya, Rara akan bunuh siapa yang melukai Feng Gege," ucap Rara yang masih memiliki kesadaran.


Roh bela dirinya tadi mendadak semakin bersinar, sebuah mahkota kecil muncul di kepala Perempuan Roh bela diri Rara tersebut.


Aura yang dipancarkan Rara juga tak main main hingga membuat ruangan itu bergetar.


Angin bertiup kencang mengelilingi tubuh Rara.


BOOM!


"Siapa yang menyakiti Feng Gege harus Mati!" lirih Rara menatap laba laba tersebut.


...- - -...


Di tempat Minsterius


"Hm... Rencanaku berhasil," gumam Nenek Ki tersenyum saat merasakan sebuah Aura yang meledak ledak.


Di tempat Penguasa Dunia


Penguasa Dunia yang sedang makan langsung tersedak terbatuk batuk saat Ia merasakan Aura yang meledak ledak.


"Ternyata Latihan tahap 2 Mereka sudah akan dimulai ya," ucap Penguasa Dunia tersenyum.


Alam Dewa


Mata Kaisar Dewa terbelakak kaget saat merasakan Aura yang meledak ledak tersebut.


"Apa apaan Aura in?!" ucapnya tak percaya.


"Sial, akhir akhir ini memang terjadi banyak kejadian besar, Aku harus cepat menguasai 3 Alam sebelum rencanaku terlambat," lanjutnya.


Alam Iblis


Raja Iblis membuka matanya terkejut, Ia lalu menatap ke arah langit sambil bergumam.


"Ntah seperti apa yang akan terjadi selanjutnya," gumamnya.


Kerajaan Hewan Buas


Seluruh Hewan Buas mendadak bersujud saat merasakan Aura itu, bahkan Dewa Naga juga langsung gemetaran karna takut begitu merasakan Auranya.


Phoenix yang melihat dari jauh Dewa Naga gemetaran hanya tersenyum sinis.


"Bersiaplah untuk menghadapi kematianmu!" gumam Phoenix itu ikut bersujud.


Tempat Misterius


Seorang Gadis kecil yang sedang duduk ditepi kolam bercahaya tersenyum lebar saat merasakan Aura yang meledak ledak.


Ia berdiri sambil tersenyum.


"Baiklah, Aku penasaran bagaimana nanti Pasangan ini menghadapi latihanku," gumamnya kemudian secara tiba tiba Gadis kecil itu menghilang.


...- - -...