The System

The System
Kunci



"Bagaimana mungkin?!" gumam Dewa kehancuran tak percaya, matanya kemudian menatap darimana arah tombak itu berasal.


Mata Feng dan Dewa Kehancuran pun saling beradu, Feng menatapnya tanpa takut sedikitpun meski Ia tadi merasakan kekuatan besar dari Dewa kehancuran di depannya. Namun itu sama sekali tak membuat Feng takut, karna Ia tau bahwa rasa takut itu sudah lama di cabut dari dirinya sehingga bahkan jika ada sesuatu yang berkali kali lipat lebih kuat darinya, Ia tak akan merasakan takut sama sekali.


"Kau! Bagaimana bisa?" ucap Dewa kehancuran tak percaya, disusul muntah darah yang keluar dari mulutnya. Feng berjalan maju, tanpa Feng sadari tubuhnya mengeluarkan aura hitam yang sangat dingin dan menusuk. Bahkan meski kekuatan Feng berada jauh di bawah Dewa kehancuran, namun aura yang keluar dari tubuh Feng itu bahkan dapat dirasakan oleh Dewa kehancuran dan membuatnya merinding.


"Bagaimana bisa? Karna, Takdir!" ucap Feng kemudian menatap Dewa kehancuran dengan tatapan dinginnya. Tombak yang tertusuk di perut Dewa kehancuran itu bercahaya terang, Dewa kehancuran yang menyadari akan terjadi hal buruk padanya menggeleng sambil berteriak marah.


"Tidak! Aku tidak bisa menerima semua ini!"


BOOOM!!


Tombak itu meledak membuat sebuah cahaya ke langit, tubuh Dewa kehancuran tanpa Ia sendiri bisa cegah perlahan hancur tanpa sisa. Namun tiba tiba matanya bercahaya terang, kemudian dari ujung kepalanya keluar sebuah mutiara kecil berwarna hitam.


"Tidak! Itu Mutiara Jiwa!" ucap Dewa Kematian kaget, Ia langsung bangkit kemudian membuat sebuah bola Qi yang ditembakkan ke arah mutiara tetsebut.


Boom!


Bola Qi itu membuat efek ledakkan yang sangat besar, namun sama sekali tak membuat goresan walau setitik.


"Sial!" gumam Dewa Kematian kesal. Feng yang melihat itu diam karna Ia sendiri tak mengerti apa yang terjadi.


"Aaaaah!!! Sialan Kau!" sebuah suara tiba tiba bergema keras di seluruh wilayah itu. Suara itu adalah suara Dewa Kehancuran yang berasal dari Mutiara tersebut.


"Aku pasti akan kembali! Aku pasti akan membalaskan Dendam ini! Pasti!" suara Dewa kehancuran yang di penuhi amarah, setelah itu Mutiara itu melesat pergi tanpa bisa dikejar.


Dewa Kematian menghela nafas terduduk di tempatnya berdiri tadi, tatapannya kemudian mengarah ke arah Feng. Begitu juga Feng, Feng menatap Dewa Kematian dengan sejuta pertanyaan di kepalanya, siapa Dewa Kehancuran? Kenapa Tombak Kuno bisa membunuhnya? Mutiara apa tadi? dan berbagai pertanyaan lainnya.


"Kemarilah! Aku tau Kau memiliki banyak pertanyaan yang ingin Kau tanyakan, begiru juga denganku yang memiliki pertanyaan untukmu."


...- - -...


Wushhh...


Sreet...


Sunyi, Dewi Kehidupan yang melihat itu juga merasa tegang menahan nafasnya.


Disana, Rara berdiri terdiam begitu juga dengan lawannya.


Bruuuk...


Rara jatuh berlutut namun sedetik kemudian lawannya jatuh tergeletak kemudian bercahaya menghilang. Rara bernafas tak beraturan, kini Ia benar benar kehilangan seluruh tenaganya.


Dewi kehidupan yang menyaksikan itu bernafas lega, kali ini Ia benar benar tak ragu lagi pada kekuatan dan kepintaran Rara. Rara terduduk sambil menekur menunduk dalam, Ia tampaknya sedang merenungkan sesuatu.


Entah kenapa Rara tiba tiba merasakan perasaan yang aneh dalam dirinya, perasaan yang membuatnya merasa lekah dengan semua yang Ia alami hingga saat ini. Perasaan ini...


Dewi Kehidupan yang melihat Rara menunduk termenung mengerutkan dahinya bingung. Ada apa dengan Rara? Apakah Ia sedang mendapati pelajaran yang sangat berharga dari pertarungannya tadi?


Namun dari ekspresi Rara, Dewi kehidupan merasa bukanlah itu yang sedang di renungkan Rara saat ini, melainkan hal lainnya. Sesuatu yang membuat cahaya semangat tertarik dari jiwa Rara dan membuat diri Rara tak dapat merespon apa apa.


"Ujian Ketiga Surgawi!" Ucap Dewi Kehidupan.


Ujian ketiga yang Rara alami kini benar benar berbeda dari 2 Ujian sebelumnya yang mengandalkan Otak dan Otot melainkan ujian ketiganya kini menguji perasaan Rara.


Semakin lama entah kenapa Rara merasa semakin tenggelam dalam perasaan lelah itu, perasaan akan apa yang Ia alami selama ini. Menagapa Ia harus berlelah lelah akan semua ini? Mengapa Ia harus mempertaruhkan nyawa dan dirinya? Apa sebenarnya yang Ia tuju?


Rara kemudian teringat landasannya dalam 2 Ujian sebelumnya, Semut.


Bukankah Semut setiap harinya hanya berkerja mencari makan? Mempertaruhkan nyawanya akan dunia luar? Berlelah lelah hanya demi makanan yang belum tentu semuanya untuk dirinya? Lalu hal itu Ia lakukan berulang ulang setiap harinya? Untuk apa?


Dewi Kehidupan yang dapat merasakan bahwa semakin lama Rara semakin tenggelam dalam perasaan lelahnya tersebut menjadi cemas akan nasib Rara. Ia merupaka Dewi Kehidupan dan Ia mengerti akan intisari sebuah Kehidupan, tentang bagaimana hidup ini harus dijalani, harus di hadapi, harus memiliki inti yang membuat seseorang tetap hidup.


Namun meski Dewi Kehidupan memahami itu semua, memahami segala yang bisa membantu Rara melewati ujian ketiganya. Ia tetap tak bisa membantu sama sekali.


Dewi Kehidupan yakin bahwa seandainya ujian ketiga ini adalah menguji tekad, fisik ataupun otak, Ia yakin bahwa Rara pasti bisa menghadapinya, namun kali ini yang Rara hadapi adalah ujian perasaan dan itu berarti hanya memiliki Satu Kunci...


...- - -...


Feng duduk di samping Dewa Kematian. Mereka saling diam satu sama lain, Feng juga terdiam meski di dalam kepalanya tersimpan berjuta pertanyaan.


"Baiklah, Kit-" Dewa Kematian yang semula ingin berbicara terhenti saat menatap Feng dan melihat Feng yang mendadak memegang dadanya.


Feng entah kenapa merasakan sakit pada dadanya, bukan secara fisik dadanya benar benar sakit, namun ada sebuah perasaan yang mendadak melukai hatinya secara mendadak membuat perasaannya terasa begitu sakit tak terkira.


"Ada apa?" tanya Dewa Kematian saat melihat ekspresi Feng yang tampaknya merasa sangat tak baik.


Feng menggeleng, Ia juga tak tau. Ia tak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya, namun ini rasanya lebih sakit daripada berpisah dengan Rara sebelumnya.


Seperti ada yang secara lambat terpisah dari dirinya secara perlahan. Mata Feng mendadak terbuka lebar saat menyadari sesuatu, sesuatu yang merupakan satu satunya bisa membuat dirinya merasakan sebuah perasaan sesakit ini. Sesuatu yang jika dengan hanya berpisah saja sangat menyakitkan apalagi jika ingin meninggalkan. Feng sangat menyadari apa penyebab itu.


Ya, Rara!


...- - -...


Dewi Kehidupan mondar mandir dengan cemas, Ia sedang memikirkan bagaimana Rara bisa lolos ujian ketiga sekaligus ujian terakhir ini dengan baik. Walau Ia tak tau apa efek jika Rara gagal melewati ujian surgawi ini, namun Dewi Kehidupan yakin bahwa efeknya bukan sesuatu yang bisa di remehkan.


Namun Rara butuh kunci itu untuk lolos...


...- - -...


**Assalamualaikum...


Marhaban Ya Ramadhan!


Mohon maaf lahir batin, Author minta maaf kepada semua Readers atas segala kesalahan Author baik dalam atau luar Novel The System ini. Semoga Kalian bisa memaafkan Author dan....


Mari Kita lanjutkan Novel ini dengan penuh perjuangan hingga mencapai Ending yang memuaskan!


Semangat!!!!