The System

The System
Ujian Kedua Surgawi



[Ujian Kedua Surgawi : Dimulai]


Tulisan itu muncul di depan Rara, Rara langsung bangkit memasang sikap waspada dan memperhatikan sekitarnya. Tiba tiba sesosok Manusia muncul di depannya.


Rara sama sekali tak bisa merasakan aura kekuatan sedikitpun dari Orang di depannya ini, namun Ia merasakan hal yang sangat berbahaya dari Orang tersebut.


Wushh...


Mata Rara terbuka lebar, darah mengalir dari pipinya yang tergores. Bagaimana mungkin?! Orang itu bahkan lebih cepat dari kedipan mata, bagai cahaya yang di tembakkan, Rara bahkan tak bisa melihat sedikitpun gerakan Orang tersebut.


Dewi Kehidupan yang menyaksikan itu dari luar kotak juga terkejut, Ia juga semula sama sekali tak dapat melihat atau bahkan merasakan tingkat kekuatan musuh yang kini di lawan Rara tersebut, namun melihat serangannya barusan yang menggores pipi Rara, Ia yakin bahkan walau itu dirinya sendiri tak akan bisa mengkap pergerakannya.


Wushh...


Rara coba menghindar, namun terlambat, sebuah luka besar sudah ternganga di lengan kanannya. Rara meringis menahan darah yang mengalir keluar.


"Feng Gege..."


Rara mencoba memanggil Feng sekali lagi, namun nihil tak ada jawaban atau sahutan sama sekali. Rara terdiam, bagaimana cara Ia mengalahkan musuhnya kini?


...----------------...


Boom!


Booom!


Boooom!


Serangan demi serangan, ledakan demi ledakan terjadi saat pertarungan antara Dewa Kematian dan Dewa Kehancuran. Feng yang menyaksikan itu sambil terus mengalirkan energinya untuk bertahan dari efek pertarungan itu terkejut dibuatnya. Ia tak menyangka, Dewa Kematian dulu sekuat itu, karna jika Feng melihat saat ini, Ia sadar sepenuhnya jika Dewa Kematian berkali kali lipat lebih kuat darinya, namun untuk menyadari bahwa Ia sekuat itu... Feng tak pernah membayangkannya.


Wushhh...


Masing masing Dewa itu mundur dengan nafas terengah engah, belum nampak saat ini siapa yang memimpin pertarungan karna baik kedua Dewa tersebut sama kuatnya. Dewa Kehancuran menatap Dewa Kematian dengan amarah yang membara, sedangkan Dewa Kematian menatap Dewa Kehancuran dengan mata dingin yang membunuh jiwa.


Sesuatu kemudian muncul di tangan Dewa Kehancuran, itu adalah... Sebuah Gada!


Dengan cepat Dewa Kehancuran melemparkan gada tersebut ke arah Dewa Kematian, Dewa Kematian dengan cepat mengeluarkan sebuah sabit dan menahan serangan gada tersebur dengan sabitnya.


Krakkk...


Boom!


"Uhuk... uhuk..." Sabit Dewa Kematian hancur dan Ia termundur beberapa langkah kebelakang sambil memuntahkan darah.


Dewa Kehancuran tertawa kencang menatap Dewa Kematian remeh kemudian mengangkat gada nya. Sebuah cahaya muncul memutari gada tersebut.


"Lari! Ia ingin menggunakan 'Pengahncur Dunia!" seru Dewa dewa lainnya yang berada di sana, Mereka kemudian melesat pergi menjauh tanpa peduli meninggalkan Dewa Kematian yang masih belum bisa bergerak dan akan menjasi sasaran empuk serangan Dewa Kehancuran tersebut.


Feng terpaku, apakah Dewa Kematian akan kalah? Apakah Ia mati gara gara ini? Lalu tanpa sengaja mata Feng beradu dengan mata Dewa Kematian itu, mata yang Feng dapat merasakan perasaan aneh yang membuatnya tanpa sadar membuat tindakan yang sangat menentukan nasib Dewa Kematian.


...----------------...


Rara berpikir cepat, bagaimana caranya? Ia mengingat ngingat kembali tentang perkataan Feng tadi, Semut? Kecil dan lemah? Tak bisa melihat? Menggunakan insting? Ya! Itu Dia!


Mata Rara terbuka lebar, Ia baru ingat bahwa Semut pun tak dapat melihat. Lalu bagaimana cara Semut untuk menghindar jika ada halangan atau tau di depannya ada Semut yang lain? Ya, dengan Insting.


Rara kemudian menutup matanya, Ia sama sekali belum pernah melatih instingnya seperti Feng maka kali ini Ia akan mencoba melatihnya.


Boom!


Rara termundur beberapa langkah kebelakang begitu juga Orang itu. Kekuatannya masih kalau jauh di banding Orang itu meski kecepatannya lambat laun dapat Rara liat, namun itu tetap saja kurang, lalu bagaimana cara mengalahkan Orang tersebut?


Dewi Kehidupan yang menyaksikan pertarungan Rara yang semakin berkembang itu ternganga kaget. Ia tak menyangka Rara akan terpikirkan menggunakan instingnya, namun yang membuat Ia lebih tak menyangka adalah karna insting Rara berkembang begitu pesat, hanya dengan 3 serangan Ia langsung dapat membaca serangan Orang itu. Dewi Kehidupan sendiri tak percaya melihat hal tersebut, karna Ia sendiri yakin jika itu adalah dirinya, Ia tak bisa secepat itu untuk merasakan serangan Orang tersebut.


"Mungkin karna Ia Penguasa Hewan Buas sehingga Ia juga memiliki insting yang begitu kuat."


Rara tak yakin Ia bisa menggunakan cara ini, namun Ia tak memiliki cara lain karna kekuatannya yang kurang sehingga Ia hanya bisa menggunakan satu cara ini.


Rara menggenggam erat tangannya, Ia mengalirkan seluruh energinya ke pukulannya kali ini, Ia benar benar menghabiskan seluruh energi dalam tubuhnya menuju pukulannya kali ini.


Ia tak tau apakah ini akan berhasil untuk melawan Orang itu, namun Ia benar benar tak memiliki pilihan dan cara lain selain hal ini. Orang didepannya mendadak mengeluarkan sebuah pedang tajam yang di penuhi dengan duri di seluruh sisi pedang.


Wushhh...


Orang itu maju, ingin menganggukan Pedangnya itu untuk menebas Rara.


Wushhh...


Sreeet...


...----------------...


Tanpa Feng sadari tangannya bergerak.


Ia mendadak mengeluarkan Tombak kuno yang Ia dapat sebelumnya, matanya terpejam sebentar kemudian membuka dan menatap Dewa Kehancuran dengan tatapan dingin, tajam dan membunuh. Lalu entah dari mana datangnya kekuatam itu, Feng tiba tiba tidak lagi merasakan tekanan kekuatan di seluruh tubuhnya menghilang.


Ia memasang kuda kudanya, menarik tombaknya kebelakang. Tombak itu bersinar terang, sinar kedua yang Ia munculkan setelah terakhir kali tombak itu hanya berbentuk kayu dan dimiliki oleh seorang Anak kecil yang kemudian menjadi salah satu Dewa Kuno, Dewa Tombak!


Dalam hitungan detik, Ia mengalirkan seluruh kekuatan di dalam tubuhnya ke Tombak tersebut. Kemudian...


Wushh...


Tombak itu bagai cahaya kilat yang di tembakkan cepat, bersamaan dengan itu Dewa Kehancuran sudah melayangkan gadanya menuju Dewa Kematian, namun disaat berasamaan juga Tombak tadi melesat dengan kecepatan cahaya ke arahnya.


Ting...


Krak...


Boom!


Tombak itu menghantam gada itu sedetik, namun sedetik kemudian Gada itu hancur sedangkan Tombak itu tak kehilangan energi untuk terus melesat menuju Dewa Kehancuran.


Jlebb...


Mata Dewa Kehancuran melotot tak percaya saat tombak itu menusuk dadanya hingga tembus. Matanya terbuka, Ia tak percaya bahwa Gadanya akan hancur dan Ia akan di tusuk oleh sebuah Tombak dan lagi itu tombak itu milik salah satu Dewa Kuno.


Dewa Tombak!


...----------------...


Assalamualaikum...


Gimana harinya? Senang? Sedih?