
"Ah, apakah Aku benar benar mati kembali? Ku harap Rara tak sedih karna ini," gumam Pemuda tersebut.
Yap itu adalah Feng, Feng kini tengah melayang layang di sebuah rungan yang gelap, tak ada apapun disana kecuali kegelapan.
"Heh Pemuda bodoh, Kau benar benar ingin mati!" sebuah suara keras dan fimiliar membuat Feng terkejut.
Reflek Ia berbalik dan terkejut menemukan 3 Orang yang tengah terbang melayang menatapnya.
Ia mengenali 2 diantaranya, yaitu Nenek Ki dan Penguasa Dunia sedangkan yang satu lagi...
Feng menyeritkan dahinya melihat seorang Gadis kecil yang tampak seperti berumur 5 tahun yang melayang di samping Penguasa Dunia.
Tuk!
"Heh, jangan coba coba mengejekku ya, setidaknya Aku lebih tua beberapa ribu tahun darimu!" ketus Gadis kecil itu sambil memukul kepala Feng.
"Loli Tua," gumam Feng namun jelas terdengar oleh ketiga Orang didepannya.
"Pfft... Hahaha... Loli Tua," tawa Penguasa Dunia terbahak bahak, Nenek Ki tersenyum saja mendengar hal itu.
Berbeda dengan Gadis kecil yang dikatakan Loli Tua oleh Feng, mukanya sudah merah padam karna marah.
"Kau b_jingan! Kau bahkan juga menikahi Loli! Lihat saja latihan yang akan kuberikan nanti, Ku pastikan Kau akan mati karnanya!" teriak Gadis itu marah marah.
Feng menatap aneh Gadis didepannya lalu menatap bergantian antara Penguasa Dunia dan Nenek Ki.
Paham akan maksud tatapan Feng, Nenek Ki maju dan membuka mulutnya.
"Baiklah, Kami akan menjelaskan secara singkat, Kau dan Rara akan menjalani 3 Latihan, yang pertama bersama Penguasa Dunia, yang kedua bersamaku dan yang ketiga bersama Gadis kecil yang Kau sebut Loli tua itu," jelas Nenek Ki.
"Aku bukan Loli!" teriak marah Gadis kecil itu kemudian kembali mengomel ngomel.
"Hmph..," Penguasa Dunia langsung membengkap mulut Gadis itu agar tak mengomel tak jelas lagi.
"Baiklah, jika Kau bingung siapa Kami, saat ini Aku akan memberitahunya, Kami adalah 3 tiang keseimbangan," lanjut Nenek Ki membuat Feng bingung.
"3 Tiang keseimbangan?" beo Feng bingung.
"Ya anggap saja begitu, Laki laki yang Kau sebut Penguasa Dunia itu adalah Tiang dari kekuatan, Aku sendiri adalah Tiang dari kecerdasan sedangkan Gadis kecil itu adalah Tiang dari perasaan,"
"Untuk sekarang mungkin Kau masih memiliki beberapa pertanyaan soal itu, namun Kami akan menjelaskannya bertahap," ucap Nenek Ki membuat Feng terdiam.
"Bukankah Aku sudah mati?" ucap Feng membuat Nenek Ki tersenyum.
"Iya, Mati! Mati saja Kau B_jingan pedofil, M- Hmph!" Penguasa Dunia kembali membengkap Gadis kecil itu.
"Kau belum mati, sebenarnya Ujian yang Ku berikan barusan adalah untuk Rara, Kau akan melihatnya," ucap Nenek Ki tersenyum.
Klik!
Nenek Ki menjentikkan jarinya kemudian sebuah layar hologram besar muncul di depan Feng.
Tampak di layar hologram itu berdiri seorang Gadis 12 tahun, Angin bertiup kencang berputar putar disekeliling tubuhnya, matanya hijau menyala memancarkan Aura keganasan dan keanggunan.
Siluet seorang Perempuan dengan gaun putih dan tudung putih serta dua telinga Kelinci berhasil membuat Feng terkejut.
"Itu... Roh bela diri tingkat Walis!" ucap Feng terkejut melihat perubahan Roh bela diri Rara.
Nenek Ki mengangguk sambil tersenyum.
"Ya, itu Roh bela diri tingkat Walis yaitu Dewi kehidupan," ucap Nenek Ki membuat Feng tercengang.
"Apakah memang sudah di takdirkan Kami akan selalu couple?" ucap Feng membuat Penguasa Dunia yang sudah melepas bekapannya dari mulut Gadis kecil tadi langsung menatap Feng sinis.
"Heh hanya segitu saja bangga," sinisnya.
"Jomblo mana tau!" ucap kompak Feng, Nenek Ki dan Gadis kecil itu.
Penguasa Dunia memberengut kesal.
"Kalian! lihat saja Aku pasti akan mendapat Cewek yang cantik dan anggun tak seperti Kau yang pendek dan Kau yang tua bahkan Kau juga akan cemburu, melihatnya!" sinis Penguasa Dunia menunjuk Gadis kecil, Nenek Ki dan Feng.
Gadis kecil, Nenek Ki dan Feng hanya mencibir mendengar itu.
"Baiklah kembali ke topik, Kau memang sudah di takdirkan bersama Gadis itu," ucap Nenek Ki membuat Feng mengangguk percaya.
Feng kemudian kembali menatap layar hologram yang sedang menampilkan Rara berhadapan dengan laba laba tadi.
...- - -...
"Kau telah menyikiti Feng Gege! Kau harus mati!" teriak Rara marah kemudian sulur sulur keluar dari lantai itu kemudian mekesat menuju Laba laba itu dan mengikatnya erat.
Laba laba itu terus berusaha memberontak namun sulur sulur itu terus menahannya dengan erat.
Rara kemudian membuat sebilah Pedang dari Angin lalu berjalan mendekat ke Laba laba tersebut.
"Kau harus terima siksaannya karna telah menyakiti Feng Gege,"
Jleb!
Laba laba itu mendesis kesakitan saat Rara menancapkan bilang Pedang dari Angin itu ke perutnya.
Rara membuat sebilah Pedang lagi lalu menebaskannya ke ekor Laba laba tersebut membuat ekornya tersebut langsung putus.
Zraaash...
Tsaaa~
Laba laba itu kembali mendesis kesakitan.
Belum puas, Rara memegang tanduk di kepala Laba laba itu lalu menariknya.
Kreek!
Tak!
Tsaaa~
Rara hanya tersenyum dingin saat berhasil mencabut tanduk Laba laba tersebut.
...- - -...
Prok... Prok... Prok...
Feng bertepuk tangan senang saat melihat Rara yang menyiksa Laba laba itu.
"Bagus Rara," ucapnya senang.
Di dekatnya, Nenek Ki, Gadis kecil dan Penguasa Dunia menatap Feng dengan datar.
"Dasar Pasangan gila!" gumam Penguasa Dunia.
"Entah apa yang akan terjadi dengan Anak Mereka nanti," gumam Gadis kecil.
"Kasian sekali Makhluk yang Mereka siksa," gumam Nenek Ki.
"Kalian terlalu kejam!" teriak Nenek Ki, Penguasa Dunia dan Gadis kecil tadi bersamaan membuat Feng terkejut dan terjungkal.
"Ada apa sih?" ucap Feng bingung.
"Apa yang Kau sebuat ada apa hah!" Kesal Gadis kecil.
"Kau mengajari Gadis polos itu menyiksa dengan kejam seperti itu!" Lanjut Penguasa Dunia.
"Kau tak kasian dengan Makhluk yang Kau siksa!" Akhir Nenek Ki.
Feng hanya mengangkat bahu lalu berucap dengan ringannya.
"Itu yang disebut seni," ucap Feng tanpa dosa membuat wajah Nenek Ki, Gadis kecil dan Penguasa Dunia merah padam karna marah.
"Itu bukan Seni Bod_h!!!"
...- - -...
"Feng Gege, akan Rara balas semua yang menyakitimu!" ucap Rara menitikkan air mata.
Jleb!
Rara menusukkan tanduk Laba laba yang Ia cabut tadi ke kepala Laba laba itu hingga tembus kebawah.
Rara kemudian mengangkat tangannya, lalu pusaran Angin tajam berputar di tangannya lalu Ia melemparkannya ke kaki kaki Laba laba yang tengah sekarat itu.
Zrash..
Zrash..
Zrash...
Rara memotong semua kakinya lalu menariknya dengan Angin.
Jleb!
Jleb!
Jleb!
Rara menusuk semua kaki yang Ia potong tadi ke perut Laba laba itu membuat Laba laba itu kembali merasakan sakit yang ekstrim saat saat terakhirnya.
"Matilah!" gumam Rara kemudian membuat Pedang dari Angin dan menebaskannya membelah tubuh Laba laba itu jadi dua.
...- - -...