
Feng membuka matanya kemudian menatap sekitarnya, kini Ia berada di sebuah halaman rumah gubuk kayu tua. Mata Feng kembali meneliti sekitarnya, Ia sama sekali tak menemukan tanda tanda kekuatan, Qi atau apapun disini, dimana Ia sebenarnya?
"Kau berada di Rumah Guruku," ucap Pemuda itu tiba tiba muncul dari dalam rumah sambil membawa sebuah nampan berisikan seteko teh dan 2 cangkir kecil. Pemuda itu kemudian meletakkan nampan itu di tengah sebuah kayu besar di depan rumah gubuk itu. "Kemari, duduklah di depanku."
Feng mengangguk mendengar ajakan Pemuda itu dan berjalan lalu duduk di hadapan Pemuda itu dengan teh sebagai pembatasnya.
"Kau penasaran dengan diriku bukan? Baiklah, oh yah, bukankah Kau pernah bertemu dengan adik seperguruan Ku?" tanya Pemuda itu, dahi Feng mengerut, Adik seperguruan?
"Iya, Kalian menyebutnya Kaisar Iblis bukan?" ucap Pemuda itu tersenyum menuangkan teh di teko ke cangkir miliknya dan Feng.
Mendengar ucapan Pemuda itu, hanya ada satu nama terlintas di benak Feng yang membuat Feng terdiam dan terkejut.
"K-kau Dewa Kematian!"
Pemuda atau lebih tepatnya Dewa Kematian itu tersenyum mengangguk, "Masuk akal bukan? Ayahku Dewa dan Ibuku Iblis, Aku jadi Dewa Kematian yang kejam dan menakutkan."
Feng setuju dengan kalimat Dewa Kematian soal Ayahnya Dewa dan Ibunya Iblis, namun Ia tak setuju dengan kata kata bahwa Ia kejam dan menakutkan karna sejak tadi Feng tak merasakan ancaman dari Dewa Kematian bahkan Ia merasa nyaman di dekatnya.
"Baiklah, Aku tau Kau langsung memiliki ribuan pertanyaan di otakmu itu begitu tau Aku Dewa Kematian. Namun simpan dulu semua pertanyaanmu itu dan mari Kita lanksanakan janjimu," sela Dewa Kematian menatap Feng tersenyum.
Feng menghela nafas, benar Ia telah berjanji satu hal kepada Dewa Kematian tadi bahwa jika Ia bisa bertemu dengan Rara walau hanya sejenak di alam mimpi Ia akan melakukan apa saja untuk Dewa Kematian.
"Baiklah, Aku tak akan meminta yang aneh aneh, Kau lihat teh di dalam cangkirmu itu," Feng langsung menunduk melihat cangkirnya.
"Bukankah ada batang teh di dalamnya?" Feng mengangguk, Ia melihat batang teh kecil yang mengapung di dalam cangkir tehnya.
"Sekarang permintaanku adalah agar Kau membuat batang teh tersebut menjadi seperti... ini," ucap Deaa Kematian kemudian menuangkan teh di teko ke dalam cangkirnya dan setelah selesai nampaklah olehnya batang teh itu juga mengapung, namun... Dalam posisi tegak!
Feng pernah membaca dan melihat hal hal seperti ini saat di Bumi, meski Ia belum pernah mencobanya namun Ia merasa itu memang menarik dan Ia akhirnya mencobanya.
Percobaan pertama gagal, batang teh yang keluar dari dalam teko terlalu banyak.
"Kau harus fokus atas segala hal yang Kau lakukan."
Percobaan kedua gagal, batang teh itu justru tak ada yang kekuar karna Feng menuangkan sedikit demi sedikit.
"Jangan ragu ragu untuk melakukan sesuatu selama hatimu berkata bahwa itu adalah pilihan yang benar."
Percobaan ketiga gagal, Feng berhasil mengeluarkan satu batang teh namun tak berdiri dan menempel dengan tepi cangkir.
"Jangan selalu menyandar pada yang lain, buat menjadi diri sendiri."
Percobaan keempat gagal, Feng berhasil membuat batang teh itu berada di tengah tengah teh namun tak berdiri.
"Berdirilah dengan tegak, jangan sampai segala sesuatunya membuat rebah."
Feng menghembuskan nafasnya panjang sambil mengelap keringat yang keluar karna kefokusannya yang tinggi, Dewa Kematian yang melihat itu tersenyum.
"Kau sudah mendapat pelajaran pertama dariku," ucap Dewa Kematian membuat Feng mendongak menatap bingung ke arah Dewa Kematian, pelajaran memberdirikan batang teh?
"Pelajaran ap-?" Feng tersentak baru mengingat sesuatu Ia terdiam memikirkan semua kalimat yang di keluarkan Dewa Kematian tadi saat Ia berkali kali gagal mencoba.
Dewa Kematian tersenyum melihat Feng berhasil memahami dengan cepat pelajarsn yang Ia berikan barusan.
"Ingat baik baik pesanku itu, itu akan sangat membantumu kelak di masa depan saat Kau mendapatkan masalah, termmasuk harus berhadapan dengan burung kecil itu," ucap Dewa Kematian, Feng mengangguk paham termasuk perkataan Dewa Kematian 'burung kecil itu' membuat Feng baru teringat alasannya sampai kesini adalah karna Hewan Kuno Manusia setengah elang itu.
"Baiklah, Aku tak bisa lama bersamamu karna beberapa hal, Kau harus kembali sekarang dan menyelsaikan masalahmu dengan burung kecil itu," ucap Dewa Kematian itu kemudian men jentikkan jarinya.
Klik... Tubuh Feng perlahan berubah menjadi pecahan cahaya dan menghilang. Dewa kematian menatap tersenyum kepergian Feng.
"Kita pasti akan bertemu lagi, secepatnya!"
...- - -...
Feng membuka matanya perlahan, kemudian menatap sekitar yang tampak gelap. Ia dapat merasakan seluruh tubuhnya kesakitan kini namun kemudian Ia lebih fokus memperhatikan di sekitarnya. Ia kini sedang dikurung dalam sebuah penjara yang terbuat dari bahan sejenis besi.
Beberapa ratus meter dari tempatnya, nampaklah banyaknya kawanan manusia setengah elang yang tampak sedang berpesta. Feng menajamkan matanya meneliti satu demi satu manusia elang tersebut, rata rata kekuatan Mereka sama seperti Manusia elang yang Ia hadapi sebelumnya.
Namun bukan itu masalah utamanya, masalah utamanya adalah Ia merasa dirinya diberi sesuatu yang membuat tubuhnya kini kehilangan Qi nya, Feng benar benar tak dapat merasakan Qi di dalam tubuhnya barang sedikitpun!
Tiba tiba Ia teringat pelajaran pertama yang di ajarkan Dewa Kematian padanya, ya meski Feng penasaran sekali dengan Dewa Kematian dan bagaimana Ia bisa mendadak bertemu dengannya. Namun Ia yakin bahwa memang ada takdir tertentu yang tak bisa Ia ubah dan menentukan alur hidupnya.
"Fokus," gumam Feng mengingat perkataan Dewa Kematian. Feng kemudian memfokuskan dirinya mengamati sekitarnya dan ting! Ia punya sebuah ide.
Hewan kuno itu tak tau, meski Mereka berhasil menahan Qi di dalam tubuh Feng, namun Mereka tak tau bahwa Feng memiliki 7 Tanda Neraka dan itu adalah kunci utama Feng sekarang.
"Jangan ragu ragu," gumam Feng mengingat pesan kedua Dewa Kematian. Hewan kuno tersebut sangat peka dengan aura di sekitar Mereka, maka dengan fokus tingkat tinggi dan sedikit demi sedikit Feng melepas seperempat kekuatan tanda Neraka miliknya.
Namun sayangnya itu masih belum cukup kuat untuk membuat celah untuknya keluar dari penjara tersebut. Feng teringat sesuatu! Teknik klasik yang sering Ia lihat dan baca bahkan Ia pernah juga mencobanya sesekali saat di Bumi.
Feng mencari bagian besi terkecil di tiang penjara itu lantas dengan perlahan dan tanpa suara mematahkannya kemudian Ia memegang ujungnya, kemudian dengan element api miliknya meleburkan ujungnya hingga membuat sesuatu.
Tak lama, hanya beberapa saat Feng menyelesaikannya kemudian tersenyum lebar menatap benda di tanganya...
Sebuah Kunci!
...- - - ...