The System

The System
Menikmati Hari 4



"Eh? Di Mo kenapa Feng Gege?" tanya Rara melihat Di Mo yang tampak menangis memeluk Perempuan itu, Perempuan itu juga dengan lembut mengelus kepala Di Mo.


Feng meletakkan jari telunjuknya di bibir, memberi Isyarat agar diam, Rara mengangguk patuh.


"Istrinya, juga sudah lama menunggunya datang ke sini, namun karena sama sama berbentuk Roh jadi sedikit susah untuk masuk atau keluar Dunia ini, apalagi untuk menjelajahi isi dalamnya," jelas Nenek Ki, Feng tampak mengangguk paham.


"Oh ngomong ngomong Kalian setelah ini akan kemana?" tanya Gadis kecil yang sejak tadi diam.


"Mungkin Aku dan Rara akan pergi ke Alam Dewa?" ucap Feng, Gadis kecil yang mendengar itu berkerut dahinya.


"Jangan!" ucap Gadis kecil itu tugas, kini giliran Feng yang di buat berkerut dahinya mendengar ucapan larangan Gadis kecil itu.


"Kenapa?" tanya Feng.


"Kau masih terlalu lemah, Alam Dewa bukan sekedar Alam yang bisa di masuki oleh Orang luar, Kaisar Dewa yang merupakan musuh terbesarmu dapat merasakan jika ada sedikit saja perubahan di Alam Dewa, dan jika Kau melawannya sebelum waktunya, maka... Kau hanya akan menjadi seperti Semut yang di injak Gajah."


Mendengar perkataan Gadis kecil itu tampak terdiam.


"Lebih baik Kau pergi ke Alam Iblis terlebih dahulu, masib banyak hal hal yang menjadi Misteri di Alam itu, dan jika Kau bisa membukanya itu akan meningkatkan kekuatanmu secara drastis."


Feng mengangguk, menerima saran itu.


"Tuan!" ucap Di Mo yang sudah muncul di hadapan Feng sambil menggenggam tangan Roh Perempuan.


"Tuan kenalkan, ini Istriku!" kenal Di Mo, Roh Perempuan di sampingnya juga tampak membungkuk hormat.


Feng tersenyum mengangguk.


"Dan soal warisannya Tuan," ucap Di Mo namun tampak sedih, Feng yang mengerti memegang baru Di Mo.


"Tak usah, jika itu harus mengorbankan roh Istrimu."


"Tapi Tuan?"


"Jangan, lagian Kau lihatlah Kekuatanku, apakah masih perlu warisan Orang sepertimu di saat Aku bisa mendapat warisan dari 3 Orang terkuat di Dunia ini," ucap Feng sambil melirik Nenek Ki, Penguasa Dunia dan Gadis kecil.


Di Mo mengangguk tersenyum sambil berlinangan air mata.


"Baik Tuan!"


"Kau juga boleh tinggal di sini," ucap Feng.


Kali ini perkataan Feng mengejutkan Di Mo.


"Ma-maksudnya Tuan?" tanya Di Mo sedikit takut jika perkataan Feng tadi bermaksud untuk mengusirnya.


Feng tersenyum.


"Kau boleh tinggal di sini selama yang Kau mau, tak perlu lagi mengikuti Aku dan Rara kemana mana, tapi tentu saja dengan satu Syarat," jelas Feng.


"Syarat apa Tuan?"


"Kau harus tetap berlatih dan meningkatkan kemampuanmu, karna jika suatu saat Alam Manusia atau Kekaisaran Bulan di serang, Kau harus melindunginya."


"Juga jika Aku suatu saat membutuhkanmu, Kau sudah punya kekuatan untuk membantuku."


Di Mo terdiam, kemudian menatap Feng dengan air mata menetes.


"Benarkah Tuan?" tanya Di Mo memastikan, Feng tersenyum mengangguk.


"Te-terima kasih banyak Tuan," kali ini Istri Di Mo yang menjawab dengan linangan air mata, Ia juga langsung memeluk Di Mo erat dengan kebahagiaan memuncak.


Semua Orang tersenyum melihat itu.


...- - -...


"Jadi, Kalian akan langsung pergi besok?" tanya Nenek Ki melepas Feng dan Rara yang akan segera pergi.


Feng menggeleng.


"Oh? Dimana itu?"


...- - -...


"Feng Gege, Kita lompatkah?" tanya Rara menatap jurang dalam di hadapannya, Feng tersenyum menggeleng.


"Tidak tidak, Kita hanya akan pakai sayap sebagaimana Kita pergi dulu dari Jurang ini," jawab Feng tersenyum, Rara mengangguk kemudian membuat sayap dari element anginnya sedangkan Feng membuat sayap dari element kegelapannya.


Yap, kini Feng dan Rara kembali ke mana tempat dari kisah ini bermulai. Tempat Mereka pertama kali bertemu, tempat Mereka pertama kali merancang rencana masa depan Mereka dan tempat Mereka pertama kali mengukir cinta.


Tempat yang paling bersejarah dan berharga bagi Mereka, Jurang Neraka.


Feng dan Rara sudah sampai di dasar Jurang Neraka, Feng langsung tersenyum, Ia ingat tempat yang Mereka pijak saat inilah tempat pertama kali Feng sampai di Dunia ini.


Mereka kemudian berjalan, dan jalan yang Mereka lalui mengingatkan Feng akan tempat tempat latihan yang Ia lakukan di Jurang Neraka ini.


Feng dan Rara terus berjalan sampai ke sebuah Danau, kali ini bukan hanya Feng yang tersenyum, tapi juga Rara.


Ini adalah Danau tempat Mereka pertama kali mengikat janji suci pernikahan, janji suci yang terus Mereka jaga bahkan terus tumbuh di hati Keduanya.


Rara berlari mendekati pinggir kolam, di sana masih tampak beberapa bunga yang dulu di tanam Feng untuk pernikahan Mereka seperti bunga Mawar dan yang lainnya.


Feng datang kemudian memeluk Rara dari belakang sambil menatap ke depan, kini Mereka menatap Danau yang luas itu mengingat semua kenangan yang di lalui.


...- - -...


Tempat selanjutnya adalah tempat Mereka berjanji untuk menjelajahi Dunia Luar, Janji Senja.


Feng dan Rara berdiri di pinggir Sungai tempat Mereka dulu berburu Ikan, saat seperti itulah Feng baru ingat bahwa masih ada satu hal yang membuat Feng penasaran sejak dulu.


"Ra, apa teknik menangkap Ikan cepat seperti dulu saat Kita pertama kali bertemu?" tanya Feng mengingat dulu Ia susah sekali menangkap Ikan sedangkan Rara hanya perlu mencelupkan tangannya dan hap... Ia dapat Ikan.


"Teknik?" beo Rara kebingungan.


"Ooo..." Rara yang baru ingat kemudian berjalan lebih dekat ke pinggir Sungai dan kembali berjongkok.


"Feng Gege sini mendekat," panggil Rara, Feng mengangguk mendekat kemudian berjongkok di samping Rara.


"Nah, Feng Gege, sebenarnya Tanah di pinggiran Sungai ini adalah Umpan untuk Ikan," jelas Rara kemudian mengambil segenggam tanah dan melemparkannya ke air.


Benar saja, banyak Ikan yang langsung muncul dan melahap tanah tanah itu, Feng yang melihat itu hanya bisa menganga lebar


Jadi sebenarnya semudah itu?


...- - -...


Kali ini Mereka sampai pada puncaknya, di tempat paling bersejarah di Jurang Neraka, tempat Mereka bermalam sekaligus tempat tinggal Rara sebelum bertemu Feng.


Feng mengarahkan tangannya, dan Gua yang Ia segel dulu terbuka. Perlahan Feng dan Rara melangkah masuk.


Mereka tersenyum dengan air mata sedikit menetes, Tempat ini sama sekali tak berubah. Mulai dari Kebun Rara yang kini malah sudah di limpahi berbagai macam Tanaman untuk meningkatkan diri, kemudian kolam Kehidupan, yang meski sudah tak ada isinya, namun masih terasa auranya juga tumpukan jerami tempat Rara dulu tidur, juga Feng.


"Feng Gege... Laparr," ucap Rara, Feng tersenyum.


...- - -...


Malam sudah menyapa, Feng dan Rara duduk di depan Gua sambil menatap hamparan bintang malam.


Rara menyandarkan kepalanya ke dada Feng sedangkan Feng memeluk pinggang Rara erat.


"Feng Gege, Rara pasti kangen di sini, tapi kalau gak ada Feng Gege, Rara lebih kangen," ucap Rara.


Feng tersenyum mengecup pucuk kepala Rara tanpa berkata apa apa.


Ia juga akan kangen dengan semua ini.


...- - -...