
Feng mengambil posisi duduk bermeditasi mencoba mempelajari dan memahami Jurus Mayat Hidup yang baru saja diajar Dewa Kematian tersebut. Hari beranjak sore saat Ia kembali membuka matanya setelah mempelajari jurus Mayat Hidup. Ia kemudian menatap bangkai lobster mata tiga didekatnya lalu berjalan mendekat berniat menggunakan jurus tersebut ke bangkai lobster mata tiga ini.
"Tunggu!" ucap Dewa Kematian menahan gerakan Feng, Feng berhenti kebingungan.
"Lobster ini terlalu lemah jika Kau ingin hidupkan dan jadikan budak," ucap Dewa Kematian, Feng meringkan kepalanya, lalu?
"Setauku Lobster mata tiga ini memiliki ratu, sama seperti semut, Ratunya ini yang melahirkan seluruh lobster mata tiga dan lagi kekuatannya juga berkali kali lipat dari lobster mata tiga biasa ini," jelas Dewa Kematian. Feng mengangguk paham menarik tangannya.
"Dimana Aku bisa menemukannya?"
"Ikuti saja sungai ini, pakai instingmu untuk menelusurinya, setauku Ia biasanya berada dihulu sungai."
Feng mengangguk paham kemudian menatap bangkai lobster didepannya itu. Ia kemudian menatap langit yabg sudah mulai menggelap.
"Kurasa harus mengisi perut sebentar," gumamnya kemudian memotong sedikit bagian lobster mata tiga itu dengan Qi nya dan menyimpan selebihnya ke penyimpanannya. Malam itu akhirnya Feng membakar lobster itu dan mengisi malam itu dengan latihan.
"Bagaimana dengan Rara?" pikirnya tiba tiba mengingat malam ini Rara tak bersama dengannya. Feng menghela nafas, Ia sama sekali tak khawatir Rara kenapa napa mengingat kekuatan Rara dan perasaan Mereka yang saling terhubung. Namun tak bersamanya walau cuman sesaat benar benar membuatnya rindu.
Disisi lain Rara baru membuka matanya begitu matahari akan terbenam. Pasalnya begitu Ia diteleportasikan tadi, Rara langsung mencati pohon yang memiliki ranting besar dan mengambil posisi enak untuk kemudian langsung terlelap dalam tidurnya. Ia sama sekali tak berbuat apapun hari ini kecuali tidur dan baru bangun saat matahari terbenam. Rara menggeliat menguap kencang dan mengucek matanya.
Ia melompat turun dari pohon sambil menatap sekitarmya yang sudah mulai menggelap.
"Feng gege dimana ya?" pikirnya, tiba tiba tangannya terangkat menangkap sebuah benda yang melesat kearahnya.
Tap... Ia menangkap benda itu, itu adalah sebuah pedang kecil yang berasal dari Qi. Ia menatap kearah pedang kecil itu berasal, benar saja dua orang laki laki keluar dari kegelapan berjalan kearahnya.
"Oh, bukankah ini Perempuan yang dinginkan Kakak seperguruan?" ucap salah satu laki laki menatap Rara. Laki laki itu memiliki wajah kejam dengan kekuatan yang berada pada tingkat Bumi lapis 5 begitu juga dengan temannya.
"Ya, mungkin Kita bisa memberikannya kepada Kakak seperguruan, namun sebelum itu..." Temannya berucap sambil menjilat bibirnya, menatap Rara dengan tatapan mesum. Rara menyadari itu namun tetap diam tak mengindahkan kedua tikus tersebut.
Rara justru lebih memilih berjongkok dan memperhatikan bunga yang berada didepannya. Bunga berwarna bening dengan titik pusat berwarna biru, bunga yang memancarkan aura Qi yang kuat.
[Bunga Spiritual : Bunga berusia jutaan tahun yang memiliki Qi dari langit dan bumi. Dapat meningkatkan level sebanyak 3 lapisan]
Zrasssh...
"Aaargh!" teriaknya kesakitan melihat tangannya yang sudah terpotong secara sempurna. Rara melirik dengan tatapan kejam dan dingin.
"Kau! Beraninya!" kedua Orang itu marah dan langsung mengeluarkan aura dan roh beladirinya. Salah satu dari Mereka langsung menghilang dikegelapan sedangkan satu lagi mengarahkan tinjunya yang sudah dipenuhi kekuatan kepada Rara.
Tap... Rara dengan mudah menangkap tinju tersebut kemudian tersenyum tipis.
Zrasssh...
Lagi lagi lengannya terpotong, kini Ia sama sekali tak memiliki kedua lengannya. Laki laki itu berteriak keras karna kesakitan, namun belum selesai disitu, dari kegelapan meluncur ratusan pedang dari Qi yang mengarah ke arah Rara. Rara tersenyum sama sekali tak bergerak dari tempatnya, pedang pedang kecil itu berhenti tepat setengah meter sebelum mengenai Rara kemudian meledak menghilang.
Tangan Rara bergerak mencabut sehelai rumput didekatnya kemudian dalam satu gerakan cepat melempar rumput itu ke arah kegelapan.
"Aaargh!" suara erangan kesakitan itu terdengar jelas, seseorang jatuh dari kegelapan dengan tangan memegang ***********. Rumput yang Rara lempar tadi jelas telah dilapisi Qi dan langsung tepat mengincar ***********. 2 Orang itu kini telah berbaring kesakitan karna kehilangan tangan dan ***********. Rara memang tak berniat membunuh Mereka dan membiarkan Mereka menderita saja, Ia mencabut rumput spiritual yang Ia temukan tadi kemudian beranjak pergi.
Namun baru beberapa langkah, kakinya terhenti Ia menatap kedua orang tadi kemudian mengambil sesuatu dari penyimpanannya. Sebuah botol kecil berisi serbuk sari, Ia kemudian membukanya dan menebarkannya ke kedua orang tersebut.
"Feng gege bilang ini racun yang bisa menyiksa orang secara kejam selama 24 jam tanpa henti, namun sama sekali tak membunuhnya," gumamnya kemudian menatap kedua orang tersebut, benar saja hanya beberapa detik setelah Rara memberi racunnya kedua orang itu lamgsung menggerang berteriak kesakitan berguling guling ditanah. Bibir Rara membentuk huruf o paham dengan racun yang telah diberikan Feng kepadanya.
"Keren... Rara mau mintalah racun racun kayak gini lagi sama Feng gege," ucapnya menatap botol kecil digenggamannya. Ia kemudian kembali memperhatikan dua orang tersebut yang masih tersiksa dengan asyik.
Matahari sudah mulai terbit saat Feng menyelesaikan meditasinya dan bangkit dari duduknya.
"Lumayan, Qi disini dapat memperkuat pondasiku berkali kali lipat," gumamnya tersenyum puas. Ia kemudian mulai berjalan, mengikuti alur sungai menuju hulunya.
Sambil berjalan, Feng tak lupa dengan pesan Dewa Kematian untuk menggunakan instingnya untuk memeriksa seluruh isi sungai. Feng sedikit terkejut karna saat Ia menggunakan instingnya, Ia dapat merasakan sepanjang sungai ini banyak terdapat Lobster mata tiga yang sama seperti yang Ia kalahkan terakhir kali. Dewa kematian benar, percuma jika menggunakan Lobster mata tiga yang Ia kalahkan kemarin karna kekuatannya justru banyak lobster mata tiga yang sama bahkan lebih kuat darinya. Namun jika Ia bisa mendapatkan ratunya maka mungkin Ia bisa mendapatkan seluruh Lobster mata tiga ini.
Dengan instingnya Feng juga dapat merasakan berbagai hewan buas di sungai ini mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar, dari yang terlemah hingga yang terkuat. Ia bahkan beberapa kali tergoda untuk memburu hewan hewan buas yang lebih kuat dari lobster mata tiga itu namun mengingat kembali tujuannya untuk mencari Ratu lobster mata tiga itu, Ia terhenti dan memutuskan untuk terus lanjut berjalan.
...- - -...