
Feng termenung memandang lautan luas yang terhampar di depannya, pikirannya melayang tentang saat pertama kali Ia bertemu Rara di Tebing Neraka, saat itu Ia merasa tertarik dengan Gadis kecil polos di depannya, berbagai petualangan Ia lalui, bahkan Ia masih ingat dengan jelas bagaimana Janjinya dan Rara sebelum memutuskan berpetualangan. Latihan, ujian, senang maupun susah yang Mereka lalui menambah perasaan Feng kepada Rara, perasaan sayang, perasaan cinta, perasaan ingin membuat bahagia dan ingin memanjakan Rara, namun Hari ini, Ia merasa bahwa semua petualangan yang Ia lakukan bersama Rara hanya sebuah Film belaka. Film yang indah namun menggantung, film yang menghancurkan semua alurnya, film yang sangat Ia benci.
Begitu juga dengan Rara yang kini menangis terisak di dalam sebuah Gua yang gelap, Rara juga mengingat saat Ia dan Feng berlatih bersama di Kolam Kehidupan di Gua nya dulu, Feng yang saat itu pipinya merah walau Rara tak tau kenapa seperti itu. Feng yang slalu memanjakannya, tak pernah jauh meninggalkannya dan mencintainya, kemudian Petualangan Mereka di Desa Hijau Lumut, bertemu dengan Ran dan Fay, hingga memasak di dapur, semua itu masih terekam dalam benak Rara. Namun kini semuanya harus hancur, Dunia Rara terasa hampa, tak berwarna dan kosong, kini hanya isak kecil yang bisa Ia lakukan.
Maka di saat seperti itulah, Mereka berdua mengenang seluruh memori Mereka, satu persatu tanpa tertinggal seinci pun, lama Mereka mengenang itu hingga Mereka menyadari sesuatu, sesuatu yang amat berharga, sesuatu yang tak akan hancur oleh apapun, sesuatu yang tak akan putus oleh waktu dan tempat, sesuatu yang paling berbahaya dan juga paling luar biasa di seluruh Alam Semesta.
Perasaan Cinta!
"Tidak, Aku harus bertanya lebih jelas pada Rara, Aku sangat mencintainya dan Ia sangat mencintaiku, tak ada yang bisa memutus ikatan cinta di antara Kami," ucap Feng bangkit dari duduknya dengan muka penuh keyakinan, Ia berbalik, Ia akan kembali ke tempat Rara tadi.
"Enggak, Feng Gege gak mungkin kayak gitu sama Rara, Feng Gege sayang sama Rara, slalu masakin buat Rara, gak mungkin Feng Gege sejahat itu karna Feng Gege sayang sama Rara dan Rara juga sayang sama Feng Gege," ucap Rara bangkit, kemudian menghapus air matanya lalu berjalan melesat keluar Gua, Ia akan kembali ke tempat Feng tadi berada.
- - -
Feng dan Rara melesat cepat, wajah mereka menunjukkan sebuah keyakinan, keyakinan tentang ikatan cinta Mereka berdua.
Feng berjalan ke arah Rara yang sedang di suapi oleh Orang tersebut, Orang tersebut dan Rara tentu saja mendengar suara langkah Feng dan langsung menoleh.
"Eh, Feng Ge-" belum sempat Rara berucap, Feng sudah menarik Rara ke dalam pelukannya.
Di sisi lain Rara juga dengan air mata masih berbekas berlari ke antara Feng dan Perempuan itu, membuat Feng dan Perempuan itu terpisah, Rara langsung memeluk erat Feng.
Feng dan Rara tiba tiba merasakan bahwa Orang yang kini Mereka peluk balas memeluk, bahkan lebih erat. Rara mendongak dan Feng menunduk, mata Mereka bertemu, tampaklah oleh Feng bekas nangis di wajah Rara, dan tampaklah oleh Rara ekspresi khawatir di wajah Feng, mata itu saling beradu mengalirkan cinta sebelum kembali berpelukan kali ini dengan segenap jiwa.
"Aku pernah jatuh cinta, namun berakhir dengan pengkhianatan, kali ini, Aku tak mau lagi itu terulang, ku mohon Ra, Aku sangat mencintaimu," bisik Feng, Rara yang mendengar itu tambah deras air matanya.
"Hiks.. Rara minta maaf Feng Gege, Rara slalu ngrepotin Feng Gege Hiks.. slalu buat masalah buat Feng Gege, Hiks.. Rara Cinta Feng Gege, jangan tinggalin Rara," ucap Rara menangis terisak, Feng memeluk erat Rara.
"Aku berjanji tak akan pernah meninggalkanmu, dimanapun itu kapanpun itu, Aku akan mencarimu, bahkan jika harus membalik Alam Semesta," balas Feng.
Tanpa Feng dan Rara sadari ada Tiga Orang yang tersenyum melihat Mereka, itu adalah Nenek Ki, dan Dua Naganya.
Setelah terasa lebih tenang, akhirnya Feng dan Rara melepas pelukan Mereka, Feng mengusap pipi Rara lalu mengecup keningnya.
Prok.. Prok.. "Bagus, Kalian berhasil menyelesaikan Latihan kedua Kalian," ucap Nenek Ki berjalan mendekat bersama Dua Naganya, Feng dan Rara menoleh, Mereka bahkan belum menemukan Mutiara yang di suruh, Nenek Ki tertawa melambaikan tangan.
"Latihan kali ini bukan soal Mutiara itu, namun soal Ikatan Cinta di antara Kalian," ucap Nenek Ki.
"Lalu untuk Mutiaranya," ucap Nenek Ki, kemudian 2 Naga di belakang Nenek Ki bersinar berubah menjadi sebuah Mutiara bercahaya berwarna merah dan biru yang terbang ke depan Feng dan Rara.
"Ambillah Mutiara itu untuk meningkatkan kekuatan Kalian, saat Kalian sudah siap Aku akan kembali dan Kalian akan melaksanakan Latihan ke Tiga atay latihan terakhir."
Nenek Ki kemudian membalikkan badannya dan menghilang, Feng dan Rara kemudian saling memandang tersenyum kemudian saling memeluk.
- - -
Wush... Angin bertiup cepat saat puluhan bayangan hitam itu melesat lewat, tak ada Orang yang bisa melihat bayangan tersebut bahkan Orang pada tingkat Langit sekalipun.
Puluhan Bayangan tersebut melesat hingga sampai di sebuah Rumah besar, Mereka masuk di dalam Rumah tersebut sudaj duduk menunggu seseorang.
"Hormat Raja!" ucap Pasukan Iblis itu berlutut, Raja Iblis yang sedang duduk di atas kursi mengangguk bangun dari duduknya.
"Baiklah, sepertinya di Dunia ini hanya ada beberapa manusia yg wajib kita waspadai seperti yg Kalian lihat tadi saat latihan." ucap Raja Iblis memperingatkan, Pasukan Iblis mengangguk paham.
'Sementara ini jalankan saja rencana seperti awal, namun berhati hatilah terhadap Orang tersebut, tampaknya Ia bukan sekedar Orang pada Tingkatan Surka, namun Ia memiliki kekuatan lain di belakangnya," ucap Raja Iblis, semua Pasukan Iblis mengangguk paham.
"Oh yah, sudah ada ketemu tentang jejak jejak keberadaan Kaisar Iblis?" tanya Raja Iblis, salah satu Pasukannya mengangguk maju.
"Menurut beberapa jejak dan informasi yang Hamba cari beberapa Hari ini, kemungkinan Yang Mulia Kaisar Iblis sudah berubah menjadi Roh Bela Diri dan jika informasi itu benar, kini Yang Mulia Kaisar Iblis menjadi Roh Bela diri Anak dari Patriak Sekte Matahari," lapor Iblis tersebut, Raja Iblis yang mendengar itu merasa bersemangat.
"Bukankah itu bagus, Patriak Sekte Matahari itu sering datang ke Istana, yang berarti Anaknya mungkin saja tak jauh jauh dari Kota ini," ucap Raja Iblis, Iblis tadi menggeleng.
"Sayang Yang Mulia, Patriak itu telah mengusir Anaknya beserta Pengasuhnya beberapa Tahun yang lalu karna menganggap Yang Mulia Kaisar Iblis yang ada di dalam tubuh Anak itu sebagai kutukan, kini keberadaan Mereka sama sekali tak di temukan," ucap Iblis itu, Raja Iblis menggertakkan gigi mendengar itu, Ia berusaha menahan amarahnya kemudian mengangguk.
"Baiklah, cari terus tentang keberadaan Anak itu dan yang lainnya jalankan juga rencanya seperti biasa," perintah Raja Iblis.
"Baik Tuan," ucap Pasukannya kompak kemudian melesat menghilang, Raja Iblis menghela nafas panjang.
"Kakak, Kau dimana?"
- - -