
Feng dan Rara berlatih 2 Hari penuh sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari Ruang latihan.
Feng yang sudah mendapat Informasi tentang Turnamen yang akan diadakan akhirnya penasaran dan berniat mengikutinya, Ia terlebih dahulu menambah waktu kamar tempatnya dan Rara menginap karna Turanamen akan diadakan 1 Pekan lagi.
Saat setelah menambah waktu sewa kamar, Feng tersentak kaget karna tiba tiba Di Mo sudah berdiri disebelahnya dengan wujud Roh nya.
Wajahnya tampak menunjukkan kesedihan yang Feng tentu saja tak mengetahui pasti apa itu.
"Ada apa?" Feng akhirnya memutuskan untuk bertanya.
"Huh... Tuan bolehkah Saya meminta tolong sekali lagi?" mohon Di Mo menundukkan kepalanya.
"Tentang?"
"Tolong amankan makam dan warisan Istri Saya," ucap Di Mo membuat Feng mengangkat sebelah alisnya bingung, Di Mo yang paham akan kebingungan Tuannya tersebut akhirnya mulai membuka suara.
"Tuan, sebenarnya Saya menghilang beberapa waktu ini berniat untuk pergi melihat Makam Istri Saya di Daratan Hitam. namun saat Saya sampai disana Saya tak dapat masuk karna ada Segel yang menahannya bahkan seorang pada Tingkat Surka Lapis 5 akan kesulitan memasukinya."
"Namun beberapa hari ini Saya mendengar akan ada seleksi Turnamen untuk memasuki Daratan Hitam dan banyak rumor yang telah beredar bahwa ada warisan didalam sana."
"Warisan yang Mereka maksud tentu saja warisan peninggalan Istriku, jadi Aku mohon kepada Tuan untuk membantu ku mengamankan warisan tereebut," mohon Di Mo sambil bersujud di kaki Feng membuat Feng tak tega.
"Baiklah, baiklah, Aku juga berencana mengikuti Turnamen tersebut," jawab Feng sambil tersenyum membuat wajah Di Mo langsung ceria.
"Terima kasih Tuan!" ucapnya senang sambil membungkukkan badannya, Feng menggeleng mendengar hal tersebut.
"Sebagai gantinya, Kau harus mulai mengajari Ku Ilmu tentang Alchemist," ucap Feng, Di Mo yang mendengar hal tersebut mengangguk antusias.
Pagi berikutnya, Feng dan Rara kembali ke Ruang latihan untuk kembali berlatih.
Rara langsung mengulang isi Kitab Teknik Hewan sedangkan Feng mencari tempat yang tepat bersama Feng kemudian memulai belajar Ilmu Alchemist nya.
"Tuan perlu dapat mengendalikan Api tersebih dahulu sebelum memulai pembuatan Pil," ucap Di Mo, Feng mengangguk kemudian mengeluarkan sebuah Api sebesar Bola Tenis di telapak tangannya.
"Apakah ini cukup?" tanya Feng, Di Mo menggeleng mendengarnya.
"Tuan juga perlu dapat mengendalikam suhu Api hingga 100%," ucap Di Mo.
"Coba Tuan keluarkan seluruh isi di Cincin Ruang yang ku berikan," lanjutnya, Feng mengangguk kemudian mengeluarkan Cincin Ruang yang diberikan Di Mo lalu mengeluarkan isinya.
Ia menahan nafasnya saat melihat Sumber Daya yang menggunung muncul dihadapannya, Di Mo sendiri tak fokus pada Sumber Daya tersebut melainkan sebuah bola kecil berwarna putih yang ada diantara Sumber Daya tersebut.
"Tuan dapat melatih pengendalian atas suhu Api Tuan menggunakan ini Tuan, bola ini merupakan bola yang akan meledak mengeluarkan asap jika Tuan membuat suhunya terlalu panas atau telalu dingin," jelas Di Mo sambil mengumpulkan satu persatu bola putih yang ada dinatara tumpukan Sumber Daya tersebut.
Di Mo kemudian mempraktekannya dengan meletakkan bola tersebut diatas telapak tangannya lalu membuat Api.
"Ini adalah suhu yang tepat, tak panas dan tak dingin namun jika Ia terlalu panas atau terlalu dingin," ucap Di Mo kemudian menaikkan suhu Apinya.
Boom!
Bola Putih itu tiba tiba meledak menjadi asap membuat Feng tersentak dibuatnya.
Feng yang penasaran kemudian mulai mencobanya dan hanya dalam beberapa detik dan..
Bom!
Meledak!
Hari sudah Sore saat Rara dan Di Mo memutuskan untuk beristirahat dari latihannya, namun Mereka berdua menyerit saat merasa udara disekitar Mereka berubah menjadi kabut putih.
Tiba tiba Di Mo teringat sesuatu dan menoleh, Rara yang penasaran juga ikut menoleh dan Mereka berdua terkejut melihatnya.
Tertanyata kabut putih itu berasal dari sekumpulan asap tempat Feng tadi belajar, Di Mo yang penasaran akan perkembangan Tuannya itu akhirnya melayang mendekat diikuti Rara yang berjalan dibelakangnya.
"Yeeeey, berhasil!" ucap Feng tiba tiba berteriak sambil keluar dari kumpulan asap tersebut.
Waaa!
Di Mo dan Rara terkejut hingga melompat kebelakang saat melihat Feng yang tiba tiba kekuar dengan tubuh berwarna putih sepenuhnya.
Mereka menatap satu sama lain kemudian tertawa melihat penampilan Feng yang tampak sangat lucu tersebut, sedangkan Feng malah mengartikan tawa Feng dan Di Mo sebagai kata selamat untuknya.
...- - -...
Hari berikutnya, Feng kali ini mulai mempelajari memurnikan Pil.
"Tuan hanya perlu memasukkan semua bahan kedalam Api Tuan lalu mencari Intinya dan membuang kotorannya," ucap Di Mo, Feng mengangguk kemudian membuat Api dan memasukkan semua bahannya lalu memusatkan untuk mecari Inti dari bahannya tersebut dan membuang kotorannya.
Hanya butuh waktu 1 Jam akhirnya Feng berhasil melakukannya kini dengan mudah dan akhirnya setelah 3 Jam, Di Mo memutuskan untuk mulai mempelajari membuat Pil.
"Leburkan satu persatu bahan yang Tuan sudah bersihkan kemudian campurkan lalu padatkan hingga membentuk sebuah Pil," ucap Di Mo, membuat Feng sedikit bingung.
"Bukankah harusnya Kita menggunakan tungku ya?" tanya Feng karna setaunya para Alchemist slalu menggunakan tungku saat membuat Pil.
"Sebenarnya memang kebayakan begitu Tuan, namun Aku menggunakan metode terbaik dan tersimple yaitu tanpa menggunakan tungku," ucap Di Mo membuat Feng menganguk anggukan kepalanya paham.
Feng pun dibawah bimbingan Di Mo mulai memasukkan satu persatu bahan yang telah Ia bersihkan kedalam Api yang Ia buat, Ia lalu mengatur suhu Apinya untuk meningkat agar dapat melebur bahan bahan tersebut.
Setelah semua bahan melebur, Feng perlahan mencampurkannya satu sama lain sambil menurunkan suhu Api perlahan lahan.
Perlahan sebuah Pil tampak terbentuk dari campuran tadi, dan Feng juga akhirnya menurunkan suhu Api hingga dingin untuk memadatkan Pil tersebut.
Setelah semua merasa selesai, Feng mematikan Apinya dan tampaklah sebuah Pil bening berwarna putih di telapak tangan Feng.
Pil itu mengeluarkan bau yang sangat pekat dan harum.
Prok.. Prok.. Prok...
"Selamat Tuan, Tuan berhasil membuat Pil Penyembuh Tingkat Rendah dengan kemurnian 100%, Kini Tuan adalah Seorang Alchemist," ucap Di Mo bertepuk tangan.
Feng tersenyum menatap Di Mo.
"Terima kasih juga karna telah membimbingku," balas Feng, Di Mo mengangguk kemudian menatap Feng.
Feng yang sudah paham akan tatapan Di Mo tersenyum menganggukkan Kepalanya.
"Tenang saja, Aku akan berusaha meng Amankan Makam dan warisan Istrimu " ucap Feng membuat Di Mo senang.
"Terima kasih Tuan!"
...- - - ...