
Ruang rapat Istana Kekaisaran Matahari
Seluruh Mentri dan Bangsawan kini tengah duduk berbincang bincang satu sama lain, kebanyakan Mereka bingung dan bertanya tanya mengapa Kaisar Yun mengumpulkan Mereka saat ini dan bahkan seluruh Bangsawan juga dipanggil.
"Ehem..," dehem Kaisar Yun membuat Mereka semua langsung diam dan tenang.
"Kalian pasti bingung kenapa Aku mengumpulkan Kalian saat ini, sebenarnya ada berita mengejutkan yang harus Ku sampaikan," ucap Kaisar Yun membuat seluruh dahi Orang Di Ruangan itu mengerut bingung.
Kaisar Yun menarik nafas dalam dalam lalu membuka mulutnya.
"Yun Feng masih hidup," ucap Kaisar Yun, Ruangan hening sejenak sebelum satu demi satu Orang Orang disana membuka lebar matanya dengan raut wajah terkejut.
"Maaf, Apakah Yun Feng yang Kaisar sebut barusan adalah Yun Feng si sampah Kekaisaran?" tanya salah satu Mentri.
"Ya, dan lagi Aku juga mendapat kabar dari Alchemist Tu bahwa Ia kini sangat kuat dan bahkan mampu membantai Bangsawan kecil dalam waktu 1 Malam," ucapan Kaisar lagi lagi membuat seluruh Orang Orang di ruangan itu kembali terkejut bahkan lebih terkejut dari sebelumnya.
Langsung saja ruangan itu ramai oleh bisik bisik satu sama lain membuat Kaisar Yun bertambah pusing lalu menepuk tangannya meminta perhatian.
"Baklah, Aku Kaisar Yun memberi Titah untuk menemukan Yun Feng dalam keadaan hidup atau mati," Titah Kaisar Yun diangguki seluruh Orang dalam ruangan itu dan setelah beberapa saat Mereka bubar untuk mengumumkan titah tersebut.
Dalam sekejap seluruh wilayah Kekaisaran Matahari digegerkan dengan titah Kaisar tersebut dan tentu saja berita itu sudah diketahui Feng.
...- - -...
Feng yang baru saja mendapat berita tersebut dari Informasi Semesta hanya cuek saja dan melanjutkan makannya.
Setelah makan, Feng memutuskan untuk ber Istirahat sejenak, Rara sendiri sudah asyik bermain dengan beberapa Hewan Kecil seperti Burung, Kelinci dan lainnya.
Feng yang bersandar pada pohon tersenyum menatap Rara dari kejauhan, namun senyuman itu membeku saat tiba tiba Ia merasa ada sesuatu yang memegang pundaknya.
Glek..
Feng menoleh dengan perlahan dan..
"Waaa..." Ia berteriak kaget sambil melompat kebelakang saat melihat ternyata yang memegang pundaknya adalah seorang Pria tua dengan wajah yang terlihat sangat jelek.
Pria Tua itu malah menatap Feng sambil tersenyum lalu berjalan perlahan ke arah Feng, detak jantung Feng semakin cepat saat melihat bahwa Pria Tua itu mengenakkan baju putih dan tubuhnya tampak transparan dan Ia melayang persis seperti Hantu lokal.
"Hey Nak kenapa Kau takut?" tanya Pria Tua itu, Feng yang mendengar itu tersentak lalu menghela nafas.
"Kau... Hantu?" tanya Feng ragu ragu, mendengar pertanyaan Feng membuat Pria Tua itu tertawa terbahak bahak.
"Hahaha... Tentu saja..Iya," wajah Pria Tua itu tiba tiba menjadi dingin lalu sepersekian detik selanjutnya Ia sudah berada didepan Feng dan mencekik leher Feng.
Feng meronta ronta mencoba keluar dari cekikan itu namun tak berhasil, alasannya Ia juga tak tau, namun rasanya badannya lemas setelah dicekik Pria Tua itu.
Feng menggertakkan giginya kesal lalu perlahan Aura kematian keluar dari tubuhnya, merasakan Aura kuat keluar dari tubuh Pemuda didepannya membuat Pria Tua tersebut terkejut dan langsung melepaskan cekikannya dan mundur beberapa meter.
Feng yang sudah terlepas dari cekikan Pria Tua itu tanpa berkata kata langsung melesat menuju Pria Tua itu sambil menyiapkan Tinjunya yang kini tampak berapi.
"Tinju Naga Api!"
Mata Feng terbuka lebar saat tau bahwa Tinjunya hanya melewati Pria Tua itu seperti melewati asap, Feng berbalik melonpat mundur beberapa langkah lalu menatap tajam Pria Tua yang kini tengah tersenyum tersebut.
Hening sesaat sebelum Feng menutup matanya lalu otaknya berputar mencari Ide hingga akhirnya Ia membukaatanya sambil tersenyum menyeringai ke arah Pria Tua itu.
Melihat senyuman Feng yang tampak berbeda dari senyuman senyuman sebelumnya membuat Pria Tua itu sedikit was was namun Ia berusaha menutupinya dengan senyuman juga.
Aura kematian keluar lebih banyak dari tubuh Feng dan seluruh Aura kematian itu Ia arahkan ke Pria tua tersebut.
Sesuai dugaan Feng, Pria tua tersebut tampak terkejut dan takut disaat bersamaan.
Pria Tua tersebut terus berusaha menghindar dari Aura kematian yang Feng arahkan padanya, namun Feng dengan mudah membuat jebakan dan hasilnya kini Pria Tua itu telah terjerat oleh Aura kematian milik Feng.
Feng perlahan berjalan menuju Pria tua yang tampak meronta ronta tersebut kemudian tersenyum.
"Kau hanya Jiwa tanpa tubuh," ucap Feng dengan nada sinis, mendengar itu membuat raut wajah Pria tadi terkejut.
"Jika Aku tak salah, sekarang tubuhmu ada namun sedang disegel bukan? dan Jiwa mu ini hanya akan tinggal bertahan beberapa Hari lagi," lanjut Feng lagi lagi membuat Pria tua itu terkejut.
Pria Tua itu tiba tiba langsung bersujud dihadapan Feng.
"Tuan! Tuan benar, tolong Saya Tuan, Aku bersumpah akan menjadi Pelayan Tuan jika berhasil membantuku!" ucapnya dengan nada memohon sambil bersujud.
Feng yang melihat itu tersenyum, lalu menggambar sebuah segel di udara, Segel itu kemudian dengan cepat memasuki tubuh Pria tua tersebut dan membuat Pria Tua itu terkejut.
"Baiklah, Aku akan membantumu dan Kau sekarang akan menjadi Pelayanku karna Aku telah menanam Segel Setia dalah diri mu," ucap Feng membuat Pria Tua didepannya lagi lagi tak dapat menyembunyikan rau wajah terkejut.
Bagaimana tidak terkejut, Pemuda 17 Tahun yang memiliki Aura yang dapat membuat Jiwa hancur, memiliki kekuatan, dan kecerdasan yang kuat serta Ia juga memiliki keterampilan penyegel.
Sekarang Pria Tua itu tampak lega karna telah mau mengikuti Pemuda didepannya walau sebagai Pelayannya saja.
"Dimana tubuhmu berada?" tanya Feng pada Pria tersebut.
"Mari ikuti Saya Tuan," ucap Pria Tua yang telah terbebas dari jeratan Aura kematian Feng dan melayang pergi.
"Ra! Ayo," panggil Feng, Rara yang masih asyik bermain lansung cemberut namun dengan patuh Ia bangkit dan menyusul Feng yang berjalan dibelakang Pria Tua tersebut.
Mereka terus berjalan hingga sampai di Hulu Sungai, Feng menyerit melihat hal tersebut lalu menatap tajam Pria Tua tersebut.
"Jadi Kau yang tadi menarik narik kaki Ku ya?!" Kesal Feng, Pria Tua itu mengangguk dengan cengengesan.
"Maaf Tuan," ucapnya kembali takut, Feng menghela nafas kemudian mengangguk sebagai balasannya.
"Sekarang, dimana tubuhmu?" tanya Feng, Pria Tua itu mengangguk lalu menunjuk ke Hulu Sungai.
"Disana Tuan, tapi selain di Segel juga dijaga oleh Hewan Buas Tingkat Tinggi yaitu Buaya Mata Satu," ucap Pria Tua tersebut ragu ragu melihat pada Feng.
Feng tersenyum melihat Pria tua itu yang sepertinya tampak meragukan kekuatannya.
...- - -...