The System

The System
Gadis Kecil



"Ngapain mata matain Kami?!"


Resepsionis itu tersentak kaget mendengar suara tersebut. Ia langsung membalikkan badannya dan telah menemukan Rara yang sedang duduk di atas atap, tak menatapnya sama sekali.


"Sejak kapan Dia disitu? Kenapa Aku sama sekali tak menyadarinya," gumam Resepsionis itu sambil mundur beberapa langkah, menatap Rara waspada.


"Jika Kau bisa menyembunyikan kekuatanmu, mengapa Aku tak bisa menyembunyikan langkah kakiku?" balas Rara, membuat Resepsionis itu terdiam.


Keheningan panjang kemudian terjadi antara Mereka, Rara tak lagi mengucapkan apa apa dan hanya memandang pemandangan rumah rumah di depannya sedangkan Resepsionis itu memutar otaknya, langkah apa yang Ia harus lakukan selanjutnya? Apakah Ia harus melawan? Namun Ia tak tau seberapa besar kekuatan Orang di depannya.


"Kau cukup pintar, Aku menghargai itu. Pergilah, Kau tak akan menang melawanku," ucap Rara seakan bisa membaca pikiran Resepsionis itu, melambaikan tangan mengusirnya.


Resepsionis itu dengan patuh mengangguk dan berbalik melesat pergi dengan cepat. Rara melirik kepergian Resepsionis itu dengan ujung matanya kemudian menggeleng kecil.


Resepsionis itu dengan cepat menuju kamarnya dan memperhatikan tangannya yang masih gemetaran. Ia sudah berusaha menenangkan dirinya namun tangannya masih gemetaran, seberapa menakutkan Mereka sampai membuat dirinya sendiri bahkan ketakutan sampai tak bisa dikendalikan.


Ia menghela nafas, berusaha melupakan kejadian barusan dan segera mengganti bajunya dengan baju kerja seperti biasa dan berjalan keluar kamar dengan tenang. Namun baru saja melangkah keluar Ia sudah dikejutkan dengan Orang yang lewat di depannya.


"Lain kali jangan memata matai Orang seperti itu, lebih baik tanyakan langsung," ucap Feng yang berjalan melewatinya sambil membawa sebuah nampan berisi 2 cangkir minhman hangat. Resepsionis itu terdiam, Ia tak akan mencari masalah lagi dengan 2 Orang ini.


...- - -...


Pagi hari datang menyapa, sinar matahari bersinar terang membangunkan setiap Orang dari tidur panjangnya termasuk Feng dan Rara.


Mereka sudah terbangun sedari tadi dan sedang bersiap siap ingin berjalan jalan di kota tersebut.


"Sudah Ra?" tanya Feng. Ia sudah siap dengan setelan jubah selutut berwarna perak, dan celana hitam. Ia memakai ini karna menurut yang Ja perhatikan kemarin, Orang orang di Alam Dewa ini rata rata menggunakan jubah untuk pakaian sehari hari Mereka.


"Udah... Gimana Feng Gege? Rara cantik gak?" tanya Rara yang sedari tadi mematutkan dirinya didepan cermin kemudian berbalik menatap Feng sambil tersenyum manis, Feng terpana sejenak melihat kecantikan Rara, dengan jubah berwarna putih, dengan corak kupu kupu di beberapa sisinya. Rambut yang Rara gerai dan sebuah penjepit rambut yang Ia kenakan di ujung dahinya.


Itu benar benar membuat dirinya tampak sangat cantik dan menawan, bahkan Feng pun terpana dibuatnya. Namun kemudian Feng menyadari satu hal, Ia berjalan mendekati Rara kemudian merengkuh penggangnya, membuat Rara tersentak kaget. Feng mendekatkan wajahnya ke telinga Rara dan berbisik.


"Siapa yang mengajari Rara berdandan hm?" tanya Feng sambil meniup telinga Rara, Rara terdiam, mukanya memerah tubuhnya memanas.


"G-gak ada... Ini bu-at Feng Gege," jawab Rara terbata bata, Feng menghadapkan wajahnya ke wajah Rara dan menatap matanya mencari kejujuran disitu. Rara jujur, Feng dapat melihat dari matanya. Ia tersenyum kemudian...


Cup...


Feng mencium Rara dalam, Rara tersentak kaget namun menerima ciuman itu bahkan mulai belajar membalasnya.


"Oh, selain belajar berdandan ternyata iuga udah mulai belajar berciuman ya?" tanya Feng menggoda begitu Mereka melepaskan ciuman panjang Mereka.


"Iiih... Feng Gege..." kesal Rara menutup mukanya karna malu kemudian mencubit pinggang Feng. Feng tersentak kesakitan di cubit Rara.


"Awh... Sakit," ucap Feng mengusap pinggangnya.


"Tau sakit? salah siapa malah godain Rara, hmph," kesal Rara bercampur malu kemudian berjalan cepat keluar kamar. Feng tersenyum melihat sikap Rara yang malu malu tersebut dan segera berjalan mengikuti Rara.


Feng memandang Rara sedangkan Rara mengangkat kedua bahunya. Feng menatap sekitarnya sejenak kemudian beralih kembali menatap Resepsionis itu.


"Bagaimana dengan nanti sore, Restoran ini masih ramai, lagipula Aku dan Istriku ingkn berjalan jalan pagi ini," jawab Feng, Resepsionis itu segera mengangguk.


"Baiklah Tuan, terima kasih banyak," ucap Resepsionis itu, Feng dan Rara kemudian segera berbalik berjalan pergi diikuti tatapan Resepsionis itu dari belakang.


"Mereka Suami Istri? Cepat sekali menikah, padahal masih sangat muda," gumam Resepsionis itu sedikit terkejut. Namun kemudian Ia menggeleng, itu tak penting ada hal penting yang Ia harus lakukan terlebih dahulu.


Ia segera memasuki kamarnya dan mengganti bajunya, tatapannya berubah menatap cermin.


"Aku harus mengetahui kebenarannya," gumamnya dengan tatapan dingin.


...- - -...


Semua tatapan Orang dijalanan menuju arah Feng dan Rara, Feng dan Rara menyadari itu dan saling memandang bingung. Bukankah Mereka sudah memakai pakaian yang sama seperti yang di gunakan Orang orang itu, tapi mengapa tatapan Mereka masih tertuju pada Mereka?


"Kak, Kakak sama Abang sangat cantik dan tampan," seorang Anak Perempuan datang dan memberikan setangkai bunga pada Rara. Rara menerimanya dan mengelus kepala Anak Perempuan itu.


"Benarkah?"


"Iya! Kalau gak percaya liat aja Orang orang, semuanya ngelihatin Kakak sama Abang, cuman Mereka malu buat bilang itu," cerocos Gadis kecil itu menggebu gebu, Feng dan Rara saling memandang kemudian tertawa kecil.


"Oh ya, kalau begitu kenapa Kamu gak malu bilangnya?" tanya Rara, Gadis itu langsung terdiam kemudian menatap Rara berharap.


"Aku juga mau secantik Kakak!" ucapnya penuh harapan, Rara tersenyum manis melihat tatapan berharap Gadis kecil itu.


"Bisa, Kamu bisa kok secantik Kakak."


"Beneran Kak?! Gimana caranya?" tanya Gadis kecil itu dengan penasaran, Rara mengangguk tersenyum.


"Pertama, Kamu harus..." Rara mulai menjelaskan sesuatu pada Gadis kecil itu dengan pelan pelan dan lembut. Feng yang melihat pemandangan itu merasa tersentuh.


"Apakah sudah saatnya untuk memiliki Anak?" gumam Feng, sikap Rara ini sudah benar benar tampak seperti seorang Ibu dan lagi tak ada salahnya jika Mereka segera memiliki Anak bukan?


"Ok! Aku bakal lakuin semua Kakak yang bilang terus nanti jadi Wanita paling cantik di kota ini!" ucap Gadis kecil itu menggebu gebu, Rara tertawa kecil menepuk kepalanya pelan.


"Jangan lupa saran terakhir," ingat Rara, Gadis kecil itu mengangguk cepat kemudian menatap Feng berbinar binar. Feng memiringkan kepalanya bingung melihat tatapan Gadis kecil tersebut.


"Aku juga akan mencari laki laki sesempurna Abang untuk menjadi Kekasihku nanti," ucapnya, Feng ikut tersenyum mendengar ucapan Gadis kecil tersebut.


Gadis itu tersenyum manis dan berterima kasih pada Rara kemudian berbalik berjalan pergi sambil melambaikan tangannya. Rara memabalas lambaian tangan tersebut sambil tersenyum.


...- - -...