
Perang melawan Kekaisaran Bintangpun selesai, seluruh Pasukan Kekaisaran Bintang terbantai tanpa tersisa satupun, hal itu tentu saja membuat sebuah kejutan yang sangat besar bagi seluruh penjuru Negri, semua Orang membicarakan hancurnya Kekaisaran Bintang di karenakan berperang melawan "Dewa". Hal itu tentu saja juga sangat berpengaruh pada Kekaisaran Bintang sendiri, apalagi setelah Kaisar, Jendral, dan 2 Leluhur yang menjaga Kekaisaran Bintang mati, kini berbagai kelompok mencoba merebut tahta Kekaisaran membuat Kekaisaran merapatkan diri menjaga Istana.
Di sebuah Ruangan tahta, duduk seorang Laki laki, umurnya sendiri berkisar antara 20 tahunan, masih terlalu muda untuk duduk ditempat yang Ia duduki sekarang. Ia adalah Putra Mahkota Kekaisaran Bintang yang kini telah naik menjadi Kaisar Kekaisaran Bintang setelah matinya sang Ayah.
"Pangera-, maaf, Kaisar, apa yang harus Kita lakukan sekarang? Setelah kematian Ayah Kaisar serta Jendral dan Leluhur, kini kekuatan Kekaisaran berkurang drastis, juga banyak kelompok yang mencoba ingin merebut tahta," ucap Penasihat Kaisar tersebut, Pangeran yang kini menjadi Kaisar itu hanya terdiam sejenak. Marahdan dendam tentu saja dirasakan Kaisar Muda tersebut, namun berbeda dengan Ayahnya yang berpikiran pendek, Ia selalu menimbang matang matang atas segala keputusan yang Ia buat.
Kaisar Muda itu sadar akan betapa kekuatan yang dilawan Ayahnya, hingga Ia tak bisa langsung mengambil keputusan untuk melawan balas, apalagi Ia juga sudah tau berapa banyaknya kelompok yang memburunya agar bisa menduduki tahta.
"Sementara, kerahkan seluruh Pasukan untuk melindungi wilayah Istana dan sekitarnya, suruh berkumpul juga Panglima panglima untuk menjaga Istana," ucap Kaisar Muda itu dengan mata tajam dan dingin.
"Baik Kaisar!" jawab Penasehat itu patuh lalu berjalan keluar ruangan untuk menjalankan tugasnya.
"Siapapun Kau! Mau Kau Dewa sekalipun! Akan Ku balas dirimu! Akan Ku balas atas kematian Ayahku! Tunggu saja!" ucap Kaisar Muda itu dengan nada dan mata yang dipenuhi dendam yang dalam.
- - - - -
"Hachu!"
"Feng Gege sakitkah?" tanya Rara yang terkejut saat Feng bersin secara tiba tiba, Feng menggeleng mengelus kepala Rara yang sedang tertidur di pangkuannya sambil tersenyum lembut.
"Tidurlah, besok Kita harus segera bersiap siap untuk kembali ke Daratan Hitam," ucap Feng, Rara mengangguk dengan patuh kemudian menutup matanya menikmati setiap belaian tangan Feng di kepalanya, tak perlu waktu lama sebelum akhirnya Rara pergi menuju mimpi.
Feng kemudian mengangkat Rara dan menidurkannya di atas kasur sedangkan Ia sendiri kemudian masuk ke Dunia tempat Pasukannya tinggal. Pasukan Feng yang sedang bersantai beristirahat karna kelelahan setelah Perang tadi langsung bangun begitu melihat Kaisar yang Mereka bahkan anggap sebagai Dewa Mereka itu datang.
"Salam Kaisar!" ucap seluruh Pasukannya termasuk Pasukan Hewan Buasnya, Feng mengangguk kemudian dengan Qi nya, Ia terbang beberapa centi dari tanah agar Ia dapat meliat seluruh Pasukannya.
"Baiklah! Ada sebuah pengumuman penting yang ingin Ku sampaikan! Pertama, Aku cukup puas dengan Perang yang terjadi beberapa waktu lalu, maka sebagai hadiah, kini Aku telah membuat Dunia ini bebas untuk keluar masuk bagi Kalian sehingga Kalian bisa berlibur atau pergi kemana saja. Kedua, dalam waktu dekat ini Aku akan pergi dalam jangka waktu yang tak ditentukan untuk berlatih, jadi selama Aku pergi, Aku menunjuk Kakak Iparku, Wanwan sebagai Pemimpin Kalian semua dan Lin Shan sebagai Wakilnya, paham?" ucap Feng.
"Kemudian, Aku tidak ingin mendengar saat Aku selesai latihan bahwa ada beberapa masalah yang Kalian sebabkan walau hanya sekecil debu, atau..," Feng mengeluarkan sedikit aura kematiannya membuat seluruh Pasukan gemetar karna takut.
"Baiklah, Aku harap Kalian mengingat apa yang Ku sampaikan," ucap Feng kemudian turun dan berjalan menuju Istana miliknya, sambil berjalan, Kakak Iparnya, Wanwan datang menghampirinya.
"Feng, Kau akan pergi lagi bersama Rara?" tanya Wanwan, Feng tersenyum tipis mengangguk.
"Bisakah Aku berbicara dengan Adikku sebelum Kalian pergi," ucap Wanwan, Feng tersenyum tau karna walau Rara dan Wanwan sudah bertemu namun hanya sekali kali karna Wanwan sibuk oleh latihannya sedangkan Rara juga lebih nempel ke Feng.
"Tentu saja Bang, besok Pagi Abang bisa bermain bersama Rara, karna kalau sekarang Rara sudah tidur," ucap Feng, Wanwan tersenyum lembar mengangguk semangat.
"Baiklah, Terima Kasih," ucap Wanwan kemudian melesat pergi, Feng hanya tersenyum melihat betapa sayang dan kangennya Wanwan terhadap Rara.
- - -
INFO :
Assalamualaikum...
Akhirnya, setelah sekian abad penantian Novel ini bisa kembali lanjut :)
Saya sebagai Penulis Novel ini tentu saja meminta maaf sebesar besarnya karna baru kembali melanjutkan Novel ini, namun sebagai permintaan maaf, Saya akan berusaha untuk terus meng up Novel ini, maka sekali lagi Saya minta maaf:)