
Feng sudah bersiap ingin mengeluarkan seluruh tenaganya untuk melawan Ratu lobster berserta anak anaknya ini saat sebuah serangan datang dan membunuh sebagian Lobster mata tiga disekitarnya.
"Tebasan harimau putih!" sebuah suara yang sangat familiar bagi Feng terdengar diikuti serangan yang nembunuh lobster lobster mata tiga tersebut.
"Feng gege!" teriak Rara senang karna kembali bertemu suaminya tersebut. Ia langsung melesat memeluk Feng erat, begitu juga Feng. Rara kemudian menatap lobster lobster mata tiga sekitarnya lalu tatapannya berhenti kepada Ratu lobster yabg paling besar. Ia sepertinya sudah memahami situasi dan menatap Feng serius.
"Biar Rara yang urus anak anaknya, Feng gege kalahin aja pemimpinnya langsung," ujarnya serius, Feng yang melihat tampang serius Rara tersenyum mengangguk yakin. Rara langsung mengeluarkan pedangnya dan menatap lobster lobster mata tiga disekelilingnya itu.
"Tarian Pedang Naga!"
"Tarian satu : Cakar Naga!"
Zrasssh... Zrasssh... Zrash...
Feng yang melihat Rara sudah memulai pertarungan tersenyum mengangguk, Ia sedikit terkejut melihat Rara yang bertarung serius seperti itu. Feng kembali bersemangat kemudian menatap Ratu Lobster didepannya kini, Ia memegang tombaknya dengan erat mengacungkannya ke arah Ratu lobster tersebut.
"Baiklah, mari Kita selesaikan ini dengan cepat udang kecil!" ucapnya, kemudian melesat maju menyerang Ratu oobster tersebut.
Trang... Trang... Trang... Bunyi aduan antara tombak dan kulit ratu lobster itu terdengar cukup keras. Ratu lobster itu cukup pintar karna Ia tau pertahanannya cukup kuat sehingga Ia tak lagi berusaha menahan atau menghindari serangan Feng. Sebaliknya, Ia justru memanfaatkan kesempatan itu untuk balas menyerang Feng.
Ctakk! Salah satu capitnya Ia gerakan untuk mencapit Feng, Feng dengan lincah menghindar dengan melompat terbang. Namun sesaat Ia masih berada di udara, mata mata ratu cahaya itu bersinar terang. Feng terkejut, melihat strategi Ratu Lobster ini, Ia kini benar benar tak dapat menghindar karna Ia berada di udara dari serangan tembakan cahaya Ratu Pobster tersebut.
Booom! Tembakan cahaya itu tepat mengenai Feng dan meledak, mencipatakan asap yang besar. Rara yang masih bertarung sempat melirik itu dan terkejut dengan apa yang Ia lihat.
"Feng gege!" teriaknya cemas, Ia kemudian menatap Ratu Lobster marah dan berniat menyerangnya namun Ia terhalang oleh Lobster lobster mata tiga yang banyak sehingga mau tak mau Ia debgan membabi buta membunuh lobster lobster mata tiga tersebut.
Ratu Lobster sendiri yabg merasa bahwa Ia sudah menang, langsung berbalik, berniat kembali kedalam air.
"Hei, pertarungan Kita belum selesai," sebuah suara membuat gerakannya terhenti. Kabut asap diudara tadi menghilang memperlihatkan Feng dengan dua buah sayap hitamnya dan tombak yang bersinar ditangannya.
"Kau cukup kuat dan pintar, benar benar tak salah Aku memilihmu menjadi bawahanku," Feng tersenyum memijakkan kakinya ke tanah kemudian menutup matanya.
Ia bergerak, memutar tombak ditangannya layaknya sebuah tarian namun setiap gerakannya Orang orang termasuk Ratu Lobster, merasakan bahwa setiap gerakannya semakin kuat dan ngeri aura dan kekuatan yang akan Feng keluarkan. Ratu Lobster tau Ia tak sempat lagi kembali ke air maupun bertahan sehingga Ia dengan nekat maju menyerang Feng.
"Terlambat," gumam Feng membuka matanya kemudian tersenyum tipis.
Feng mengambil kuda kuda pada gerakan akhirnya tersebut dan menarik tombaknya, sebuah siluet besar keluar dari dalam tombak tersebut. Siluet Naga, Manusia dan terakhir siluet Tombak itu sendiri keluar silih berganti.
Wushhh....
Zrasssshhhhh......
Feng melemparkan tombaknya tepat ke arah Ratu Lobster tersebut. Namun tombak itu sama sekali tak menusuknya.
Lebih dari itu, Tombak itu tanpa bisa Ratu Lobster hindari memotong tubuhnya dengan sempurna dari ujing ke ujung, benar benar memisahkan kedua tubuhnya. Bahkan meski begitu, tombak itu tak juga berhenti setelah membelah Ratu Lobster tersebut dan mekesat cepat.
BOOOM! Tombak itu baru berhenti beberapa saat setelahnya, namun efeknya benar benar bahkan membuat Feng sendiri terkejut dibuatnya. Lihatlah, kini sebuah lubang besar yang bahkan nampak seperti aliran sungai yang kering terpampang jelas di hadapannya. Feng sendiri tak menyangka bahwa niat tombaknya benar benar memiliki kekuatan sedahsyat itu. Ia mengangkat tangannya, kemudian tombak yang tertancap ke tanah itu tercabut dan terbang menuju genggaman Feng, Ia kemudian menyimpannya di penyimpanannya.
Melihat Ratu mereks sudah mati tetntu saja membuat lobster lobster mata tiga itu lari ketakutan. Rara awalnya ingin mengejarnya namun ditahan oleh Feng dengan alasan bahwa Mereka masih banyak gunanya, tentu saja hal tersebut dipatuhi Rara. Feng sendiri kemudian berjalan mendekati mayat Ratu Lobster tersebut dan menatapnya.
"Mayatnya rusak dan terbelah dua seperti ini, masih bisakah dihidupkan?" tanya Feng pada Dewa kematian melihat mayat Ratu Lobster yang telah terbagi menjadi dua bagian.
"Tenang saja, selagi belun ada bagian tubuhnya yang banyak hilang, itu masih bisa dibangkitkan kembali," jelas Dewa kematian, Feng mengangguk kemudian duduk didepan mayat Ratu Lobstet tersebut dan meletakkan telapak tangannya ke bangkai Ratu Lobster didepannya.
Aura Qi berwarna hitam keluar dari telapak tangan Feng tersebut dan perlahan menyelimuti bangkai Ratu Lobster tersebut. Hingga Qi warna hitam itu sudah terbalut sepenuhnya.
"Jurus Mayat Hidup!" Bangkai Ratu Lobster yang sudah dibungkus Qi berwarna hitam itu perlahan mengeluarkan sinar. Feng duduk diam, memfokuskan dirinya untuk menggunakan jurus mayat hidup tersebut. Feng benar benar merasakan bahwa Qi nya berkurang dengan cepat setelah menggunakan jurus ini.
"Qi mu cepat habis karna mayat yang Kau bangkitkan merupakan mayat pada tingkat Langit lapis akhir, sehingga itu benar benar menguras Qi mu," jelas Dewa kematian tentang alasan mengapa Qi Feng cepat sekali terkuras setelah menggunakan jurus itu. Feng mengangguk paham endengar penjelasan Dewa Kematian dan kembali memfokuskan pikirannya menggunakan jurus mayat hidup kembali.
Rara yang merasakan bahwa Qi Feng berkurabg dengan cepat setelah menggunakan jurus itu merasa cemas. Ia kemudian duduk dibelakang Feng dan menempelkan telapak tangannya ke punggung Feng, menyalurkan Qi nya kepada Feng.
Di puncak Gunung Dunia...
Seekor burung besar berwarna merah dan biru dengan kedua belah sayap besar yang tengah tertidur itu tiba tiba membuka matanya. Ia langsung menatap kedekatnya, dimana terdapat 3 buah patung dan salah satu patung yang baru saja hancur. Ia nampak terkejut melihatnya.
"Lobster kecil itu mati? Siapa yang membunuhnya?" gumamnya menatap tajam patung itu. Namun sekejap Ia merasakan aura samar samar yang terasa familiar dan juga asing secara bersamaan. Burung besar itu diam sejenak berfikir kemudian menatap kedua patung lainnya.
"Aku akan memperhatikan terlebih dahulu, kuharap pembunuh lobster kecil itu juga membunuh dua lainnya," gumamnya kembali berbaring dan menutup matanya.